2 tahun lalu · 402 view · 8 menit baca · Agama sufi.jpeg
www.pexels.com

Cara Termudah Merengkuh Pasangan Saleh-Salehah ala Sufi

Tulisan ini penting diketahui oleh para lelaki/wanita yang tengah terdampar kedalam bahtera "ketunggalan"—kalau enggan berkata kejombloan—dan tak kunjung mendapatkan pasangan yang diimpikan. 

Sepanjang hidup saya, tak ada cara termudah dan paling tepat sasaran dalam mengidentifikasi kesalehahan seseorang kecuali melalui cara yang satu ini. Cara ini bisa dibuktikan keabsahannya baik secara teologis maupun secara empiris. 

Sungguh, ini adalah cara termudah untuk menakar kesalehahan seseorang baik laki-laki maupun wanita. Kelak bisa anda buktikan sendiri kebenarannya. 

Saya tahu, tidak semua laki-laki rela mengorbankan waktu untuk meliuk-liuk dengan seribu cara demi memastikan kesalehahan seorang wanita. Ada di antara mereka yang menempuh cara-cara yang instan saja. Karena proses yang panjang kadang terasa melelahkan. 

Sudah begitu, umumnya kalau proses "pengenalan" dan "penyelarasan" karakter selama berpacaraan itu kelamaan, tak jarang biasanya hubungan yang sudah dirajut dengan setumpuk pengorbanan itu berujung dengan nestapa dan kegalauan, jika hubungan mereka retak dan berakhir di tengah jalan. 

Bukankah demikian? Pasti, tak ada keraguan. Dan kegalauan itu rasanya sangat “menjijikan”. 

Nah, setelah sedikit merasakan dan mengarungi dunia sufisme Islam, sekarang saya sadar bahwa ternyata mengidentifikasi atau membuktikan kesalehahan perempuan itu ternyata tak terlalu sulit sebagaimana yang dibayangkan. 

Sekali lagi, saya katakan, mengidentifikasi kesalehahan seorang wanita itu tak sulit. Yang sulit itu ialah mencari "kesesuaian". Maksudnya apa? 

Begini. Dalam hemat saya, memilih wanita itu, di satu sisi, hampir mirip—walau tak sepenuhnya mirip—dengan membeli baju di toko baju yang menyediakan corak baju yang beraneka ragam. Ingat, tak semua baju yang bagus, mahal, indah dan menawan itu harus anda beli dan anda simpan. 

Sebagaimana tak semua baju yang murah, kualitas rendah, dengan harga pas-pasan itu harus anda abaikan. Sebab, yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih baju ialah "kesesuaian dan kenyamanan". 
Kalau ada yang mahal dan indah namun sesuai dengan ukuran, tentu itulah yang akan menjadi pilihan apalagi kalau anda memiliki setumpuk dolar. 

Tapi kalau di tempat tersebut semua baju yang mahal dan indah bagi anda terlalu lebar, maka pasti anda akan memilih baju dengan kualitas lebih rendah dengan kualitas pas-pasan, karena yang penting ialah baju tersebut sesuai dengan ukuran badan dan kalau dipakai membuat anda nyaman. Bukankah demikian? 

Apa jadinya kalau anda membeli baju seharga setengah juta tapi ukurannya terlalu lebar? Yang mana yang lebih anda pilih: membeli baju yang berharga pas-pasan tapi sesuai dan membuat anda nyaman, atau membeli baju yang mewah dan mahal tapi justru tidak pas dan membuat anda tidak nyaman? 

Nah, dalam soal memilih perempuan pun—pada hemat saya—hal yang sama berlaku demikian. Tidak semua wanita yang salehah itu bisa anda nikahi dan anda simpan, sebagaimana wanita yang berparas pas-pasan tak selamanya harus anda abaikan. Karena yang anda cari dalam konteks keberpasangan ialah "kenyamanan" dan "kesesuaian". 

Tak selamanya perempuan salehah itu sesuai. Meskipun, jika perempuan itu adalah perempuan salehah, biasanya memang lebih mudah untuk disesuaikan. Nah, sekarang kita akan memberi satu tips penting dalam mengindentifikasi kesalehahan seorang wanita. 

Ingat, cara ini hanya berfungsi untuk mengidentifikasi "kesalehahan" seorang wanita saja. Soal kesesuaian, karakter, gaya hidup, dan lain-lainnya itu lain perkara. 

Bagaimana dengan seorang wanita yang tengah mencari pasangan laki-laki? Tentu cara ini juga berlaku bagi mereka. Tidak diragukan lagi! Saya menggunakan kata wanita karena kebetulan saya laki-laki. Walakinna al-Khithâb 'amm li al-Jami'. 

Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa dengan memilih wanita salehah itu anda pasti akan bahagia. Karena, seperti yang saya sampaikan tadi, tak selamanya perempuan salehah itu sesuai dengan karakter kita dan sesuai dengan selera yang kita inginkan. 

Ada perempuan salehah yang, misalnya, bicaranya kaku dan tak bisa ajak bercanda ria. Padahal, misalnya, anda mengharapkan wanita yang humoris yang hidupnya penuh canda-tawa. 

Tapi intinya, sekali lagi, jika kesalehahan itu sudah bisa dibuktikan, maka soal pertimbangan-pertimbangan lain yang saya sebutkan di atas itu akan lebih mudah untuk anda "restorasi" dan anda selaraskan. 

Lantas, apa cara termudah untuk menerawang kesalehahan seorang wanita itu? Jawabannya mungkin tak bisa anda terima karena terkesan simplistis. Tapi saya bisa membuktikan keampuhannya, baik secara teologis-sufistis, maupun secara empiris. Apa cara tersebut? 

Ya, bagi saya, cara termudah untuk menerawang kesalehahan seorang wanita ialah: memverifikasi dengan teliti dan benar terkait sejauh mana kecintaan dan ketergantungannya (al-Hubb wa al-Ta'alluq) kepada Nabi Muhammad Saw. Itu saja. 

Jika poin itu sudah bisa anda verifikasi dengan teliti dan benar—bisa melalui orang ketiga, misalnya, atau melalui temannya, saudaranya, ayah-ibunya, atau dengan cara-cara yang lain—niscaya perempuan itu adalah perempuan salehah. 

Tanyakan saja pada orang yang tahu kesehariannya. Berapa banyak ia bersalawat kepada Rasulullah Saw dalam sehari. Kalau, misalnya, kawannya berkata: "Oh kalau dia biasanya 10.000 kali dalam sehari". Wah, saya sarankan, apalagi kalau yang bersangkutan termasuk perempuan dengan paras yang menawan, untuk segera di lamar karena kalau tidak, "penundaan" anda akan berujung dengan penyesalan. 

Jika kriteria anda hanya "kesalehahan" saja loh ya. Soal kesesuaian itu perkara lain. Tapi ingat, sekali lagi, perempuan salehah atau laki-laki yang saleh itu akan lebih mudah untuk disesuaikan. Tenang saja. Meskipun membutuhkan waktu. Semua itu bisa dilakukan sambil berjalan. 

Atau, misalnya, anda menyimak dari kawan dekatnya bahwa dia hobinya itu hampir berjam-jam duduk membaca sirah Nabi. Salawatnya pun sekian ribu, misalnya, meskipun tak sampai 10.000 seperti yang tadi. 

Nah, intinya, salah satu—saya tidak mengatakan satu-satunya—parameter kesalehahan seorang perempuan itu ialah poin yang saya sebutkan tadi: yakni kecintaan dan ketergantungannya yang mendalam kepada Nabi Saw. 
Bukankah ini lebih mudah sehingga anda tak perlu lama-lama berpacaran sehingga menghabiskan waktu, harta dan energi, demi membuktikan sesuatu yang sejujurnya bisa dibuktikan dengan cara mudah seperti tadi? 

Nah, sekarang, bagaimana kita menganalisis cara ini dari sudut pandang para sufi. Saya khawatir anda akan lelah membaca tulisan ini jika uraiannya didedahkan sepanjang ekor sapi. Tapi intinya begini. 
Pertama, dalam tradisi Tasawuf itu dikenal sebuah diktum yang menyatakan bahwa: "iktsar al-Shalat wa al-Salam 'ala al-Nabiyy bâb min abwâb al-Wilayah" (memperbanyak bacaan salawat dan salam kepada Nabi itu merupakan salah satu pintu kewalian). 

Itu sebabnya, hampir tak akan pernah anda temukan Mursyid dari tarekat sufi manapun di dunia ini yang tak mewasiatkan muridnya untuk memperbanyak bacaan salawat kepada Nabi Saw. 

Sebab, salawat itu dapat menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi. Dan kecintaan kepada Nabi itu akan memudahkan langkah seorang salik untuk sampai kepada Yang MahaSuci. 

Bahkan, Syekh Yusri—sebagai seorang sufi yang keilmuannya tak diragukan lagi—dengan tegas pernah berkata: "kullu bab al-Wushul ilallah mughlaq illa bab al-Nabiyy" (setiap pintu menuju Allah itu tertutup kecuali melalui pintu Nabi). 

Saya yakin, tak akan ada di antara anda yang menolak untuk memperistri atau bersuami dengan seseorang yang sedang mendaki jalan para wali, apalagi jika dia benar-benar seorang wali, dengan paras wajah yang, misalnya, sangat sulit untuk dicari. Nah, itu pertama poin pertama yang harus kita yakini. 

Kedua, salawat kepada Nabi itu—seperti yang pernah disampaikan oleh Syekh Yusri—merupakan salah satu cara untuk menjernihkan kekeruhan akhlak umat Islam masa kini. Sebab—kata Syekh Yusri lebih lanjut—jika seorang Muslim/Muslimah memperbanyak bacaan salawat kepada Nabi, maka akhlak dan perangai Nabi itu perlahan dan sedikit demi sedikit akan terpatri dalam hati. 

Pertanyaan saya: adakah di antara anda yang menolak untuk memperistri perempuan/laki-laki yang akhlaknya "hampir" menyerupai—meskipun tak akan pernah menyerupai—Nabi? Pasti tidak akan ada sama sekali. Nah, ini penjelas teoritisnya dari kacamata para sufi. Selanjutnya, bagaimana cara ini bisa dibuktikan keabsahannya secara empiris. 

Apa yang dikatakan Syekh Yusri itu sepenuhnya saya amini. Karena saya sudah membuktikan sendiri. Ingat, saya ingin beri satu bocoran lagi. Keliru kalau anda mempertimbangkan kesalehahan seorang perempuan/laki-laki itu dengan ukuran hafalan kitab suci. 

Saya mohon anda tak berburuk sangka kepada saya yang bodoh ini. Saya mengatakan demikian bukan berarti hendak mengatakan bahwa menghafal kita suci tak terpuji. 

Jelas menghafal kitab suci sesuatu yang sangat dicintai oleh yang menuruhkan kitab suci itu sendiri. Tapi ingat, anda tak akan pernah cukup berpegang teguh kepada kitab suci, karena anda masih membutuhkan rasa cinta dan ketergantungan yang mendalam kepada Nabi yang diturunkan kepadanya kitab suci. 

Syekh 'Ali Gom'a—Anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar—pernah berkata: "Wallâhi la yatimmu al-Tahîd illa bi al-Nabiyy" (Demi Allah, tauhid seseorang itu tak akan pernah sempurna kecuali dengan Nabi) 

Saya hidup di asrama yang sebagian penghuninya adalah orang-orang Wahabi. Anda tahu sendiri orang-orang Wahabi. Banyak dari mereka yang hafal al-Quran, tapi karena mereka Wahabi, dan ajaran Wahabi itu tak pernah menitik-tekankan pada pentingnya mencintai Nabi, seperti yang dilakukan oleh para sufi, akhirnya ya begitulah yang terjadi. 

Saya malu untuk membocorkan "kesuraman" akhlak mereka dalam tulisan ini. Karena mereka masih umat Nabi. Dan Nabi melarang kita untuk membocorkan aib saudara kita sendiri. Kalau anda tahu seluk-beluk Wahabi, saya yakin, anda pasti paham dengan isyarat yang saya sampaikan tadi. 

Tapi, yang menarik, saya tahu, ada beberapa kawan yang rajin bersalawat dan mengikuti majlis-majlis pujian kepada Nabi, itu akidahnya lurus, orangnya sopan, salat jamaahnya rajin, rajin membaca al-Quran, dan sering melakukan ketaatan-ketaatan lainnya yang terkadang saya sendiri merasa iri. 

Mengapa mereka bisa seperti ini? Jawabannya seperti yang disampaikan oleh Syekh Yusri tadi. Perlahan akhlak Nabi mulai terpatri dalam hati. 

Karena itu, kalau anda ingin memperbaiki diri dan mencari pasangan dengan perangai dan hati yang jernih sejernih air tanah suci, perbanyaklah salawat kepada Nabi, dan carilah orang yang memperbanyak salawat kepada Nabi serta mencintai Nabi dengan sepenuh hati. 

Silakan anda buktikan cara saya ini. Saya tak menjamin. Karena saya bukan Yang MahaSuci yang tahu apa yang akan terjadi sekarang dan nanti. Tapi setidaknya inilah cara terampuh dan termudah yang saya temukan selama ini. Apalagi ini dasarnya adalah ajaran para sufi. 

Saya kira, persoalan ini tak perlu saya rinci lebih dalam lagi. Sudahlah, saya juga tahu anda tak menginginkan basa-basi dengan dalil itu dan dalil ini. 

Akhir kata, saya doakan, semoga laki-laki dan perempuan yang membaca dan tulisan ini mendapatkan pasangan yang saleh dan salehah di kemudian hari, sekaligus berjumpa dengan Nabi dalam keadaan rida dan diridai. Allahumma Shalli ‘alaihi. 

(Kairo, Zahra, Medinat-Nasr, 26 September 2016)