Banyak orang salah paham dan menganggap bahwa mempelajari ilmu logika itu hanya diperlukan oleh kalangan akademisi atau para pejabat yang memegang peran penting lainnya saja. Sehingga sebagian bahkan kebanyakan orang menyepelekan ilmu ini.

Pemikiran tersebut adalah kesalahan besar. Bagaimana tidak, dalam menjalani kehidupan ini tentunya kita harus banyak menggunakan logika untuk berpikir. Setiap aktivitas yang kita lakukan dalam setiap harinya, seperti membaca, menulis, berbicara, berdialog, serta membuat kesimpulan dari apa yang telah kita dengar dan kita lihat, semuanya tidak terlepas dari logika.

Logika sangat diperlukan dalam dunia yang semakin maju ini. Perkembangan ilmu teknologi yang semakin hari semakin canggih juga tidak terlepas dengan pemikiran logika. Bagaimana caranya kita harus bersikap bijak dan kritis juga tentunya harus menggunakan logika.

Logika berasal dari bahasa latin yaitu dari kata logos yang berarti perkataan. Apakah semua perkataan yang keluar dari mulut kita itu logika? Tentu tidak semuanya, karena logika bukan hanya perkataan semata melainkan memerlukan penalaran untuk mendukungnya. 

Logika adalah sebuah ilmu yang mengajarkan kita untuk mengeluarkan kata-kata yang benar melalui nalar dengan menggunakan akal sehat yang kita miliki.

Sebagaimana perkataan dari seorang tokoh yang bernama Irving M. Copi yang mendefinisikan logika sebagai suatu ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang benar dan penalaran yang salah.

Secara umumnya logika dipahami sebagai suatu cabang filsafat yang membahas asas-asas, aturan-aturan, hukum-hukum, dan metode, serta prosedur dalam mencapai pengetahuan secara rasional dan benar.

Seperti yang telah diketahui bahwa manusia sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk bernalar. Namun perlu diketahui bahwa kemampuan ini sifatnya sangat terbatas. Diibaratkan seperti seseorang yang terkurung di dalam ruangan yang hanya bisa berkeliling di tempat itu saja.

Sehingga kemampuan tersebut harus diasah lagi untuk bisa menggunakan pikirannya dengan benar dan secara luas menggunakan akal sehat. Jika tidak diasah akan menimbulkan pernyataan-pernyataan tidak tepat yang mungkin saja sering sekali kita lakukan tanpa kita sadari.

Membedakan penalaran yang benar dan penalaran yang salah itu sangat penting dilakukan, karena jika kita tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah maka bisa saja kita akan membuat kesimpulan yang salah yang berakibat fatal.

Banyak sekali orang yang tidak bisa berpikir dengan logis sehingga hanya mengambil dan menerima argumentasi-argumentasi yang disampaikan orang lain secara mentah-mentah. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan kesalahpahaman dan yang lebih parah lagi dapat menimbulkan perpecahan.

Dalam hal ini logika berupaya untuk mengarahkan, membimbing, serta mengajak untuk bisa membuat pemikiran manusia agar dapat sampai kepada kesimpulan yang benar. Ada dua cara dalam mengambil sebuah kesimpulan yang tepat dalam ilmu logika.

Dua cara penarikan kesimpulan tersebut yaitu deduktif dan induktif. Kata ini mungkin sangat sering kita dengar di bangku pendidikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Lalu bagaimana penggunaannya dalam ilmu logika.

Penalaran deduktif adalah proses penarikan kesimpulan dari satu atau beberapa pernyataan yang dikenal dengan sebutan premis. Penalaran ini juga dapat dipahami sebagai sebuah metode penalaran yang berpangkal dari pendapat yang umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus.

Penalaran deduktif dilakukan dengan dua tahapan: Pertama, harus bisa menyesuaikan suatu hal yang bersifat umum dengan hal yang bersifat khusus. Kedua, memastikan bahwa hal yang bersifat khusus bisa digunakan ke dalam hal yang bersifat umum.

Ketepatan penarikan kesimpulan dari penalaran deduktif ini didasarkan pada tiga hal yang diantaranya kebenaran premis mayor, kebenaran premis minor, dan ketepatan dari pengambilan kesimpulan.

Apabila salah satu dari persyaratan tersebut tidak dipenuhi, maka kesimpulan yang dibuat menjadi salah atau tidak valid. Namun kebanyakan dari penalaran deduktif ini dapat dipastikan kebenarannya, karena ia selalu berasal dari pernyataan yang benar atau fakta.

Contohnya pengetahuan matematika yang didapatkan dengan cara deduktif seperti A=B dan B=C, maka kesimpulannya adalah A=C. Contoh lainnya seperti setiap manusia akan meninggal, Budi adalah manusia. Maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah Budi akan meningal.

Berbeda dengan penalaran deduktif yang mengarah kepada kesimpulan yang bersifat khusus, maka sebaliknya penalaran induktif mengarah kepada kesimpulan yang bersifat umum. Penalaran deduktif merupakan proses penarikan kesimpulan umum dengan melalui observasi atau penyelidikan terlebih dahulu.

Contohnya seperti sebuah apel di dalam sebuah kerajang itu rasanya manis, kemudian diambil lagi jeruk di dalam keranjang itu dan rasanya juga manis. Maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah semua apel dalam keranjang itu rasanya manis.

Kesimpulan yang diambil dari penalaran induktif ini tidak selalu benar, namun ada kemungkinan memiliki kebenaran. Oleh sebab itu untuk menemukan kebenaran dalam penalaran induktif perlu dilakukan pengujian. Pengujian tersebut dilakukan melalui proses pengamatan, kemudian menghasilkan hukum atau teori, hipotesis, pengujian eksperimen, setelah itu memastikan bahwa kesimpulan itu ditolak atau harus diperbaiki.

Pada dasarnya itulah dua cara penarikan kesimpulan yang dipelajari dalam ilmu logika. Jadi semua argument-argumen yang kita dengar ataupun kita lihat haruslah kita saring atau kita selidiki lagi dengan menggunakan nalar yang kritis agar kesimpulan yang dihasilkan menjadi tepat dan terarah.