Akhir-akhir ini, aku bertemu dengan banyak teman pencinta dan pemerhati lingkungan. Dengan mereka, aku bisa bercerita, berdiskusi, dan berbagi secara sederhana isu-isu lingkungan yang sangat penting diperhatikan untuk konteks hari ini demi keberlangsungan kehidupan sekarang dan yang akan datang.

Mulai dari Dion, sebut saja dia begitu. Dion yang bartender pada sebuah kafe itu prihatin dengan penggunaan air minum dalam gelas kemasan plastik yang marak di kampung-kampung. 

Padahal, Dion yang gaul ini jarang-jarang pulang ke kampung halamannya, namun tetap saja dia heran. Dion heran karena suatu hari ketika dia pulang ke kampungnya melihat masyarakat dalam suatu acara hajatan pernikahan menggunakan air minum dalam gelas kemasan plastik atau kita singkat saja menjadi AMDGKP.

Menurut Dion, AMDGKP ini membuatnya sadar bahwa orang “kampung” pun mulai berubah. Bagaimana tidak, AMDGKP ini diproses secara teknologi modern, bukan dari tehnologi sederhana, tradisional, yaitu minum air yang diperoleh dengan cara merebus air di kompor atau di tungku kayu lagi. Namun, masyarakat lebih memilih AMDGKP ini agar lebih praktis dan simple ketika masyarakat mempunyai hajatan besar.

Padahal, masyarakat di sana masih mempunyai banyak sumber air yang bagus, sumur. Dulu, masyarakat akan merasa bahagia dan bangga jika bisa bergotong royong menghelat hajatan bersama-sama, mulai dari meminjam gelas untuk minum, piring untuk makan, panci untuk masak, dan lain sebagainya. Kemudian memasak, mempersiapkan makanan beramai-ramai. 

Mungkin, dengan memilih AMDGKP persoalan atau beban hajatan berkurang dua. Yaitu, tidak merebus air lagi untuk minum dan mencuci gelas.

Sedang si Kirana, bukan nama sebenarnya, yang juga concern pada masalah lingkungan, malah mulai merebus air di kosnya sejak enam bulan terakhir. Kirana yang dulu biasa membeli (pembeli) air botol kemasan ini beralih menjadi penuang air botol sendiri.

Kata Kirana, selama ini kita takut merebus air sumur sendiri. Akibatnya, kita jadi takut untuk minum air padahal dari sumur kita sendiri. Padahal, tidak selamanya sumur kita tercemar oleh polusi. Kita sendiri yang bisa menilai dan merasakan sejauh mana “kesucian” air kita. 

Jangan-jangan selama ini kita merasa air kita tercemar gara-gara propaganda pengusaha air yang menjual airnya dengan isu kebaikannya karena ingin membuat air mereka laku. Sehingga, kita pun memberikan stigma bahwa air milik kita sendiri sudah buruk.

Kirana merasa fine-fine saja meminum air sumur yang ada di kosnya. Selain lebih sehat, karena Kirana yakin akan kebersihan airnya, Kirana merasa lebih hemat. Setelah air direbus, dan dingin, Kirana akan menuangkan air rebusannya ke dalam botol minumannya untuk dibawa ke mana-mana.

Selain itu, ketika aku ingin sarapan pagi di kosnya, Kirana juga menganjurkan untuk membeli bubur ayam yang bukan menggunakan wadah styrofoam namun wadah plastik yang lebih bertahan lama dan bisa dipakai berulang. Walau plastik (juga), tetapi tidak seperti styrofoam yang memakai konsep sekali pakai, buang, langsung jadi sampah ini menurut Kirana harusnya tidak diproduksi dan dipakai lagi.

Terus ada juga si Ari, yang punya cerita ketika melakukan kegiatan di desa yang agak terpencil. Awalnya, ketika mengadakan rapat sebelum kegiatan berlangsung, mereka si pegiat kegiatan dan penduduk kampung yang menjadi panitia mengeluarkan keputusan hasil rapat bahwa tidak akan menggunakan AMDGKP dan makan dengan konsep prasmanan, yaitu bisa dengan memakai daun karena desa itu masih sangat alami banyak pohonnya.

Namun ketika acara berlangsung, hasil rapat yang mengusulkan untuk ramah lingkungan tidak tercipta sama sekali. Penduduk menjamu dengan AMDGKP dan makan dengan memakai nasi kotak bukan daun seperti kesepakatan awal.

Si Ari menjadi bingung. Penduduk desa itu sendiri yang menciptakan sampah bagi lingkungan desanya yang asri. Sehingga, di akhir acara, para pegiat kegiatan ini yang terdiri dari pegiat lingkungan, literasi, seni budaya, dan lain sebagainya malah sibuk bersih-bersih kampung.

Cerita soal desa, aku jadi mengingat mbak Lena yang banyak berkegiatan di desa-desa karena jabatannya sebagai bagian dari komunitas lingkungan. Suatu ketika aku menemani mbak Lena turun ke kampung. Setelah mbak Lena selesai dengan kegiatannya, kami meminta diantar jalan-jalan di suatu sungai yang tidak jauh dari tempat mbak Lena melakukan penyuluhan.

Ketika kami tiba di sungai, aku dan mbak Lena heran melihat banyaknya pampers (popok bayi) yang dibuang di dekat sungai. Mbak Lena merasa pesan lingkungannya tidak sampai pada masyarakat dengan banyaknya sampah yang dibuang di pinggir sungai. Mungkin, penduduk menganggap daerah sungai yang luas, bukan milik siapa-siapa. 

Lagi pula, mengapa mereka (penduduk) mau menggunakan pampers? Bukankah mereka punya sungai yang airnya masih banyak dan mengalir? Mereka bisa dengan “mudah” dan “murah” mencuci pakaian bayi di sana.

Begitu pula yang terjadi di kampungku, orang makin ingin praktis. Ketika makanan tradisional yang kami sebut sokkol, atau lemang yang biasanya dibungkus daun pisang, mulai berubah dalam balutan kertas pembungkus makanan yang berwarna coklat dan (atau) plastik bening. 

Beberapa orang sudah tidak menggunakan daun lagi. Padahal dengan daun, makanan akan lebih berasa. Berasa daun yang alami, dan lebih awet. Ketika ini kushare di status WhatsApp-ku, Tami, temanku, menanggapinya dengan chat, “Di sini masih banyak makanan yang pakai bungkus daun. Ada daun jati juga.”

Lanjut Tami yang tinggal di pinggiran kota Jogja, ibunya yang jualan kue kampung seperti nogosari, lemet, dan lain sebagainya tetap mempertahankan menggunakan daun pisang untuk mengemas jualannya. Daun masih banyak dijual di pasar. Bahkan ayahnya sendiri menanam pohon pisang khusus untuk diambil daunnya.  

Orang kota dan kampung sama saja!

Ketika aku dan Ammoz melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang, kami merasa kehidupan yang instan, higenis, dan praktis itu makin nyata. Walaupun diperhalus dengan kata “minimalis”, kami tetap merasa, minimalis itu memang bagus, tapi terkadang tidak ramah lingkungan.

Padahal, membeli tiket pesawat sudah menggunakan e-ticket yang langsung kode booking saja nanti setelah di Bandara bisa ditukarkan dengan tiket asli, kertas. 

Soal tiket kertas, sama halnya dengannya ketika kami naik bus AC, kami akan diberikan karcis, kertas kecil yang berukuran paling sekitar 3x3 sentimeter. Malah bus ompreng, rongkong-rongkong (jenis kendaraan yang jelek, tua, mesinnya suka ngadat dalam istilah Makassar) malah tidak memberikan karcis.

Kemudian, di atas pesawat yang memberikan makan malam gratis itu mengemas makanannya juga dalam porsi “minimalis” dan dalam kotak, nasi kotak. Setiap peralatannya akan dibungkus dengan plastik untuk menandakan baru dan bersih. Ya, setelah makan, mungkin sendok, gelas, bisa langsung dibuang, termasuk kotak nasinya, karena pramugari akan datang meminta sampahnya.

Begitu pula ketika kami mengikuti suatu acara di suatu kota besar. Ketika acara makan tiba, kami makan dengan prasmanan, mengambil makanan sendiri dan AMDGKP. Seperti di kampung tadi yang sudah menggunakan AMDGKP, kota dan kampung sama saja.

Yang paling menarik dari cerita lingkungan yang tidak berjalan seiring dan seirama adalah ketika aku mengikuti acara yang bertajuk Water. Panitianya sudah aware dengan isu lingkungan, memberikan cendera mata botol minuman yang keren banget setelah mendaftar ulang di luar ruangan. 

Namun, ketika kami masuk ke dalam acara, kebetulan diadakan di sebuah ruangan hotel, di meja kami penuh dengan botol minuman kemasan yang telah disediakan oleh beberapa pegawai hotel.

Titipan atau Warisan Nenek Moyang?

Ada kalimat yang menarik yang dibagikan di sebuah status Whats App mengenai sebuah acara untuk mempertahankan keberlanjutan dan keutuhan ekosistem pada suatu pantai, “Titipan bukan Warisan” bahwa pantai ini titipan bukan warisan sehingga kita perlu mengadakan reinspirasi. Kata-kata titipan dan warisan pun bergantian di benakku, bagaimana kita menjaga keberlangsungan hidup kita.

Keluarga Tami mempertahankan menanam pohon pisang untuk menjaga kearifan lokal, kuliner tradisional karena kudapan kampung itu warisan dari nenek moyang. Kita pun hanya “dititipi” dengan lewat sebentar ke generasi kita lalu akan ditularkan ke generasi selanjutnya. Ketika kita masih mau menanam pohon pisang, kita akan ikut menjaga khas makanan, sekaligus lingkungan.

Ketika kita masih mau merebus air sendiri untuk minum, kita bukan hanya hemat, tapi juga percaya diri pada kekayaan air kita sendiri. Kita percaya pada warisan air kita. Karenanya, kita harus menjaga “kesuciannya” karena itu hanyalah titipan. 

Begitu pula sungai yang bukan tempat pembuangan sampah. Sungai merupakan warisan peradaban kehidupan, namun kita dititipi untuk menjaganya.

Ketika kita masih mempertahankan budaya lokal, tradisi gotong royong, meminjam peralatan makan dan masak di kampung untuk menghelat suatu acara, kita telah mempertahankan warisan budaya yang hanya titipan. Semoga anak-cucu kita bisa mempertahankan sehingga kita tidak perlu minum lagi dari AMDGKP.

Karena hidup harus minimalis di zaman modern ini, kita pun harus berusaha meminimaliskan sampah. Karena bumi yang “warisan” sekaligus titipan dari leluhur kita, kita pun nanti harus mewariskan dan menitipkan pada generasi selanjutnya. 

Mari, sama-sama menyikapi isu lingkungan ini dengan slogan “Titipan bukan Warisan” yang apa pun itu tidak kita gunakan seenak’e dewek...

Ini ceritaku, mana cerita lingkunganmu?