Legal Officer
6 hari lalu · 53 view · 3 menit baca · Hiburan 97887_41298.jpg
Beritagar

Cara Move On Melalui Tradisi Paes Pengantin

Ulasan Film Mantan Manten (2019)

Yasnina/Nina (Atiqah Hasiholan) adalah manajer investasi perempuan yang cerdas dan mandiri. Hidupnya tampak sempurna. Karier sukses, terkenal, dan sudah dilamar oleh Surya (Arifin Putra). Perempuan mana yang tidak berharap dilamar oleh pengusaha muda kaya raya dan tampan seperti Surya?

Tiba-tiba hidup Nina terbalik. Ia terjebak kasus penipuan investasi bodong yang melibatkan Arifin Iskandar (Tio Pakusadewo). Aset Nina ludes, reputasinya hancur. Untung Nina masih punya sisa aset berupa rumah di Tawangmangu, Solo.

Namun, Nina harus alot bernegosiasi dengan Bude Marjanti (Tuti Kirana). Bude Marjanti adalah paes (penata rias) pengantin senior penuh karisma. Hingga akhirnya, Nina terpaksa bersedia menjadi asisten paes Bude Marjanti. Dari situlah bermula premis perubahan ambisi, dendam menjadi proses penerimaan dalam hidup Nina.

Ide cerita film ini sangat kuat dan menarik. Perspektif gender terasa sangat kuat. Penulis skenario Farishad Latjuba dan Jenny Jusuf tampak memahami betul ide-ide feminisme. Nina digambarkan sebagai perempuan yang melekatkan dan melepas cincin. Ia adalah perempuan yang mengendalikan hubungan.

Proses transisi hidup dari puncak, turun ke titik nadir, kemudian bangkit lagi, tersaji hampir sempurna. Menghadirkan budaya Jawa sebagai medium pengubah mindset hidup penuh ambisi menjadi hidup ikhlas adalah sebuah ide brilian. 

Filosofi Jawa memang punya banyak kosakata yang bermakna hidup penuh keikhlasan. Seperti “semeleh” dan “sareh”, misalnya.

Tahapan ritual dan macam-macam paes pun tidak dijelaskan. Rias (paes) pengantin Jawa berisi riasan yang dinamakan gajahan, pengapit, penitis, dan seterusnya. Semua itu punya makna dalam adat Jawa. Ritual khas dukun paes saat merias juga tidak digambarkan tuntas.

Bila salah satu tujuan utama Mantan Manten adalah memperkenalkan tradisi paes penganten Jawa pada penonton, maka hal itu kurang tuntas dilakukan. Sulit membayangkan penonton akan terkesan dengan budaya Jawa, khususnya tradisi paes pengantin, lalu menceritakannya kembali setelah menonton Mantan Manten.

Proses internalisasi Yasnina pada budaya dan filosofi Jawa juga kurang dikembangkan. Tidak tersaji cukup banyak dialog reflektif yang meyakinkan penonton mengapa akhirnya Nina, seorang perempuan modern dan rasional sempurna, mau menerima sampai akhirnya meresapi budaya Jawa, khususnya tradisi paes pengantin. 

Tidak dijelaskan nasib tokoh-tokoh antagonis. Tidakkah mereka menerima konsekuensi atas tindakan jahatnya? Dalam budaya Jawa, terdapat pepatah becik ketitik olo ketoro, yang artinya “segala yang baik akan kelihatan dan segala yang buruk juga akan tampak”. Akhir kisah Mantan Manten tidak menjelaskan itu.

Bila Bude Marjanti mendapatkan apa yang ia harapkan setelah proses mengikhlaskan Yasnina, maka tidak di bagian akhir film; penonton hanya mendapat jawaban proses pengikhlasan. Padahal di bagian awal-tengah film, digambarkan “peperangan antara menang dan kalah”.

Pengaruh filosofi budaya Jawa, khususnya tradisi paes, dan dampaknya dalam hidup Yasnina tidak digambarkan. Seolah filosofi dan kemampuan memaes Yasnina hanya menyelesaikan satu persoalan dalam hidupnya.

Dari departemen akting, Atiqah Hasiholan, Tuti Kirana, dan Tio Pakusadewo tampil sangat memuaskan. Penonton akan mudah terpesona, berempati, dan mengagumi sosok Yasnina yang ditampilkan Atiqah Hasiholan. Wajar bila ada penonton yang terharu di bagian akhir film setelah melihat kekuatan aktingnya.

Tuti Kirana nyaris sempurna memerankan paes pengantin senior. Wibawa Bude Marjanti betul-betul meyakinkan penonton saat menaklukkan arogansi Yasnina. Jangankan Nina, penonton saja bisa tersihir pada pembawaan Bude Marjanti untuk dapat menguasai, memengaruhi, dan menimbulkan rasa hormat orang lain. Lengkap dengan aura mistik Jawa.

Chemistry antara Atiqah Hasiholan dengan Tuti Kirana sangat alami. Penonton akan sangat mudah ikut merasakan hubungan murid dengan mentor bahkan anak dengan ibu lewat interaksi Nina dan Bude Marjanti. Walaupun chemistry mereka akan lebih mendalam dirasakan bila bagian tengah film berjalan lebih lambat.

Tio Pakusadewo bermain mengesankan sebagai patriark sekaligus pengusaha yang licik dalam sosok Arifin Iskandar. Peran Arifin Putra yang terlihat seadanya tampak sempurna menampilkan sosok Surya sebagai pria tampan dari keluarga kaya aristokrat. Namun, perjuangan Surya untuk menegaskan jati diri gagal ditampilkan Arifin Putra.  

Tawangmangu dikenal sebagai kecamatan dengan obyek wisata menawan di Kabupaten Karanganyar. Letaknya di lereng Gunung Lawu. Terdapat beberapa air terjun dan hutan alam indah di sana. Sayang, kamera-kamera Mantan Manten tidak total mengeksplorasi keindahan alam tersebut.

Kamera dalam film ini hanya cukup untuk menandakan lokasi pengambilan gambar. Tampaknya sutradara Ferishad Latjuba ingin berkonsentrasi pada kekuatan naskah film. Sehingga daya pikat lokasi film tidak maksimal ditampilkan.

Secara umum, Mantan Manten adalah film yang layak ditonton. Walaupun sajian filosofi tradisi Jawa, khususnya paes penganten, secara mendalam kurang memuaskan. Demikian pula tahap metamorfosis perempuan cerdas, mandiri, rasional, modern menjadi perempuan tegar penuh keikhlasan. Fase tersebut digambarkan terlalu cepat.

Namun, bila ingin melihat sosok perempuan di puncak karier yang jatuh lalu bangkit lagi untuk bisa move on, Mantan Manten hampir tanpa cacat menampilkannya dalam sosok Yasnina. Interaksi Atiqah dan Tuti Kirana pun sangat mengesankan.

Cuplikan resmi Mantan Manten (2019): https://www.youtube.com/watch?v=-VTU2Sm7-Lo