Seniman
3 minggu lalu · 327 view · 4 min baca · Filsafat 64007_46887.jpg
Pexels

Cara Menjadi Superman

Kita semua tahu bahwa manusia berawal dari primata. Tapi, apakah yang bakal muncul setelah manusia?

Menurut Nietzsche, yang bakal muncul setelah manusia ialah Superman (Übermensch atau Manusia Purna). Superman ialah evolusi kehidupan berikutnya, dan ia akan lebih kuat dari apa pun yang pernah kita lihat sebelumnya.

Tak seorang pun dari kita—manusia zaman sekarang—yang bisa menjadi Superman. Namun, kita bisa menjadi katalisator untuk kelahiran Superman. Kita bisa menjadi buah yang membawa benih-benih masa depan; kita bisa menjadi tanah subur tempat pohon termegah tumbuh; kita bisa menjadi kumpulan awan tempat petir bergemuruh.

Sebelum bisa melahirkan Superman, terlebih dahulu kita harus menjadi roh yang bebas; kita harus menjadi tanah yang subur. Maka itu, pada tulisan kali ini, aku ingin membahas tiga tahapan yang harus dilalui roh dalam menggapai kebebasan.

Ketika roh pertama kali muncul ke eksistensi, ia terpaksa harus dihadapkan dengan Sang Naga yang besar dan berkilau emas. Sang Naga ialah keindahan juga teror; sumber kekaguman sekaligus ketakutan; pelindung dan perusak—dan di tiap sisik kulitnya, tertulis segala perintah yang harus dilakukan, pun segala larangan yang harus dijauhi oleh roh.

"Nilai dari segala hal, dan segala hal yang bernilai, telah tertulis di sekujur sisik-Ku,” titah Sang Naga.

Roh kagum bukan main dan langsung menaruh hormat pada Sang Naga. Ia ingin setia melayani Sang Naga dan mempelajari segala hal yang diperintahkan. Ia ingin menjadi bagian dalam skema besar Sang Naga. Dan di saat roh mengakui kebesaran Sang Naga, saat itu pula ia mulai sadar akan kekurangannya sendiri.

Karena itulah, transformasi pertama pun harus terjadi. Dan kini, roh menjelma menjadi Si Unta.


Si Unta ialah pemelihara. Ia mempelajari, menyerap, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Sang Naga. Si Unta amatlah disiplin. Ia menjalankan kewajibannya dengan cara memikul segala macam barang yang ditaruh ke atas punuknya.

Si Unta begitu bangga akan kemampuannya dalam memikul beban miliknya, ataupun beban orang lain—dan sudah seharusnya begitu. Dengan kata lain, Si Unta teramat bangga akan sikap heroiknya.

Perlahan namun tentu, Si Unta akhirnya menyadari bahwa ia lelah … beberapa beban terlalu berat untuk ditanggung. Si Unta menyadari bahwa selama ini ia hanya dijadikan alat. Si Unta menyadari bahwa selama ini ia telah diperbudak. Dan inilah tahap di mana krisis eksistensial terjadi.

Sang Naga, yang awalnya ialah panutan Si Unta, sekarang malah jadi tempat Si Unta meluapkan segala keluhan. Si Unta menuntut kebebasan, dan oleh sebab itu, roh pun harus bertransformasi kembali.

Si Unta—binatang pemikul beban—kini telah berubah menjadi Si Singa.

Si Singa ialah perusak. Ia mulai berani untuk menentang Sang Naga. Setiap kali Sang Naga berkata “Kamu harus!”, saat itulah Si Singa menjawab “Tidak". Dan setiap kali Sang Naga berkata “Kamu tidak boleh …”, saat itulah Si Singa menjawab “Akan kulakukan.”

Si Singa menentang tradisi dan status quo. Ia melihat segala macam tradisi—buatan Sang Naga—tak layak untuk dipertahankan. Alih-alih melayani Sang Naga, Si Singa kini berbalik melawannya.

Pada titik ini, roh—mau tak mau—harus menghancurkan hal yang dulunya sangat ia hormati. Sulit memang, karena dalam proses menaklukan Sang Naga, Si Singa pun harus menaklukan dirinya sendiri.

Banyak singa di luar sana yang kalah pada tahap ini. Tak sedikit pula dari mereka yang terpaksa mengakhiri hidupnya pada tahap ini.

Tapi, ini bukanlah akhir dari segalanya. Seperti Si Unta, Si Singa ialah bagian dalam reaksi berantai. Perjuangan dalam menggapai kebebasan, keberanian untuk berkata 'tidak’, telah membuka kemungkinan baru. Jika kehancuran bisa terjadi, demikian pula dengan penciptaan. Jika kejatuhan bisa terjadi, demikian pula dengan kebangkitan.


Maka dari itu, transformasi ketiga pun harus dilakukan; Si Singa harus berubah menjadi Si Anak.

Si Anak ialah pembuat karya, dan berkarya ialah suatu bentuk penebusan. Semua kesalahan di masa lalu, termasuk kesalahannya sendiri, dapat ditebus dengan berkarya sebaik-baiknya … setulus-tulusnya.

Si Anak ialah awal yang baru. Si Anak menjalani hidup dengan berpedoman pada nilai dan kehendaknya sendiri. Si Anak berpotensi untuk menebus masa lalu, dan melahirkan masa depan yang lebih cerah.

Si Anak harus belajar melupakan masa lalu, dan tak sedikit pun menaruh benci pada mereka yang pernah datang sebelumnya. Mereka yang datang sebelumnya, bagaimanapun, telah berupaya sekuat tenaga untuk menyuburkan tanah. Setiap bentuk kehidupan—entah itu saling memangsa dan mendukung satu sama lain—telah mengarah pada kelahiranmu.

Jadi, bisakah engkau menebus semua sakit dan penderitaan yang telah mereka alami? Bisakah engkau menginspirasi mereka yang kini tengah berusaha menghancurkan naganya masing-masing?

Kisah ini adalah kisah yang coba diutarakan Nietzsche dalam bukunya: Maka Berbicaralah Zarathustra. Ini adalah kisah tentang menjadi tradisi, hingga akhirnya menantang tradisi. Si Unta, Si Singa, dan Si Anak adalah tiga tahapan yang mesti dilalui roh untuk mencapai kebebasan.

Sayangnya, banyak dari mereka di luar sana yang belum melalui tahapan-tahapan ini. Bahkan, untuk menjelma menjadi unta pun belum.

Barang siapa yang mampu melalui tiga tahapan ini, maka ia akan menjadi cawan—dengan airnya yang melimpah—tempat orang lain akan minum. Barang siapa yang mampu melalui tiga tahapan ini, maka ia akan menjadi samudra luas, dan tak bakal terkontaminasi oleh kotornya muara sungai.

Dan, barang siapa yang mampu melalui tiga tahapan ini, maka ia akan menjadi kumpulan awan hitam, tempat di mana Superman bakal bergemuruh.

Sebagai penutup, berikut kutipan Nietzsche dalam bukunya:

Kukatakan padamu: Seseorang harus memiliki kekacauan dalam dirinya, agar bisa memberi kelahiran bagi bintang yang menari.

Artikel Terkait