Kekeliruan kita mayoritas umat Islam adalah terlalu melihat Islam sebagai hal yang hitam-putih. Meyakini hanya ada satu kebenaran. Sedangkan kebenaran yang lain tak dianggap sebagai kebenaran.

Salah satu bukti riilnya adalah reaksi yang kemarin ditampilkan oleh mayoritas umat Islam di Indonesia terhadap film The Santri. Banyak dari mereka yang mengecam film ini. Karena, oleh mereka, dianggap sebagai media penyebaran ajaran sesat. Alasannya ialah di dalam film tersebut diperlihatkan dua orang santriwati membawa nampan makanan masuk ke dalam gereja. 

Kemudian di bagian yang lain, turut ditampilkan adegan yang setiap santri atau santriwati yang berprestasi dikirim belajar dan melanjutkan studinya ke Barat. Bagi mereka, ini celaka, bukan bagian dari akhlak santri. Tidak ada santri yang begitu, kata mereka.

Reaksi ini menunjukkan betapa masyarakat kita terlalu rigid dan kaku dalam memahami Islam. Mereka lagi-lagi terjebak pada pemahaman yang mengakui bahwa kebenaran Islam adalah tunggal. Akibat dari pemahaman ini ialah mereka mudah menyalahkan pemahaman di luar pemahaman mereka.

Dari sini dan kecenderungan ini, penulis mengira perlu bagi para agamawan untuk memberikan pengajaran kepada masyarakat Islam Indonesia khususnya dan dunia umumnya, bahwa Islam itu warna-warni. Kebenarannya beragam. Agar masyarakat kita lebih mudah menghargai yang berbeda, mereka harus memahami bahwa perbedaan adalah hal yang lumrah dalam Islam, bukan sesuatu yang baru.

Misalnya dalam sejarah para sahabat, terdapat suatu cerita yang penulis kira sudah sangat populer di telinga kita. Terutama dari mimbar-mimbar agama yang disampaikan oleh para ustaz. Yakni ketika usai perang Khandak atau Ahzab, Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan memberikan intruksi: "Jangan sekali-kali salat asar kecuali setelah sampai di Bani Quraizah."

Para sahabat yang ketika itu mendengarkan instruksi ini tidak memberikan pertanyaan. Bagi mereka, tidak ada hal yang membingungkan dari instruksi tersebut. Perintahnya jelas. Kalian boleh asar, tapi nanti, setelah tiba di Bani Quraizah. Akhirnya berangkatlah mereka menuju arah perkampungan yang diinstruksikan.

Nah, ketika dalam perjalanan, waktu sudah menunjukkan akan masuk waktu magrib. Jika dilanjutkan sampai benar-benar tiba di Bani Quraizah, waktu untuk salat asar sudah habis. Para sahabat bingung dan saling bertanya, “Bagaimana ini, kita salat asar lebih dulu atau melanjutkan perjalanan sesuai perintah Rasulullah salat asarnya nanti ketika sudah di Bani Quraizah?”

Dalam menanggapi ini, sahabat Nabi terbagi menjadi dua. Kelompok pertama melakukan salat asar dulu dengan alasan bahwa salat itu tidak bisa dikerjakan di luar waktunya. Adapun kelompok kedua, mereka tetap konsisten pada instruksi Rasulullah. Dengan alasan lain bahwa Rasulullah adalah seorang Nabi. Jadi perintahnya harus dituruti.

Manakala bertemu Nabi, mereka menceritakan kejadian itu kepada beliau sembari meminta pandangan tentang mana di antara mereka dua kelompok itu yang benar. Nabi tersenyum, tidak marah dan tidak menyalahkan siapa pun. “Kalian telah berpikir keras dan atas usaha itu kalian mendapatkan pahala.”

Apa yang bisa kita teladani dari cerita ini? Yaitu, seperti yang dikatakan KH. Husein Muhammad, kebijaksanaan Rasulullah Saw. dalam menyikapi keragaman pikiran sahabatnya. Beliau tidak menyalahkan dan malah memberikan penghargaan atas usaha mereka mencari kebenaran.

Umat Islam di setiap zaman dan di tempat mana harus mencontohi sikap Rasulullah tersebut. Tidak suka menyalahkan. Dan berusaha untuk menghargai yang berbeda. Memahami kebenaran Islam sebagai hal yang warna-warni. 

Islam memang satu, yaitu Islam yang berdasar pada Alquran dan hadis Nabi. Tapi dalam menafsirkan keduanya, para ulama dan mujtahid Islam berbeda. Karenanya dibutuhkan kelapangan dada atas beragam pendapat yang ada itu, seperti yang dicontohkan oleh Imam Malik dan Imam Abu Hanifah.

Saat itu Imam Malik dan Imam Abu Hanifah dipertemukan dalam suatu forum debat tentang hukum Islam atas inisiasi murid-murid mereka. Mereka berdebat dan bertukar pandangan mereka dalam masalah hukum Islam tentang 4000 perkara. 

Dalam beberapa hal, mereka banyak tidak sependapat. Kadang Imam Malik tidak sependapat dengan Imam Abu Hanifah dan juga sebaliknya. Tapi apakah karena perbedaan pendapat itu mereka berseteru dan bertengkar? Tidak.

Imam Malik saat sedang istirahat didatangi oleh muridnya dan bertanya, “Wahai guru, kenapa tadi ketika berdebat dengan Imam Abu Hanifah kami melihat Anda seperti kewalahan dalam menangkal argumen-argumennya?” Imam Malik menjawab, “Dia adalah orang yang cerdas. Analisisnya tajam dan logikanya benar-benar jalan.”

Imam Abu Hanifah juga sama. Saat sedang istirahat, ia didatangi oleh murid-muridnya dan juga mengajukan pertanyaan yang senada, “Wahai guru, tadi ketika berdebat dengan Imam Malik, kami melihat Anda seperti kesusahan dalam menghadapinya.” Imam Abu Hanifah menjawab, “Dia adalah orang yang faqih. Hafalan Alqurannya dan hadisnya banyak serta pemahaman terhadap keduanya sangat baik.”

Mereka tidak saling menyalahkan apalagi saling menjelekkan. Malah saling memuji dan saling mengangkat. Hal inilah yang langka pada zaman kita sekarang. Makanya ia harus dihidupkan. 

Dan lebih lanjut, seperti kata Nadirsyah Hosen, kita harus mendidik umat Islam untuk terbiasa menerima perbedaan pendapat. Ragamnya pendapat di antara para ulama tidak boleh ditutup-tutupi. Karena kebiasaan menutup-nutupi itulah yang akan mengentalkan dan menyuburkan ekslusifitas (pemikiran tertutup) dan klaim merasa paling benar di kalangan umat Islam. 

Akhirnya kita harus mengatakan bahwa kebenaran Islam itu tidak tunggal. Kebenarannya beragam dan warna-warni. Dan itu bukan kehendak kita. Tuhan yang menginginkannya melalui firman-Nya dalam surat al-Maidah [5]: 48:

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kalian dijadikan satu (saja), tapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu tentang apa yang kamu persilihkan itu.