Sebagai anak muda, kita pasti memiliki lingkaran pertemanan. Terkadang tidak terlalu banyak dan hanya itu-itu saja orangnya. Hampir setiap akhir pekan, kita sering menghabiskan waktu bersama dengan mereka di kedai kopi yang telah menjadi langganan.

Pada saat pertemuan, dapat dipastikan kita akan berbincang dan membahas bermacam-macam topik, mulai dari yang ringan dan renyah hingga sesuatu yang berat dan mendalam.

Ketika dalam situasi berbincang-bincang, kawan-kawan kita memiliki ragam karakteristik ketika pembicaraan sedang berlangsung. Ada yang diam saja, ada yang sesekali nimbrung, ada yang memang wawasannya luas, dan ada yang sering menyebarkan disinformasi serta terkesan sok tahu tentang segala hal.

Sikap seperti itu terkadang menjengkelkan bagi kita yang mengerti bahwa apa yang disampaikan oleh kawan kita tersebut sebenarnya keliru. Awalnya mungkin kita akan terkesan membiarkan, namun lama-kelamaan ada keinginan untuk menguji sejauh mana sebenarnya pemahaman dia tentang suatu hal.

Hingga hal ini menginspirasi saya untuk mempraktikkan semacam interogasi kepada mereka yang terkesan sok tahu tersebut. Formula yang hendak saya gunakan sebagai sebuah pendekatan sebenarnya sederhana, yaitu dengan menerapkan berbagai prinsip dasar dalam logika saja menurut saya sudah cukup. Lalu, prinsip mana saja yang saya maksud?

Pertama, kita awali dengan disiplin definisi. Jika saya bahasakan, definisi merupakan penentu batas suatu pengertian atau hal dengan tepat, singkat, dan jelas. Definisi menuntut kita untuk memberi sebuah penegasan dan deskripsi atas suatu kata.

Hal ini bertujuan agar kita memiliki suatu persamaan pemahaman atas sebuah term yang telah disepakati. Karena biasanya perdebatan awalnya terjadi akibat kita memiliki definisi yang berbeda atas suatu hal.

Untuk memulai ini, saya akan memberikan sebuah contoh kasus. Pernah suatu saat seorang kawan menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan teori Evolusinya Charles Darwin. Dia berasumsi bahwa tidak mungkin manusia itu berasal dari monyet.

Dari pernyataan tersebut, ada tiga kata kunci, yaitu Evolusi, Manusia, dan Monyet. Saya memulai menanyakan “Apa definisi dari evolusi, monyet, dan manusia?” Terbukti, teman saya pada waktu itu tidak dapat memberikan definisi pada hal-hal tersebut secara tepat.

Evolusi hanya dipersempit sebagai perubahan monyet menjadi manusia. Padahal secara umum, evolusi merupakan perubahan yang bersifat gradual dan berlangsung dalam proses yang cukup lama. Kebalikannya adalah revolusi.

Sementara untuk monyet, dia mengira seluruh primata adalah monyet. Artinya, dia tidak disiplin definisi tentang binatang melalui ilmu taksonomi. Khsusus manusia, dia hanya mengatakan bahwa manusia itu adalah keturunan Adam

Dalam proses pendefinisian, terkadang kita terlalu meremehkan. Padahal untuk melakukannya tidak semudah yang dibanyangkan. Kenyataannya banyak dari kita yang mengucapkan berbagai term atau kata namun tidak memahami arti dan definisinya.

Sesuatu yang tidak kalah pentingnya untuk menganalisa argumentasi orang adalah penekanan dan pendalaman secara konseptual. 

Setelah kita menanyakan tentang definisi dari berbagai hal ke orang lain, kita dapat melanjutkannya dengan menanyakan konsep dari suatu gagasan maupun argumentasi yang ia ucapkan.

Dari contoh kasus yang sama, kita dapat menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat konseptual, dan dapat diawali dengan: Kamu tidak setuju dengan teorinya Darwin memang sudah baca bukunya yang mana? Memang Darwin bilang manusia dari monyet itu di bukunyayang mana?

Lalu baru kita masuk ke konsep-konsep yang lebih mendasar tentang evolusi seperti mekanisme evolusi, mutasi, genetika, taksonomi, dll.

Menanyakan hal tersebut nampaknya sepele, tetapi pertanyaan-pertanyaan konseptual tersebut memang akan sulit dijawab bagi orang yang memang tidak memiliki pemahaman tentang suatu pengetahuan secara komprehensif dan mendasar. 

Penerapan definisi dan konsep dalam naungan logika dasar senantiasa harus kita lakukan apabila hendak memulai sebuah diskusi, khususnya apabila membahas topik-topik yang membutuhkan kaidah pengetahuan.

Menginterogasi seseorang dengan cara ini sungguh menarik, apalagi hal-hal yang kita tanyakan bersifat konseptual dan disiplin definisi karena itu akan memaksa orang memeras otak dengan lebih keras lagi. Kita juga dapat mendeteksi bagaimana seseorang membangun kerangka berpikirnya sehingga kita dapat mengetahui di mana celahnya.

Secara langsung maupun tidak langsung, kita berupaya untuk mendorong teman kita atau orang lain untuk mempelajari sesuatu secara lebih mendalam dan komprehensif lagi serta melatihnya dalam berargumentasi secara baik dan benar.

Jurus ini dapat kita gunakan untuk membuat seseorang yang sok tahu dan sering menyodorkan false knowledge agar lebih berhati-hati ketika hendak berargumentasi.

Secara tidak langsung, kita dapat membuatnya merasakan dua hal. Entah itu membuatnya mengevaluasi diri agar lebih baik kedepannya, atau membuatnya malu sehingga kapok untuk menyebarkan informasi atau pendapat yang tak berdasar.

Mungkin metode yang menanyai seseorang secara mendasar ini terkesan menjengkelkan bagi sebagian orang karena ia seolah-olah harus memiliki dasar pengetahuan dan logika yang kuat dan menjadi pondasi berpikirnya untuk menjawab berbagai pertanyaan yang telah kita ajukan. Bagaikan disuruh membuat pledoi dalam sebuah proses peradilan.

Tetapi, cara ini efektif membuat diri sendiri dan orang lain supaya tidak hanya asal bicara ketika sedang berdiskusi sehingga meningkatkan kadar intelektualitas kita. Seperti kita ketahui, sering terjadi debat kusir yang tak mendasar karena kesluruhan pembahasan tidak dilandasi dengan cara berpikir yang benar.

Hal tersebut berkonsekuensi akan menghasilkan orang-orang yang sebenarnya irasional namun merasa dirinya sudah sangat pandai dan dapat berbicara seenaknya.

Dengan menerapkan disiplin definisi dan analisis secarakonseptual, diharapkan kita dapat mengurangi jumlah populasi orang-orang semacam itu. Hal ini sesuai dengan amanat pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.