1 minggu lalu · 584 view · 5 min baca menit baca · Agama 35342_64393.jpg

Cara Menentukan Tuhan yang Asli

Saya kira semua orang berakal sehat akan sepakat bahwa gambaran kita tentang sesuatu sudah pasti berbeda dengan sesuatu itu sendiri yang berada di luar gambaran kita itu. 

Dalam salah satu tulisan, saya pernah memberikan contoh dengan sebuah buku. Buku itu jelas merupakan entitas terpisah yang berada di luar diri kita. Tapi gambaran tentang buku itu sendiri hanya ada di dalam diri kita. Lalu bisakah saya mengatakan bahwa keduanya merupakan hal yang sama? Mari kita gunakan nalar sehat kita untuk berkata tidak.

Kalau kita sudah bersepakat dengan poin yang satu ini, maka tak akan sulit bagi kita untuk memahami satu kenyataan bahwa adakalanya sesuatu yang berada di luar diri kita itu satu. Tapi yang satu itu digambarkan, ditafsirkan, dimaknai dan dijelaskan melalui cara yang beragam dan lebih dari satu. Artinya, kesatuan sesuatu yang berada di alam luar tidak serta merta terpengaruhi oleh keragaman gambaran tentang sesuatu itu yang hanya ada di dalam nalar.  

Bayangkan kalau suatu ketika Anda, dan tiga orang kawan Anda, misalnya, dihadapkan dengan sebotol minuman air dingin. Katakanlah bahwa Anda meminum air botol itu setelah berlari sepanjang 10 km. Teman Anda yang kedua meminum air itu selepas meminum air dingin. Dan teman Anda yang satu lagi meminum air itu dalam keadaan sakit. 

Lalu masing-masing dari Anda bertiga dimintai keterangan mengenai sebotol minuman air itu. Kira-kira apa yang akan terjadi? Jawabannya sudah bisa ditebak.

Tanyakan kepada mereka seperti apa rasanya air itu? Apakah gambaran dan tafsiran mereka tentang air itu sama? Apakah rasa kenikmatan yang mereka rasakan itu tidak berbeda? Sudah pasti jawabannya tidak. 


Mereka akan mengemukakan penjelasan yang beragam tentang air itu. Tapi—dan ini pertanyaan yang paling penting—apakah keragaman penjelasan tentang air mempengaruhi keberadaan air itu sendiri sebagai sesuatu yang satu?

Renungkan pertanyaan ini dengan baik. Air itu satu. Tapi yang satu itu dimaknai, dijelaskan, dan diekspresikan melalui ungkapan yang berbeda-beda. 

Sekali lagi saya tanya: Apakah keragaman penjelasan tentang air itu memengaruhi wujudnya sebagai sesuatu yang satu? Pasti, selama nalar Anda sehat, Anda akan berkata tidak. Tidak perlu penjelasan yang rumit untuk menerangkan ketentuan itu.

Barangkali inilah cara termudah untuk memahami keragaman pandangan manusia dalam memaknai sesuatu yang mereka sebut sebagai Tuhan itu. Kita tidak bisa memungkiri ada sekian banyak tafsiran tentang Tuhan di dunia ini.

Tuhan orang Islam berbeda dengan orang Kristen, Tuhan orang Kristen berbeda dengan Tuhan orang Yahudi. Tuhan orang Yahudi berbeda dengan Tuhan orang Hindu. Tuhan orang Hindu juga berbeda dengan orang Budha, dan begitu seterusnya.

Tetapi yang beda itu apa? Yang beda itu hanyalah penjelasan mereka tentang Tuhan. Lalu apakah keragaman penjelasan tentang Tuhan itu dengan serta merta menjadikan Tuhan berbilang sehingga Anda perlu menanyakan Tuhan yang asli? Silakan Anda renungkan sendiri pertanyaan ini dengan baik.

Pertanyaan yang penulis jadikan judul di atas sering terlintas di benak banyak orang, sebabnya, antara lain, karena mereka tidak bisa membedakan antara Tuhan, sebagai entitas yang terpisah dari diri manusia, dengan konsepsi manusia tentang Tuhan yang kerap menimbulkan keragaman dan keberbilangan.

Sekarang muncul pertanyaan baru: kita menyaksikan penjelasan yang beragam tentang Tuhan, lalu bagaimana caranya agar kita tahu bahwa penjelasan tertentu tentang Tuhan itu sudah menjelaskan tentang Tuhan sesuai dengan yang Tuhan inginkan? Bagaimana caranya agar Anda tahu bahwa keyakinan Anda tentang Tuhan itu sudah sesuai dengan yang diinginkan oleh Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa ambil ilustrasi sederhana.

Anggap Anda tidak tahu dan tidak pernah mengenal seorang manusia yang bernama Jokowi. Lalu, suatu waktu Anda berjumpa dengan seseorang yang memperkenalkan sosok Jokowi itu. 


Besoknya lagi, Anda berjumpa dengan orang lain yang juga memperkenalkan Jokowi. Dua hari setelah itu, Anda berjumpa lagi dengan orang ketiga yang juga memperkenalkan Jokowi. 

Sekarang sudah ada tiga orang yang memperkenalkan Jokowi kepada Anda dengan uraian yang berbeda-beda. Dari uraian yang berbeda itu lahirpula gambaran yang berbeda-beda tentang Jokowi di dalam diri Anda. Tapi Jokowinya sendiri itu satu.

Sekarang kalau saya tanya: penjelasan siapa yang paling bisa Anda percayai dari ketiga penjelasan itu? Biasanya, kita akan lebih percaya kepada orang yang lebih dekat dengan sosok yang diperkenalkan ketimbang orang lain yang hanya tahu Jokowi melalui pemberitaan. 

Artinya, kalau yang pertama ini anak Jokowi, yang kedua tetangganya, sementara yang ketiga hanyalah netizen biasa, penjelasan orang pertama sudah pasti lebih Anda percayai ketimbang penjelasan dari dua orang lainnya. Mengapa? Karena dia lebih dekat dan lebih tahu tentang Jokowi yang sesungguhnya. Meskipun penjelasan yang dia sampaikan belum tentu bisa menjelaskan hakikat Jokowi sebagaimana adanya.

Nah, penjelasan tentang Tuhan juga begitu. Memang hakikat tentang Tuhan itu tak akan mampu dijangkau oleh nalar manusia. Kalau-kalau seandainya hakikat itu bisa dijelaskan, berarti Tuhan tersandara dalam keterbatasan. 

Tetapi, kendatipun hakikat Tuhan tidak bisa dijelaskan, penjelasan tentang Tuhan itu ada dan dijadikan sebagai salah satu dasar keyakinan oleh banyak orang. 

Lalu dari mana penjelasan tentang Tuhan itu datang? Macam-macam. Ada yang dari utusan Tuhan, ada juga yang hanya sekedar buatan pikiran. 

Sekarang mana penjelasan yang lebih bisa kita percayai tentang Tuhan itu? Sudah pasti penjelasan dari utusan Tuhan. Mengapa? Karena mereka orang terdekat. Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang Tuhan utus untuk menyampaikan ajaran-ajaran kebaikan. 

Tapi apakah utusan Tuhan itu benar-benar ada? Ada, buktinya dalam sejarah kita mengenal sekian banyak nabi. 


Tapi dengan apa kita bisa menyebut mereka sebagai nabi? Dengan bukti-bukti. Kalau dengan bukti-bukti yang ada itu seseorang layak disebut sebagai nabi—dalam arti utusan Tuhan—maka berarti dia nabi sungguhan. Kalau tidak, berarti itu nabi palsu yang menyebarkan kebohongan. Dan itu juga banyak dalam sejarah. Soal utusan Tuhan itu ada atau tidak, sebenarnya itu diskusi lain yang bisa kita ulas dalam tulisan terpisah.

Yang jelas, kalau kita sudah sampai pada kesimpulan bahwa utusan Tuhan itu ada, maka akal sehat kita tak akan sulit untuk menerima ketentuan bahwa penjelasan tentang Tuhan yang lebih bisa dipercaya dan layak untuk jadikan sebagai dasar keyakinan itu ialah penjelasan yang datang dari para utusan Tuhan itu sendiri, bukan yang lain. 

Dan, yang perlu dicatat, inti dari penjelasan mereka sudah pasti hanya ada satu, tidak mungkin berbilang. Karena Tuhannya juga cuma ada satu. Kalaupun ada perbedaan, perbedaan itu pasti hanya menyangkut soal rincian. Sejauh menyangkut inti, mereka tidak mungkin berbeda. 

Lalu di mana penjelasan yang asli itu bisa kita temukan? Silakan Anda cari sendiri! Sekian.

Artikel Terkait