Kemajuan teknologi digital saat ini telah memberikan sejumlah kemudahan yang sebelumnya tidak pernah dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Salah satu bentuk kemajuan teknologi yang paling banyak memberi kemudahan adalah teknologi smartphone atau telepon pintar yang saat ini telah menjadi instrumen utama dalam segala aktivitas masyarakat modern.

Dalam struktur sosial masyarakat hari ini, ekspansi kemajuan teknologi telepon pintar terjadi begitu masif menginfiltrasi ke dalam sendi-sendi kehidupan. Bahkan dalam urusan personal sekalipun, telepon pintar selalu menjadi alat penolong yang amat berguna.

Fenomena ini seolah menunjukkan bahwa betapa sangat sentralnya sebuah telepon pintar dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Sampai-sampai semua persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dalam kehidupannya pun hampir pasti melibatkan benda canggih tersebut, termasuk dalam aktivitas membaca.

Terkait dengan aktivitas merangkai kata dan makna ini, hampir semua orang saat ini lebih akrab dengan buku digital (e-book) daripada membaca langsung dari buku kertas konvensional.

Pada awalnya, sejumlah pihak mengapresiasi aktivitas membaca melalui gadget canggih ini sejak kemunculannya sebagai terobosan mutakhir di bidang teknologi informasi. Mereka meyakini bahwa benda ini akan meningkatkan kemampuan literasi masyarakat menjadi lebih baik. 

Akan tetapi, beberapa penelitian empiris terkini justru membuktikan sebaliknya; bahwa hal tersebut tidak secara signifikan membuat tingkat literasi masyarakat dunia, termasuk publik Indonesia, tumbuh menjadi lebih baik.

Untuk Indonesia sendiri, tingkat literasi kita berada pada ranking 61 dari 62 negara di dunia (World’s Most Literate Nations, 2019). Padahal, tingkat penggunaan telepon pintar di negara kita termasuk 5 besar dunia (bbc.com). Ini berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat penggunaan telepon pintar terhadap kualitas literasi. 

Penelitian-penelitian ini sekaligus membantah asumsi bahwa membaca dari telepon pintar dapat meningkatkan kemampuan literasi individu secara substansial.

Seiring dengan makin banyaknya penelitian yang mendistorsi kejayaan telepon pintar dalam sektor literasi, dewasa ini muncul berbagai narasi positif yang hendak membangun lagi semangat untuk kembali pada buku kertas konvensional sebagai wahana terbaik dalam mencari informasi dan pengetahuan. 

Narasi-narasi tersebut seolah-olah ingin mengisahkan bahwa betapa cara klasik ini masih tetap asyik di tengah habituasi penggunaan telepon pintar yang makin hari makin menjamur bak cendawan di musim hujan.

Mengintip Bahaya di Balik Telepon Pintar

Meskipun di satu sisi memudahkan aktivitas masyarakat, namun terkait dengan urusan literasi, telepon pintar sesungguhnya masih menyimpan sejumlah kekurangan yang tidak disadari oleh khalayak. Kekurangan dalam penggunaan telepon pintar ini justru berbahaya bagi kualitas intelektual seseorang, sehingga bisa menurunkan kemampuan analisis dalam mengolah informasi. Beberapa bahayanya adalah sebagai berikut:

Pertama, di kutip dari laman Medical Daily, terdapat sebuah studi pada tahun 2014 yang menyimpulkan bahwa kemampuan mengingat informasi penting orang-orang yang membaca buku digital tidak sebanyak orang-orang yang membaca buku berbahan kertas. Para peneliti tidak dapat menentukan penyebab pastinya. 

Akan tetapi, mereka mengasumsikan bahwa hal ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kebiasaan menandai batas halaman bacaan. Buku kertas, secara fisik, bisa dilipat untuk menandai halaman berapa yang terakhir dibaca. Dan kebiasaan tersebut sering kali menggunakan tangan untuk melipat, yang mana inilah yang diduga membantu seseorang untuk bisa menyimpan memori bacaan dengan waktu yang lebih lama.

Selain itu, dengan membaca buku konvensional, dikatakan bisa membuat pembacanya lebih terhanyut dalam cerita bacaannya ketimbang membaca dari buku digital. Hal ini dipengaruhi oleh sensor yang terdapat di dalam jari-jari tangan yang digunakan ketika membolak-balik halaman bacaan membuat perasaan pembaca jauh lebih menyatu karena bisa merasakan ketebalan tumpukan kertas, tekstur kertas, dan sebagainya.

Sementara dalam buku digital, perhatian pembaca jadi lebih terbagi-bagi akibat distraksi. Distraksi atau gangguan ketika membaca jauh lebih banyak ditemukan pada buku digital yang pada akhirnya merusak konsentrasi pembaca. 

Gangguan-gangguan tersebut, antara lain: notifikasi email maupun dari media sosial yang tiba-tiba masuk, tautan ke internet yang biasa terdapat dalam buku digital, serta kemampuan telepon pintar itu sendiri yang juga terbatas untuk selalu tersedia (available), seperti kendala baterai, kemampuan layar, setting pencahayaan, dan sebagainya. 

Hal ini sangat mungkin menjadikan pembaca buku digital mudah teralihkan yang membuat informasi yang sedang dicerna dalam proses membaca tidak pernah tersampaikan secara utuh. Padahal, untuk bisa mendapatkan informasi yang penuh dan menyeluruh, butuh waktu membaca yang panjang dan tidak teralihkan (medical daily).

Kedua, membaca buku digital membuat seseorang bisa mengalami susah tidur atau insomnia. Ini adalah hasil riset dari Harvard University yang menyimpulkan bahwa membaca buku digital sebelum tidur mengganggu produksi hormon melatonin yang merupakan hormon penting yang membantu manusia untuk bisa tertidur pulas.  

Akibatnya, ketika hormon melatonin ini terganggu, maka akan membuat orang kesulitan tidur dan bangun tidak segar. Beberapa penelitian tentang kesehatan sering kali menganjurkan agar manusia tidur dengan waktu yang cukup. Karena jika tidak, maka akan mengakibatkan munculnya beberapa penyakit serius, seperti kardiovaskuler dan penyakit metabolisme, yang mencakup kanker dan obesitas.

Ketiga, membaca buku digital membuat tingkat stres menjadi lebih tinggi. Masih dalam penelitian yang sama seperti di atas, pemakaian telepon pintar atau notebook pada malam hari sangat erat hubungannya dengan pengalaman depresi serta pemicu kelelahan di antara orang-orang yang berusia 22 - 35 tahun. 

Di samping itu, membaca buku digital melalui telepon pintar akan menjadikan orang-orang tidak fokus pada bacaannya akibat banyaknya pengalih perhatian yang kadang-kadang jauh lebih menarik ketimbang isi bacaan itu sendiri. Hal ini tentu tidak akan membuat pengalaman membaca meningkat, yang pada akhirnya menurunkan indeks kualitas literasi seseorang.

Pada akhirnya, membaca buku dari bahan kertas memang tidak secanggih buku digital. Namun, manfaatnya jauh lebih banyak daripada membaca melalui buku digital. 

Buku digital memang memudahkan kita mencari halaman tertentu dalam sebuah bacaan. Tetapi kualitas informasi yang diperoleh, menurut hasil riset yang sudah dipaparkan di atas, jelas tidak sebaik ketika membaca langsung dari buku kertas.

Maka dari itu, mari luangkan waktu membaca buku berbasis kertas demi pengalaman membaca yang jauh lebih sehat dan menyenangkan. Dan semoga dengan sedikit mengubah gaya membaca ini, maka indeks kualitas literasi kita bisa ikutan berubah menjadi lebih baik. Mari membaca buku kertas!