Bagi sebagian orang, menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan. Dari menulis kita bisa menuangkan isi pikiran kita, menggambarkannya dengan kata, dan membuatnya bisa dinikmati banyak orang. Namun ternyata, menulis tidak semudah yang dibayangkan di awal.

Ada beberapa hal yang menjadi hambatan dalam proses saya menulis, dan juga menjadi keresahan beberapa kawan saya yang ingin mulai untuk menulis, di antaranya:

“Bagaimana caranya memulai menulis?”

Pertanyaan seperti ini paling sering diajukan kawan saya, termasuk saya ketika awal menulis. Dalam menulis, memang yang sulit adalah memulai. Kadang kita merasa ingin menulis sesuatu, namun bingung mau menulis apa. Atau sudah tahu menulis apa, namun bingung hal apa saja yang akan dituangkan dalam tulisan.

Selain mengumpulkan niat, proses menulis bisa dimulai dari tahap mencari topik. Tentu saja topik ini bagian yang tidak bisa dilewatkan dalam membuat tulisan. Terkadang tulisan yang tidak berhasil diselesaikan, diawali dari penguasaan topik yang tidak maksimal.

Oleh karena itu, carilah topik yang dekat dengan keseharian kita, atau yang menjadi keresahan. Gunakan indera kita untuk meningkatkan kepekaan terhadap hal di sekitar. Bisa dimulai dari yang sering dilihat, didengar, atau dialami.

Jangan pernah memaksakan diri untuk memilih topik yang agak berat dan jauh dari keseharian kita, justru itu akan mempersulit. Kecuali untuk kebutuhan dunia profesional.

Setelah menemukan topik yang akan ditulis, selanjutnya breakdown topik tersebut ke beberapa poin penjabaran untuk mengembangkan isi tulisan. Dalam tahap ini, kita perlu menemukan poin bahasan untuk membuat tulisan berdiri, kokoh, dan tidak keluar dari topik. Sederhananya, pada tahap ini kita membuat kerangka tulisan.

Saya biasanya melakukan ini dengan membuat coret-coretan terlebih dahulu terkait poin apa yang akan dimasukkan ke dalam tulisan. Cara ini akan memudahkan kita dalam mengembangkan tulisan nantinya. 

Misal topik saya tentang tips diet, saya bisa memasukkan poin tentang urgensi diet, kesalahan soal diet, dan cara diet yang baik. Hal ini bisa dikondisikan lebih lanjut sesuai dengan pesan utama yang ingin disampaikan.

“Saya sudah mempunyai topik untuk ditulis, tapi masih bingung untuk menuliskannya”

Saya selalu ingat salah satu kutipan dari salah satu penulis Indonesia, Alitt Susanto. Dalam kicauannya di Twitter, ia bilang bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang rakus. Kutipan ini sangat jelas maknanya, jika kamu ingin mempunyai tulisan yang baik maka perbanyaklah bacaan yang kamu baca.

Dalam proses penulisan, membaca adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Selain untuk menambah kosakata baru, membaca juga dibutuhkan sebagai salah satu metode mini-riset dalam membuat tulisan. Semakin banyak membaca, semakin banyak informasi yang diserap.

Banyak yang pada akhirnya bingung di tengah jalan karena tulisannya sulit dikembangkan. Untuk mengatasi hal tersebut, kita bisa membiasakan diri untuk melakukan mini-riset secara matang.

Bisa mulai mencari bacaan dari internet, buku, ataupun hasil observasi melalui panca indera. Semuanya guna mengumpulkan informasi untuk ditulis dalam tulisan kita.

Proses breakdown topik salah satunya juga berguna untuk memudahkan dalam proses riset. Dengan melakukan breakdown topik terlebih dahulu, kita bisa mempersempit ruang lingkup hal yang akan digali.

Sehingga dalam proses riset, apa yang akan dicari sudah lebih terarah dan menjadi efisien. Setelah cukup informasi, baru bisa mulai ke tahap selanjutnya yaitu menulis.

“Saya sudah menulis, tapi kadang saya suka lupa apa yang akan saya tulis. Bagaimana mengatasinya?”

Saya teringat salah satu petuah dari dosen saya ketika dalam kelas. Beliau mengatakan bahwa dalam proses menulis memang tidak mudah, harus dibiasakan. Oleh karena itu ketika menulis, tulislah semua yang kamu ingat sekalipun itu berantakan. Lakukan secara disiplin.

Cara ini yang kemudian saya coba terapkan dalam proses menulis, dengan menuangkan terlebih dahulu isi kepala saya dalam tulisan. Tidak peduli tulisan itu banyak typo atau kosakata yang tidak pas, itu bisa diperbaiki belakangan.

Bagi saya cara ini lebih efektif agar ide di kepala dapat dituangkan, alih-alih terlalu fokus dengan perbaikan tulisan. Dengan cara ini setidaknya kita bisa meminimalisir kita untuk lupa mau menulis apa.

Jika semua sudah selesai ditulis, jangan lupa melakukan proses editing atau penyuntingan. Proses penyuntingan minimal melakukan pengecekan tanda baca pada tulisan apakah sudah sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) atau belum.

“Penulisan sudah, penyuntingan juga sudah, apakah sudah selesai?”

Tentu saja belum. Agar tulisan yang kita buat enak dibaca dan minim kesalahan, kita perlu melakukan satu proses lagi yaitu proofreading.

Proofreading adalah proses membaca ulang draft tulisan untuk melihat apakah masih ada kesalahan dalam penulisan atau tidak. Kita bisa melakukannya sendiri atau meminta bantuan teman kita untuk memberi penilaian terhadap tulisan yang dibuat.

Jika sudah dilakukan proofreading dan masih ada kesalahan, kita bisa kembali melakukan penyuntingan. Namun jika tidak ada, kita bisa mulai membagikan tulisan melalui blog, sosial media, atau di media yang menyediakan ruang untuk mengirim tulisan.

“Saya tidak berani membagikan tulisan saya karena masih pemula. Saya takut tulisan saya tidak enak dibaca”

Dalam proses menulis, hubungan antara penulis dan pembaca tidak bisa dipisahkan. Agar tulisan kita berkembang menjadi lebih baik di kemudian hari, kita butuh penilaian dari pembaca.

Karena bagaimanapun yang menikmati tulisan kita adalah pembaca. Jadi kritik dan penilaian itu adalah hal yang biasa, semata-mata untuk mendorong kita berkembang.

Penulis yang baik bukanlah penulis yang tiap tulisannya mengangkat topik yang berat. Namun penulis yang baik adalah penulis yang mampu menyampaikan pesan yang ia sampaikan dalam tulisan, agar mudah dipahami oleh pembaca.

Tulisan adalah media komunikasi, jadi tujuan utamanya untuk menyampaikan pesan kepada penerima secara jelas, yang dalam hal ini pembaca.

Oleh karena itu dalam membuat tulisan, gaya tulisan masing-masing penulis berbeda-beda. . Tidak ada masalah dengan perbedaan gaya tulisan, itulah yang menjadi keunikan masing-masing penulis.

Tips yang biasa lakukan dalam menulis untuk menentukan gaya tulisan yaitu dengan memosisikan diri saya sebagai pembaca. Dengan demikian, saya bisa memahami kalimat mana saja yang sulit dipahami.

Atau bisa juga sambil berimajinasi kita sedang berbicara dengan seseorang. Sehingga gaya tulisan kita jauh lebih santai dan pesan yang ditulis jauh lebih bisa diterima pembaca.

Pada akhirnya, jangan pernah takut dan bingung untuk menulis. Tulislah apa yang ingin kamu tulis. Tidak menjadi masalah mau tulisan kita baik atau buruk.

Belajar menulis sama dengan proses mempelajari hal lainnya. Kita tidak akan pernah tau kualitas kita jika belum pernah mencoba.