Jakarta - Hoax adalah berita bohong yang ikut berpertisipasi melalui infomasi atau berita baik dari media online maupun media cetak. Perubahan zaman menuju transisi teknologi digital menjadi lebih cepat untuk melihat dan membaca berita hoax yang beredar, dengan kepentingan menghujat, ujar kebencian, menghina, mencaci, memaki, saling menjatuhkan satu sama lain, membohongi masyarakat luas dan kegiatan lainnya.

Terkadang membingungkan, kita berpikir benar atau tidak terhadap berita yang Anda diterima? Menjadi persoalan serius, karena yang kita ketahui tentu untuk pengetahuan dan edukasi dalam setiap berita atau informasi yang kita baca. Dengan bebasnya berita bertebaran, membuat Anda mencari refrensi atau sumber yang kuat agar berita tersebut menjadi valid serta tidak ikut serta menyebarkan berita hoax.

Tidak bisa dihindari juga bahwa manusia hanya ikut-ikutan untuk melakukan sharing informasi, yang menurut mereka benar namun belum mengetahui fakta sebenarnya. Apakah itu salah, tentu dipertimbangkan sendiri menurut naluri dan pikiran kita masing-masing, selagi tujuannya hanya berbagi kebaikan untuk sesama "Ya" menurut saya sih tidak menjadi masalah yang besar. Asalkan jangan di bumbu-bumbui atau menambahkan berita yang mencoba mengaruhi orang lain ke arah negatif.

Kelincahan jari manusia termasuk saya, Anda, mereka, dia, kamu, dan siapapun itu? Perlu di proteksi agar tidak terjerumus hal yang menyesatkan dan menyusakan diri sendiri artinya walaupun sangat bebas dan menjadi hak masing-masing individu untuk mengirim berita atau informasi tersebut. Agar lebih selektif dan di analisis guna kesesuaian berita yang anda terima, sehingga hal ini menjadi ancaman secara tidak sengaja untuk mengundang kejahatan berjamaah.

Sadar atau tidak perbuatan dan perilaku manusia dewasa terutama yang sudah bermain dengan media sosial terlalu cepat merespon dan menyimpulkan berdasarkan keputusan diri anda sendiri. Maka dari itu yang sering terjadi lebih mudah tergoda untuk ikut menyebarkan informasi dari orang lain yang tidak tepat, mengarang kata-kata atau beropini seolah-olah pendaptanya benar dan minta perhatian orang lain. Hal seperti perlu di wasapada juga agar tidak berlebihan kepada siapa berita yang akan disampaikan.

Sekarang saya ambil contoh di tengah musibah yang melanda dunia "Covid-19 Virus Corona" terutama yang dialami bangsa Indonesia. Pandangan masyarakat berbeda-beda ada yang percaya ada juga yang tidak percaya terhadapa virus corona, baik melihat dari youtube, televesi, artikel online atau cetak dan media sosial lainnya. Hal ini didapatkan dari sumber yang kurang jelas, lalu ikut membaca artikel dan menonton video kemudian langkah selanjutnya ikut menyebar dan menjadi kebangggan bila berita itu diterima oleh orang lain.

Berikut penulusuran informasi dari JUTINEWS.COM - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) "mengaku sudah memblokir hampir 6.000 situs yang menyebar ujaran kebencian dan berita hoax. Hal tersebut sudah dilakukan sejak bulan Januari hingga Juli. Pihak Kemkominfo menyebut juga bahwa penyebaran hoax paling tinggi pada bulan Januari kemarin. Artinya memang sulit dipercaya mana yang berita asli atau berita palsu, dengan banyak yang beredar dan sebaran berita hoax mau tidak mau atau suka tidak suka kita semua terlibat didalamnya, minimal ikut membaca berita tersebut.

Sedangkan menurut Beritasatu.com - Setidaknya 30 % sampai hampir 60 % orang Indonesia terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi melalui dunia maya. Sementara hanya 21 % sampai 36 % saja yang mampu mengenali hoax.Kebanyakan berita hoax yang ditemukan terkait isu politik, kesehatan dan agama. Ini hasil dari temuan survei Katadata Insight Center (KIC) yang bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta  SiBerkreasi. Hal ini memberikan edukasi tentang berita hoax, agar lebih cerdas dalam menyikapi berita yang beredar serta bukan menjadi santapan berita hoax setiap hari.

Dari penjelasan sumber diatas merupakan titik temu bahwa hoax memang bergentanyangan dalam kehidupan manusia. Hoax sangat mempengaruhi sikap mental dan perilaku masyarakat terutama yang sedang viral saat ini tentang virus corona, ini menjadi bias sehingga masyarakat mulai ketakutan dalam menghadapi situasi seperti ini. Karena berdampak ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia yang menjadi tumbang, akibat pandemi Covid-19 yang makin menggila dan merajalela.

Kepercayaan masyarakat terhadap hoax tidak lepas dari bagaimana mereka mengakses internet, media sosial dan informasi televisi. Sebab semua informasi terpampang dengan jelas mencari apapun bisa ditemukan, berhubung sulitnya membedakan mana berita hoax atau bukan, tentunya kita mengikuti informasi yang diterima dan dibaca karena sumbernya jelas dari situs atau web tertentu. Kemudian bagaimana hoax bekerja, menerima dan menyebarkan berita atau informasi kepada seluruh masyarakat nusantara baik di kota maupun pelosok desa. 

Nah, selanjutnya lebih sederhana bagaimana penanggulangan yang bisa kita kaji lebih dalam dengan istilah "Saring dan Sharing". Ini mudah anda ingat tapi sulit juga untuk dilakukan apalagi sudah di gerogoti berita atau informasi sebelumnya. Jangan merasa puas dan bangga terhadap berita yang kita kirimkan, namun perlu saring dengan baik dengan mencari refrensi terpercaya sehingga pada saat sharing akan lebih positif dan bermanfaat untuk orang lain dengan tidak menyesatkan.