Bagi anak kuliahan, apalagi mahasiswa tingkat akhir, pasti tak asing dengan pertanyaan “kapan wisuda?”. Pertanyaan ini biasanya lebih sering terlontar dari mulut orang tua. Lah wajarkan, soalnya emang kuliah gratis? Atau bayarnya pakai uang monopoli? Apalagi harga SPP yang kian hari kian meningkat, tentu akan jadi beban berat bagi orang tua ketika harus berlama-lama di kampus.

Namun, perjuangan mendapatkan gelar sarjana itu juga tak gampang, harus melewati fase berdarah-darah, apalagi pas berhadapan sama dosen pembimbing yang sering PHP-in. 

Coba Anda banyangkan, waktu pengen bimbingan proposal atau skripsi. Dosen pembimbing janjinya ketemu jam sekian, pas udah susah payah nunggu, eh…saat dihubungi malah beliau jawab "Bimbingannya besok aja yah dek, saya lagi sibuk". Ini tak terjadi satu dua kali, tapi berkali-kali. Lama-lama bisa bikin penuaan dini.

Namun, bagi mahasiswa yang lulus di masa pandemi ini, saya ucapkan selamat atas perjuangan kalian melewati fase-fase yang menyebalkan demi meraih gelar sarjana. Satu hal yang pasti, Anda sudah terbebas dari pertanyaan-pertanyaan “kapan wisuda?” Meskipun wisuda di masa pandemi ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena beberapa kampus terpaksa harus melakukan wisuda secara daring.

Akan tetapi, jangan senang dulu yah gaess, karena pertanyaan kapan wisuda adalah gerbang bagi pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yaitu "kapan kerja?" Pertanyaan ini wajar, karena bagi sebagian orang, kuliah dianggap sebagai mobilitas untuk memudahkan seseorang memperoleh pekerjaan, tujuannya agar bisa mengubah nasib menjadi lebih baik. Makanya, tak jarang kita dengar kalimat sarkas yang dilontarkan kepada kaum perempuan "Lha, kalo ujung-unjungnya di dapur buat apa sekolah tinggi-tinggi".

Namun, pertanyaan “kapan kerja?” yang sering keluar dari mulut kerabat dan kawan setongkrongan, bukanlah jenis pertanyaan yang mudah dijawab. Karena di balik pertanyaan itu ada tuntuntan yang cukup sulit dipenuhi. Kadang bikin stress boss.

Saya sendiri masih ngerasain, bagaimana beban batin yang saya alami ketika masa-masa fresh graduate. Pertanyaan-pertanyaan seputar: “Kapan kerja? Sudah nyetor lamaran di perusahaan mana saja? Dan sudah ada panggilan wawancara belum?” Tak henti-hetinya dilontarkan kepada saya. Padahal mereka tak tau saja, saya ini udah militan nyetor lamaran sana-sini.  

Sulitnya mendapatkan kerjaan, tak hanya dirasakan oleh saya, tapi juga teman sealumni, sehingga jika salah seorang di antara kami punya informasi lowongan kerja. Kami akan saling berbagi lewat grup WhatsApp, kemudian serentak nyetor lamaran kerja.

Bahkan demi untuk memperbesar peluang mendapatkan pekerjaan, kami juga rajin mengikuti kegiatan Job Fair. Rela berdesak-desakan dengan pencari kerja lainnya, dari pagi hingga sore, tapi kadang hasilnya tetap nihil. Memang nyari kerjaan itu gampang-gampang susah, nyarinya gampang dapatnya yang susah.

Sempat berkontemplasi dan belajar dari kegagalan membuat saya lebih teliti baik dalam hal membuat CV. sampai mengikuti seminar pencari kerja. Hasilnya, beberapa perusahaan sempat menghubungi saya untuk mengikuti tes tertulis dan wawancara. Namun, sial betul, belum ada satu pun perusahaan yang benar-benar memberikan saya kesempatan untuk melangkah ke tahap selanjutnya.

Kegagalan yang terus menerus hadir, sialnya sering dibarengi perasaan putus asa. Hal yang kemudian membuat saya jadi penganggurang selama hampir dua tahun lamanya, sebelum akhirnya saya benar-benar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak seperti sekarang ini.

Nah, jika dibandingkan sebelum hadirnya pandemi, tentu di masa sekarang, nyari kerjaan sangatlah susah, hal itu karena korona bukan hanya mempengaruhi sektor UKM namun, perusahaan-perusahaan besar pun berdampak imbasnya. Dikutip dari katadata, data Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan per 20 April 2020, jumlah pekerja yang terdampak COVID-19 sebanyak 2.084.593 orang yang berasal dari sektor formal maupun informal dari 116.370 perusahaan.

Dari jumlah tersebut, jumlah pekerja formal yang dirumahkan adalah 1.304.777 dari 43.690 perusahaan. Sedangkan 241.431 pekerja formal dari 41.236 perusahaan sudah di-PHK. Sektor informal juga terpukul karena kehilangan 538.385 pekerja yang terdampak dari 31.444 perusahaan atau UMKM.

Nah, jadi bisa dibayangkan, bagi fresh graduate di masa pandemi tentu akan sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan. Selain karena iklim ekonomi yang kurang baik, persaingan untuk mencari pekerjaan pun bertambah ketat. 

Bukan hanya sesama fresh graduate, tapi jobless sebelum pandemi, juga para karyawan yang terkena PHK. Mereka akan ikut serta dalam persaingan mencari kerja. Tentu mendapatkan pekerjaan akan lebih sulit, bukan?

Namun, sama halnya wisuda di masa pandemi yang membuat Anda lebih irit, karena tak usah bayar ini-itu untuk seremoni membalikkan tali toga. Fresh graduate yang belum mendapatkan pekerjaan di masa pandemi juga bisa memanfaatkan situasi ini agar terhindar dari pertanyaan, "kapan Kerja?" 

Lha, kalo ditanya kan gampang, tinggal ngomong: karena corona nyari kerja jadi susah, banyak perusahaan bukannya nyari karyawan malah mengurangi karyawan lewat PHK. Gampang kan?

Nah, jadi bagi Mahasiswa yang sudah memperoleh gelar sarjananya, silakan menghabiskan masa hibernasi dengan bersantai ria tanpa gangguan.