Si sulung lahir 2 tahun sebelum adiknya. Kulitnya lebih gelap dan hidungnya lebih mungil. Meskipun mereka berbeda jenis kelamin, namun kecemburuan fisik ini cukup mengganggu anak perempuan saya. 

Lingkungan sekitar ikut berperan membentuk stigma pada gadis kecil itu bahwa ukuran kecantikan dilihat dari warna kulit, tinggi badan, bentuk wajah, dan pritilan-pritilan lain yang dengan jelas faktor-faktor tersebut bukan kuasa manusia untuk menentukannya. Nilai-nilai dalam masyarakat tersebut sering berkembang menjadi perundungan dan body shaming terhadap seseorang, dan tanpa disadari akan menentukan perubahan kejiwaan. 

"Kok putih adiknya.", "Adiknya lebih cantik padahal cowok.", "Beda ya, adiknya mirip anu, kakaknya mirip anu." Dan banyak lagi komentar terhadap fisik, yang sebetulnya tidak pantas disampaikan alias komentar sampah, tetapi latah disampaikan orang. 

Kebiasaan mengomentari dan kebiasaan membandingkan urusan orang lain banyak berkembang menjadi kebiasaan nyinyir. Kebiasaan-kebiasaan tersebut pelan-pelan mengubah kepribadian korban menjadi insecure dan minder, merasa tidak berguna, terasing, tidak bersyukur, bahkan dendam.

Butuh proses panjang menjelaskan kepada anak perempuan saya bahwa kecantikan itu sifatnya relatif. Perempuan berkulit hitam itu cantik, perempuan berhidung pesek itu cantik, perempuan gemuk itu cantik, selama mereka bisa menghargai diri sendiri. Ketika kita tidak mencintai diri sendiri, berarti kita tidak berterima kasih kepada Tuhan yang memberikan anugerah kehidupan kepada kita.

Tapi bagaimana gadis kecil yang baru menginjak usia 8 tahun bisa memahami bahasa orang dewasa itu? Sulit. 

Suatu hari dia bertanya, "Ibu anaknya 2, kenapa yang satu kulit putih satunya hitam? Satunya mancung satunya pesek?" Di waktu lain dia meminta, "Ibu, boleh gak kepalaku ditukar sama bule yang putih itu?" Ketika saya menjawab, "Kamu kan udah cantik, kenapa harus diganti?" Anak itu tetap tidak terima, "Nggak cantik, aku mau punya kulit putih!"

Konstruksi sosial seperti ini memang warisan zaman kolonial. Kita berkiblat pada ukuran penjajah, kita masih terbayang bahwa kita adalah manusia kelas bawah dan mereka kelas atas. Ukuran kesuksesan hidup diambil dari bentuk kesuksesan mereka, makanan enak adalah makanan yang tersaji di atas meja-meja makan mereka, baju bagus adalah seperti yang mereka kenakan dan paras elok adalah wajah-wajah mereka.

Padahal setiap bentuk ciptaan Tuhan adalah istimewa. Namun sebagian manusia dengan semena-mena merusak stigma tentang fakta itu. Dunia menjadi berkelas-kelas, sehingga lahirlah penyakit rasis, stereotype, dan diskriminasi sosial.

Penyakit-penyakit tersebut dengan pelan menyatu dalam darah kehidupan bermasyarakat, orang-orang berlomba menempati kelas yang lebih tinggi dari orang lain. Ketika mereka tidak benar-benar menempati kelas atas, mereka membuat kelas sendiri, belajar bagaimana orang kelas atas menjalani hidup lalu menirunya, sehingga kiblat kepada para penjajah belum sepenuhnya bergeser.

Beberapa waktu lalu saya nonton film Imperfect (2019) yang disutradarai oleh Ernest Prakasa. Film ini saya rasa cocok untuk penonton seperti saya yang sedang mencari jawaban bagaimana mencintai diri sendiri secara utuh untuk mengubah pandangan anak perempuan saya terhadap dirinya.

Film yang dibintangi oleh Jessica Mila dan Reza Rahardian itu mengisahkan tentang anak gadis bernama Lala (Jessica Mila) memiliki postur tubuh gemuk, dengan kulit sawo matang dan rambut keriting. Ciri fisik tersebut bertolak belakang dengan adik dan mamanya yang langsing, berkulit putih terawat dan berambut lurus. Lala mewarisi gen dari sang ayah.

Teman-teman mamanya selalu membandingkan Lala dengan sang adik. Perlakuan mamanya juga lain kepada dua anak perempuannya. Meskipun tujuannya untuk memotivasi Lala diet dan menjaga penampilan, namun Lala merasa mamanya tidak adil dan pilih kasih. 

Lala bekerja sebagai manajer riset di sebuah perusahaan kosmetik. Suatu hari dia mendapatkan peluang naik jabatan karena prestasi kerjanya. Namun sayang, Kelvin, sang bos justru mengatakan bahwa isi kepala saja tidak cukup. Kelvin mengharuskan Lala mengubah total penampilan dalam waktu sebulan.

Di sini awal konflik film ini mulai memuncak. Meskipun Dika (Reza Rahardian) sebagai pacar tidak pernah mempermasalahkan penampilan fisik Lala, karena Lala memiliki karakter yang baik dan menyenangkan, tetapi Lala bertekad mengubah dirinya demi karier. Niat tersebut disambut baik oleh ibu dan adiknya. 

Berkat kerja kerasnya untuk mendapatkan tubuh proporsional dan tampilan yang cantik, dia berhasil naik jabatan. Namun perubahan fisiknya ternyata mengubah kepribadian dan caranya bergaul. Dia menjadi diterima orang-orang "berkelas" yang dulu menolak dekat dengannya. Hasilnya, Lala menomorsekiankan sahabat dan pacarnya yang selama ini setia menemaninya.

Akhir cerita, Lala menyesali perbuatannya. Dia tetap merawat penampilan tetapi tidak menolak ajakan makan sahabat dan pacarnya demi diet ketat. Lala kembali gemuk namun tetap cantik dan tetap menjadi manajer perusahaan karena prestasi kerjanya.

Di penghujung film, disampaikan pesan moral bahwa semua perempuan itu cantik. Rambut keriting dan kulit hitam, cantik. Gigi gingsul dan tidak rapi, cantik. Punya tompel, cantik. Gemuk, pendek dan punya dada besar juga cantik.

Pesan moral dari film itu akan saya sampaikan kepada putri saya. Cantik itu hanya konstruksi sosial, tidak perlu minder. Cantik itu kondisional, tidak perlu mengikuti ukuran orang lain. Cantik itu relatif, setiap orang punya definisi dan penilaian berbeda, meskipun ada patokan-patokan yang dipaksakan.

Tidak perlu terlalu mengkhawatikan kecantikan fisik karena masih ada kebaikan hati dan kecerdasan yang lebih bermanfaat untuk dunia. Sekali lagi, tidak perlu insekyur dan harus bersyukur.