"Kamu adalah perempuan paling cantik di negeriku Indonesia. Kamulah yang nomor satu. Aku tak akan bisa sukai lagi perempuan yang lainnya."

Begitu lirik lagu dari Dewa 19, perempuan paling cantik di negeriku Indonesia. Jika mendengar lagu ini, mungkin sebagian dari kita akan klepek-klepek, dipuji cantik gitu lho, oleh Dewa 19. Ih, bisa jadi Geer sendiri. Padahal, lagunya, buat siapa coba?

Siapa sih yang tidak suka dibilangin cantik? Menurutku, setiap perempuan pasti mau dikatakan cantik. Apalagi dipanggil, hai, cantik.  Seperti lagu cantik oleh Kahitna:

"Cantik, ingin rasa hati berbisik, untuk melepas keresahan dirimu. Cantik, bukan kuingin mengganggumu, tapi apa arti merindu selalu."

Ngomong-ngomong soal cantik, kemarin aku posting status di WhatsApp, foto Atiqah Hasiholan dengan anaknya, Salma yang sangat kiyut itu dengan satu kata, caption: cute. Aku memang suka sekali melihat paras cantik milik Atiqah.

Dan ditanggapi oleh sahabatku, Esty dengan chat japri, seorang perempuan Jawa yang cantik bermuka keibuan dengan kata; Atiqah? Dia Batak yang cantik BGT, ya?

Perempuan saja saling mengagumi kecantikan perempuan lain. Bukan untuk membuat cemburu, tapi sebagai semangat memperbaiki cara memandang hidup, yaitu semangat menjadi perempuan tanpa kosmetik (cantik alami) ataupun dengan berbagai kosmetik.

Aku jawab; iya say, dia cantik, suaminya cakep. Batak memang cantik. Duma Riris juga, istri Judika si penyanyi.

Ditanggapi oleh Esty; sekalinya cantik, cantik BGT. Duma juga cantik BGT.

Aku jawab lagi; Atiqah mungkin cantik BGT karena blesteran Arab. Jadinya, Cantik pakai BGT. Lalu kubilang, orang Jawa juga cantik-cantik, cantiknya lembut sekali.

Kata Esty, blesteran memang cantik-cantik. Lalu dia bilang, dia suka cantik khas Batak, karena cantiknya tegas.

Ngomong-ngomong soal cantik blesteran, para 'penganut blesteran' banyak kok yang suka tinggal di Indonesia. Mungkin, karena sudah lahir di Indonesia, tinggal di sini, sehingga darah Indonesianya telah mendarah daging. Apalagi, sudah makan nasi Padang atau sego Pecel, ya. 

Cantik di bawah Umur dan di Atas Umur 30 Tahun

Kata sepupuku yang bisnis kosmetik; cantik di bawah umur 30 tahun itu ditentukan oleh keturunannya, sedangkan cantik setelah di atas 30 tahun ditentukan oleh skincare-nya, kosmetiknya.

Bisa saja benar. Apa-apa, kalau tidak dirawat, dijaga, dan diperbaiki memang akan rusak. Dan anugerah pemberian Tuhan itu memang wajibnya "dilestarikan" agar tidak "punah dan langka".

Seperti selebritas di bawah ini, mereka berumur 30 tahun lebih bahkan menjelang 40 tahun. Kelahiran tahun 1980-an, tapi tidak kalah cantiknya dengan kelahiran 1990-an. Sebut saja; Dian Sastro, Marsha Timothy, Mariana Renata, Renata Kuswo, Raline Shah, sampai Wulan Guritno.

Mereka memang pada dasarnya cantik, kemudian dirawat dengan perawatan tradisional dan modern, baik di rumah maupun di salon. Kemudian, pola makan dan pola hidupnya juga terjamin. Terjamin dalam arti, mereka ingin hidup berkualitas dengan memberikan yang terbaik bagi kehidupan dan kecantikan mereka.

Cantik karena Dicintai

"Memang lagi syantik, tapi bukan sok syantik. Syantik-syantik ini memang untuk dirimu."

Begitu lirik lagu Syantik dari Sibad, versi cantik alias syantik dari Sibad ketika dia merasa dicintai seseorang, sehingga dia menjadi cantik. Karena dia, Sibad juga mencintai seseorang tadi, dia pun tampil cantik. 

Sejalan dengan prinsip Pangeran dalam soundtrak musik Cinderalla, Do I love you because you're beautifull or are you beautifull because I love youApakah aku mencintaimu karena kamu cantik, atau kamu cantik karena aku mencintaimu?

Bagiku, yang jelas, menjadi cantik harus tetap menjadi diri sendiri. Bukan karena ingin 'mempersembahkan diri' pada seseorang, namun memang ingin menjadi cantik dan keren karena kecantikan adalah kekuatan menurut pepatah Cina. 

Jadi, menjadi cantik untuk menguatkan diri sendiri di era milenial ini, di mana hampir semuanya dilihat dari casing, atau cover.

Ketika kita disukai karena sampul kita, alias dari tampilan 'kulit luaran', menurutku, tidak akan abadi. Walaupun memang, seperti bahasa iklan; pandangan pertama yang membuat tergoda, namun selanjutnya memang terserah Anda.

Apakah Anda melihat seseorang dari kualitas-kualitas lainnya, seperti; kebaikan hatinya. Seperti karakter-karakter yang ramah, mandiri, menghargai perbedaan, cinta tanah air, dan lain sebagainya.

Karakter-karakter di ataslah yang membuat seseorang menjadi cantik yang sesungguhnya, cantik (ala) Indonesia. Karena, siapa yang mencintai tanah air kita Indonesia kalau bukan kita? Siapa yang akan bertoleransi kalau bukan kita di negara yang berbeda-beda SARA ini?

Siapa yang hidup mandiri kalau bukan kita bangsa Indonesia yang suka bekerja keras? Siapa yang ramah kalau bukan kita di era yang penuh amarah dan emosi ini?

Sehingga ketika kita melihat ke cermin seperti kisah dalam cerita Putri Salju, Snow White; Mirror-mirror on the wall, who is the fairest of them all? Cermin-cermin di dinding, siapa yang tercantik di antara mereka?

Dan cermin ajaib akan menjawab, You are, Majesty. Kamu yang mulia.

Kamu cantik, kamu mulia ketika memiliki karakter yang cantik lagi baik. Kita semua cantik, karena kita Indonesia dari belahan daerah mana pun, dari suku apa pun, dari keturunan siapa pun. Jadi, begitu ya, cantik? Cantip! 

Sttt, jangan lupa mandi pagi, ya. Upppsss...