Bagi Nadine, mengikuti upacara bendera adalah hal yang menyebalkan. Jarak rumah ke sekolah yang cukup jauh harus dia tempuh dengan sepeda kayuh. Upacara bendera setiap hari Senin membuatnya payah berpeluh. Setiap Senin dan hari-hari besar lain, Nadine harus bangun lebih pagi. Jika tidak, maka dia harus berjibaku dengan raungan motor dan mobil berkejaran saling memburu.  

Lapangan sekolah tempat Nadine upacara cukup gersang, tak satupun pohon yang agak besar dan rindang terlihat. Susunan upacaranya pun tak pernah berubah dari dulu: hormat - kibar bendera - baca Pancasila - baca UUD - amanat pembina. Amanat pembina adalah puncak kesengsaraan itu. Banyak korban berjatuhan—pingsan.

Nadine tidak habis pikir kenapa guru-gurunya hobi sekali mendongeng saat sesi amanat. Padahal barisan depan sudah bertumbangan, berperang melawan kebosanan dan kekurangan cairan. “Kenapa teks pidatonya gak dikirim via WA aja sih, kan simple, gak bikin lama! Dasar guru gak peka!” pikir Nadine bersungut-sungut.

Sudah 2 hari ini Nadine gagal membujuk mama. Dia minta dibuatkan surat sakit supaya tidak perlu ikut upacara 10 November esok hari.

 “Masak hari libur suruh ke sekolah hanya buat upacara Ma?” dalih Nadine.

 “Gak! Kamu harus ikut, apalagi ini upacara 10 November. Itu bentuk penghormatan kepada para pahlawan. Karena mereka kita bisa hidup bebas dan nyaman seperti sekarang!” tegas mama.

“Oke, tapi aku diantar ke sekolah seperti anak-anak yang lain ya Ma?” rayu Nadine sekali lagi. Mama hanya terdiam dan menatap Nadine tajam.

Nadine mendengus dan berlalu tanpa bisa berkata-kata. Dia sadar betul siapa mamanya, seorang istri prajurit yang biasa ditinggal papa dengan 3 anak selama berbulan-bulan, membuat mama menjadi wanita kuat, disiplin dan tegas, tidak kalah dari papa.

Nadine merebahkan tubuh ke kasurnya yang nyaman. Hatinya masih dongkol dengan sikap mama. ”Mama gak asyik!” batin Nadine kesal. Nadine memasang headset ke telinga, menyetel lagu anime red swan favoritnya. Tak lama kemudian, matanya terasa berat. Perlahan, kedua mata Nadine memejam dengan sendirinya. Meninggalkan headset yang masih bertengger di telinganya….

***

Dor! Dor! Dor! Terdengar serentetan tembakan dan dentuman di sekitar Nadine. Dari sisi kanan, dia mendengar namanya dipanggil. “Nadine!” Nadine langsung menoleh dan melihat seorang perempuan mengenakan dress putih dengan topi berwarna senada layaknya seorang perawat, sedang berjalan ke arahnya. “Kau di sini ternyata! Ayo balik ke barak!”

Sesaat Nadine tercenung. “Ini dimana? Kenapa begitu bising dan berantakan?” gumamnya. “Ayo Nadine! cepetan!” tegur perawat itu sambil menarik tangan Nadine, tanpa memberinya kesempatan bertanya sedikitpun.

Sampailah Nadine di sebuah barak. Terlihat korban-korban bergelimpangan di mana-mana, ada yang di atas dipan, bahkan ada yang tergeletak begitu saja di lantai tanah. Beberapa korban mengalami luka tembak di kaki, ada yang luka di tangan, di pelipis, bahkan luka-luka di sekujur tubuh. Tak jauh dari Nadine berdiri, selembar kain putih yang menutupi seseorang tersingkap, nampak seorang korban terbujur dengan perut yang menganga.

 Nadine menutup mulutnya tidak tega melihat pemandangan mengerikan itu. “Kamu bagian pasien pojok kanan dan sebelahnya. Cek persediaan obat, bersihkan luka, segera pasang perban!” perintah kakak perawat.

 Dengan tubuh gemetar, Nadine mendekati salah satu korban. Seketika ia merasa bersyukur sudah menuruti saran mama mengikuti ekstrakulikuler PMR di sekolah. Mamanya yang perawat selalu menanyakan apa yang sudah dipelajari. Terkadang mama mengajak Nadine untuk mempraktekannya di rumah.

Korban itu terkena pecahan martir. Seluruh jari tangan kanannya hancur. Tangan kirinya memegang tangan kanannya sambil mengerang kesakitan. Bau anyir darah membuat Nadine ingin muntah, tetapi rasa tidak tega menepis semua keraguan Nadine.

“Ambil nafas ya Pak. Saya akan membersihkan luka sampeyan pelan-pelan,” kata Nadine setengah berbisik kepada korban. Perlahan Nadine menyiramkan air ke tangan yang tak lagi berjari itu. Wajah korban putih memucat. Tetes demi tetes keringat mengalir deras di wajahnya.

“Allah, Allah! Astaghfirullah!” jerit korban menahan sakit, tepat saat Nadine berhasil membalut perban di seluruh bagian tangan korban.

“Maafkan saya…maafkan saya…!” Nadine berteriak ketakutan.

“Gak pa paa Dek. Maturnuwun su…sudah bb..bantu tolong sayaaah. Si…apa namamu?” tanya prajurit itu. Suaranya masih terbata-bata, menahan pedih tak terkira.

“Nadine.”

“Nn..nadine?” tanya prajurit itu heran

Belakangan Nadine tahu, pasien yang baru saja dia rawat bernama pak Ahmad. Ia datang dari kota sebelah. Pak Ahmad adalah seorang santri yang ikut bertempur membantu pasukan di tempat itu.

Pagi itu desa Candi tempat Nadine berada telah luluh lantak karena serangan canon bertubi-tubi tentara Belanda. Tidak hanya prajurit, banyak warga sipil yang terkena imbasnya. Rupa-rupanya rahasia tempat itu sebagai gudang logistik tentara nasional Indonesia sudah tercium oleh pasukan Belanda.

Sering mendapatkan serangan dan teror dari tentara Belanda tidak membuat nyali warga Candi ciut. Semangat warga Candi dan sekitarnya tidak pernah surut. Bahu membahu membantu pasukan dengan apapun yang mereka mampu. Tak heran banyak anak-anak belasan tahun seusia Nadine keluar masuk barak tentara dan dapur umum membantu prajurit yang terluka ataupun membantu memasak makanan untuk tentara nasional.

“Tetap hati-hati dan waspada dengan apapun di sekitarmu. Kita tidak pernah tahu nasib kita kelak. Terus berjuang, tapi jangan lupa menyerahkan semuanya kepada Allah,” pesan Pak Ahmad sebelum Nadine pamit menuju tenda lain yang membutuhkan tenaganya.

Semakin siang, suasana semakin mencekam. Dari kejauhan terdengar deru pesawat dan bunyi dentuman canon membahana, memekakkan telinga. Teriakan dan tangisan warga riuh rendah menambah kengerian.

Canonade! Canonade! Metu kabeh! Mlebu Sigedong!”

Sebuah teriakan kapten Toegiran, komandan sektor tengah Karanganyar membuat semua orang di dalam tenda pengobatan maupun dapur umum berhamburan ke luar.

Nadine berlari tak tentu arah. Bruukk! Gubrakk! Ia tertabrak dari arah kanan maupun  kiri, kakinya terinjak-injak orang-orang yang berlarian berlawanan arah. Langit menjadi gelap dipenuhi pesawat capung tentara Belanda. Seketika kilatan cahaya menyilaukan melingkupi langit Candi.

Blyaarrrrrrrr!!!

***

“Nadine! Bangun! Sudah mau maghrib” suara teriakan mama sontak membangunkan Nadine dari tidurnya. Seluruh tubuhnya telah kuyup bermandikan keringat.“Tuhan, terima kasih aku masih hidup,” bisik Nadine lirih.

Masih terbayang-bayang dengan mimpinya baru saja, tak lama kemudian Nadine membuka laptopnya. Ia mengetik kata kunci: pertempuran desa Candi. “Ini dia, Ca-no-na-de!” Nadine berteriak kegirangan.

Di mesin pencarian itu, Nadine menemukan sebuah kalimat: Letnan Muda Soehari, terkena pecahan meriam di muka setelah berlindung di bawah jembatan kereta api Karanganyar. “Pak Ahmad juga cerita dia dan beberapa prajurit berlindung di bawah….” Tak bisa menahan perasaan, Nadine melompat menuju ruang tamu yang banyak berisi foto-foto keluarga.

Sebuah foto lawas hitam putih namun masih terlihat jelas memperlihatkan 2 orang laki-laki dewasa berdiri bersebelahan. Seorang memakai baju tentara jaman dulu, dengan wajahnya yang tidak sempurna. Sementara di sebelah tentara itu adalah seorang yang tak asing baginya, mengenakan peci dan sarung menyilangkan tangan kanan yang tak lagi berjari.

 “KH. Ahmad Ghaiti dan Letnan Soehari….” Nadine membaca tulisan di foto itu perlahan, namun gemuruh di dadanya nyaris tak tertahan.

Nadine memacu sepedanya cepat-cepat. Ia tidak mau lagi kehilangan momen penting itu. Sayup-sayup terdengar lagu Indonesia Raya berkumandang…Indonesia raya, merdeka, merdeka!

Setetes air meluncur deras di pipi Nadine, namun senyuman indah tersungging di bibirnya,”Aku akan selalu ingat pesanmu…Eyang.”

Kebumen, 2020

Keterangan:
Sampeyan : anda
Maturnuwun : terimakasih
Canon : bom
Canonade : hujan canon; pertempuran di desa Candi, kecamatan Karanganyar, kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Hari Minggu Wage 19 Oktober 1947
Metu : keluar
Kabeh : semua
Mlebu : masuk
Sigedong: nama gua di desa Candi