Membaca kolom Cania dan tulisan Maman Suratman tentang ucapan Menteri Khofifah soal seks bebas di kalangan mahasiswa sangat menggairahkan dan lucu. Setidaknya libido saya yang seminggu terakhir menurun akibat pemberitaan rencana demo tanggal 4 November kini bergairah kembali.

Lucu karena keduanya menggebu dan terlalu serius menanggapinya. Padahal membicarakan soal seks itu perlu suasana santai; jangan buru-buru karena Anda tidak akan bisa menikmatinya.

Saya contohnya, saat menulis artikel ini, saya sambil membayangkan sedang bercinta dengan Cania di atas piano, yang sesekali dengan jemari lentiknya dia memainkan lagu Begadang-nya Bang Haji.

Di paragraf lain, saya juga membayangkan Maman Suratman sedang masturbasi di kamar kosnya yang pengap sambil membaca Philosophy in Bedroom karya Marquis de Sade.

Ini bukan otak mesum, tapi saya sedang menikmat imajinasi tanpa pintu; bukan asmara, eh asrama tanpa pintu.

Berpolemik soal ucapan Menteri Khofifah mengenai dunia perlendiran di kalangan mahasiswa, sebagai orang terpelajar, sungguh Cania dan Maman Suratman tidak adil sejak dalam pikiran. Ucapan Ibu Menteri yang sebenarnya sangat lucu ini menjadi begitu garing akibat cacat imajinasi kedua orang ini.

Janganlah kelucuan sebagai hiburan satu-satunya di negeri ini kalian renggut juga. Biarkan para pejabat menjadi komedian di atas panggung ketidaktahuannya akan berbuat apa untuk bangsa ini.

Alih-alih membela kekebasan di ranah privat, justru Cania dan Maman Suratman menjadi bahan olok-olok para mahasiswa. Kata para mahasiswa, “Kami tidak usah dibela. Bagi kami, rumah kos atau asrama berpintu banyak pun, seks tetap bisa kami nikmati."

Jadi kalau ada pikiran apa nikmatnya seks tanpa kebebasan, pasti orang itu tidak profesional; atau jangan-jangan salah posisi? Lah wong namanya saja seks bebas, pasti tidak mengenal ruang dan waktu.

Sebenarnya apa yang disampaikan oleh Menteri Khofifah bukanlah hal baru dan tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Asrama atau kos mahasiswa, dari zaman Pak Harmoko masih jadi menteri, juga sudah ‘tanpa pintu’.

Ide Ibu menteri ini sebenarnya sudah basi bagi para mahasiswa atau setidaknya para pemilik kos. Karena untuk urusan seks, memang mahasiswa tidak perlu dibela atau diajari lagi dengan berbagai model pintu.

Referensi mereka begitu canggih. Tinggal copy paste. mau gaya anggota DPR, Aa Gatot, atau ala artis? Semua ada!

Di zaman ini, di mana kos-kosan dijadikan lahan bisnis, kontrol masyarakat tidak penting lagi. Makin jauh dari masyarakat, makin banyak diminati. Tinggal pilih: dari mulai kos campur laki dan perempuan, ada; asrama yang bisa diakses 24 jam, banyak; atau kos model apartemen bagi mahasiswa yang berkantong tebal.

Untuk urusan seks, jangan khawatir; tidak bakal dirazia laskar-laskar moral berkedok agama.

Kos primordial berlabel “Kos untuk Muslim” dan kos yang tidak gaul yang ada aturan macam “Tamu Pria Dilarang Masuk Kamar” atau “Jam Berkunjung Maksimal Pukul 20.00" tidak akan laku lagi saat ini.

Mereka bilang begini ke pemilik kos, “Pak, kami ini aktivis, setiap malam berdiskusi merancang aksi demo dan merumuskan strategi advokasi untuk rakyat tertindas. Tidak mungkin diskusi dibatasi sampai jam 20.00! Apa kata pacar kami nanti, lho?"

Membantah kalau kos atau asrama mahasiswa tidak dijadikan medium seks bebas? Makin Anda membantah, makin Anda ditertawakan.

Kemudian menganggap seks tidak akan dilakukan mahasiswa karena mereka golongan terdidik? Sungguh sebuah pernyataan berhalusinasi dan pembodohan. 

Karena saat bersenggama, vagina maupun penis tidak akan saling bertanya, misalnya, “Hei, penis, apa pendidikanmu? Kok berani masuk ke dalam rumahku?" Atau si penis akan bertanya, “Vagina, sebelum saya masuk, izinkan saya bertanya, apa agamamu?"

Untuk bersenggama, ketika Anda sudah horny, tidak penting apa pendidikan, agama, atau sukumu. Kalau sudah kebelet, silakan nikmati.

Jadi tidak perlu menuntut perlakuan yang sama, sampai perlu menggunakan CCTV kepada para pejabat atau anggota DPR. Wong kelakuan mereka sama kok. Mahasiswanya doyan seks, para pejabat dan anggota DPR-nya korup. Mau menggunakan standar nilai apa pun, perilaku mereka sangat tidak layak.

Menjadi lucu ketika di satu sisi mempertanyakan campur tangan pemerintah soal urusan privat warganya, di sisi lain menyuruh pejabat menyiarkan kehidupan pribadinya.

Bukan berarti saya tidak menghargai kebebasan atau hak-hak privat. Hanya saja, kalau saat ini masih menganggap mahasiswa itu hebat dan membela hak-hak mereka, sungguh sebuah kesia-siaan.

Karena di saat yang sama, mahasiswa yang katanya agen perubahan, semua membisu ketika ada perusakan lingkungan oleh korporasi, ketidakadilan oleh penguasa, dan kebinekaan terancam oleh kelompok intoleran. Ke mana mereka?

Lalu membayangkan mahasiwa sekarang kesusahan dan hanya mampu makan mi instan, saya tepuk jidat. Bukankah itu dongeng dua puluh tahun yang lalu? Saat ini, tolok ukur kesusahan mahasiswa adalah seberapa banyak kuota internet yang ada di HP mereka.

Oh iya, ingin tahu keluhan mahasiswa sekarang apa? Bukan lagi soal ketidakadilan sosial, melainkan biaya kuliah yang makin mahal, pembubaran diskusi yang makin brutal, atau makin tidak diminatinya lagi organisasi-organisasi ekstra kampus.

Keluhan mereka sekarang adalah “HP saya kurang canggih”, “Aduh, AC kamar kostu nggak dingin lagi”, “Jangan selfie di tempat itu, sudah terlalu ramai, nggak keren”, atau “Sekarang nongkrong di Starcbuck tidak asyik lagi, ya”. Ah, sudahlah.