Media sosial adalah sebuah media daring yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Kehadiran media sosial ini membentuk motivasi yang beragam dari para penggunanya mulai dari mencari eksistensi, menghibur diri bahkan hanya sebagai alat komunikasi. Padahal potensi dari media sosial tak seremeh ketiga hal ini.

Jika ditelaah dari sisi bahasa, dalam istilah media sosial terdapat kata media yang artinya alat, cara, sarana atau perantara. Definisi ni mengindikasikan bahwa media sosial itu harus bisa menjadi alat atau sarana bagi kita untuk mengembangkan potensi diri dan mencapai purpose of life (tujuan hidup) dengan cara menyeleksi bahan konsumsi dalam media sosial itu sendiri. 

Setelah menetapkan tujuan hidup maka gerak-gerik dan isi konsumsi kita di media sosial haruslah selaras dengan tujuan yang sudah kita tetapkan. Adapun setiap gerak-gerik bisa dilakukan dari mengikuti orang-orang yang bisa mendukung kehidupan spiritual, minat, bakat dan spesifikasi kemampuan yang sesui dengan kehidupan keseharian kita.

Selanjutnya kita harus bisa memilah postingan-postingan yang harus kita konsumsi sebagai bahan dorongan atau motivasi dalam mencapai tujuan hidup tadi.  Apabila penggunaan media sosial tidak mendukung atau tidak menunjang keinginan untuk meraih purpose kita, maka penggunaan media sosial hanya akan menjadikan kita semakin jauh dari keberhasilan bahkan dapat membuat kita tersesat.

Kenapa media sosial mendapat porsi yang besar dalam mencapai tujuan hidup?

Menjawab pertanyaan tersebut, tentu karena di zaman millenial sekarang ini media sosial telah menjadi gaya hidup nomor satu bagi dunia khususnya masyarakat Indonesia. Tentu tidak bisa kita nafikkan dalam keseharian kita tidak bisa terlepas dari yang namanya media sosial. Hal ini dikarenakan dalam media sosial telah termuat segala kebutuhan hidup yang berupa informasi, komunikasi, edukasi, serta kebutuhan ekonomi.

Paket komplit ini tentunya menggugah setiap elemen masyarakat untuk selalu membuka dan berselancar di media sosial. Saking tidak bisa lepas dari handphone atau gadget tak jarang kalangan remaja seakan memiliki keharusan untuk mengecek handphone di setiap waktu walaupun sekedar untuk mengecek tanggal dan jam. 

Karena memenuhi kebutuhan tersebut, kini telah menjadikan perkembangan penggunaan media sosial khusus di Indonesia sangat berkembang pesat.

Berdasarkan data internetworldstats, pengguna internet Indonesia mencapai 212,35 juta jiwa pada Maret 2021. Dengan jumlah tersebut, Indonesia berada di urutan ketiga dengan pengguna internet terbanyak di Asia.

Di sisi lain menurut laporan perusahaan media asal Inggris, We Are Social. Bekerja sama dengan Hootsuite, keduanya merilis laporan "Digital 2021: The Latest Insights Inti TheState of Digital" yang diterbitkan pada 11 Februari 2021. Laporan ini berisi hasil riset mengenai pola pemakaian media sosial di sejumlah negara termasuk di Indonesia.

Menurut laporan tersebut, rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 14 menit sehari untuk mengakses media sosial. Dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021. Angka ini juga meningkat 10 juta atau sekitar 6,3 persen dibandingkan tahun lalu. 

Fenomena ini menghasilkan sebuah dikotomi di tengah pengguna media sosial. Pertama pengguna yang bijak, yakni yang menggunakan media sosial untuk mencari kebermanfaatan dan berbagai potensi di dalamnya dengan mengoptimalkan pengetahuan yang akan mendukung purpose kehidupannya.

Di sisi lain terdapat pengguna yang memanfaatkan media sosial hanya sebagai media eksistensi diri dan sarana hiburan semata, yang akhirnya tidak memberikan income positif bagi diri dan bisa dikatakan telah gagal mengartikan esensi media sosial itu sendiri. Sehingga berkonsekuensi bagi masyarakat Indonesia seperti terjerumusnya ke dalam fenomena candu media sosial.

Sekalipun candu yang dimaksud tidak selalu bermakna negatif selama bergantung pada penempatan yang dijadikan acuan dan tujuan. Candu terhadap hal-hal positif akan berkonsekuensi logis pada pola hidup yang akan semakin positif, Hak ini akan menghasilkan sebuah produk baru, baik itu dalam bentuk pemikiran baru, gagasan baru, dan sebagainya.

Ketika candu ditempatkan pada hal-hal yang positif, seperti candu terhadap buku, artikel, jurnal, serta konten-konten positif dari para influencer maka pola konsumsi kita terhadap media sosial dapat dikatakan produktif. Karena produktif bukan hanya soal memproduksi melainkan juga soal pola konsumsi yang menghasilkan sebuah konsekuensi positif.

Namun beda halnya apabila candu kita condongkan terhadap hal-hal remeh, seperti candu akan eksistensi dan hiburan yang tidak berfaedah. Hal ini pada akhirnya akan menghasilkan manusia yang bangga diri dengan segala pikirannya yang kosong dari makna-makna dan kenyang  atau penuh akan hiburan yang tak ada gunanya.

Bagaimanapun fenomena candu media sosial saat ini tidak dapat terhindarkan dan terkadang oleh para elit global, kita sengaja diseret dalam berita-berita tertentu dengan tujuan memprovokasi kita selaku pengguna media sosial. Dalam hal ini, kita harus mengingat pesan Wiji Thukul dalam salah satu puisinya, “Hanya ada satu kata, lawan!”.

Mau atau tidak kita harus berusaha keras melawan kecanduan media sosial ini dengan porsi dan power yang kita miliki. Membentengi diri dengan menciptakan candu terhadap hal-hal positif dalam bermedia sosial. Adapaun cara melawan dengan cara memperbaiki pola konsumsi lalu mencoba untuk memproduksi. 

Kuasai media sosial dengan mengkonsumsi dan memproduksi hal-hal baik, karena pada akhirnya kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula. Semakin sering kita mengkonsumsi konten-konten positif, maka algoritma media sosial akan merespon dengan menampilkan hal-hal positif pula di FYP kita.