Hilangnya akal sehat dalam bernegara dan maraknya kebencian antar berbeda agama adalah bermula dari munculnya para pemuka agama ekstrim radikal yang sibuk mendoktrin generasi bangsa kita kearah candu teologi berupa jihad tak menentu. 

Yaitu para penceramah yang berteriak-teriak dalam khutbah, berceramah salah tafsir dengan sembarang mempergunakan dalil tanpa melakukan pertimbangan pemikiran yang lebih matang akan keutuhan keberagaman. 

Ceramah minim ide dan buntu gagasan serta maraknya kata-kata kasar yang membangkitkan kebencian seharusnya dapat dihentikan. Khutbah radikal harus diawasi bahkan diwaspadai untuk didengarkan karena bila semakin dibiarkan begitu saja maka filsafat Pancasila akan musnah tak ada artinya lagi.

Kalau Moh Hatta rela dipenjara asal bersama buku, maka berbeda dengan prinsip kids zaman now yaitu rela di bully asal bisa terkenal kek di tivi-tivi. Melakukan tindakan bodoh yang kelewat amat hanya demi mencari sensasi demi mendongkrak popularitas sudah menjadi hal biasa bahkan menjadi panutan masa kini. 

Anak-anak tak tahu apa itu Marxisme karena dilarang sudah dicap PKI, suatu pembodohan yang masih dipelihara di negeri ini adalah mengharamkan baca buku demi konsumsi teologi yang berlebih. Candu intoleransi masih membengkak dan tak terelakkan lagi, dan kita masih bangga teriak-teriak semua ini demi bela agama padahal sesungguhnya sudah memalukan nilai agama. Tak ada lagi yang namanya keberagaman semua asal agama yang mayoritas paling benar.

Putusnya saraf kemaluan yang penting bisa disaksikan jutaan penonton adalah penyakit yang tanpa kita sadari sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri ini. Tan Malaka rela menahan lapar demi beli buku, sedangkan anak zaman sekarang rela numpang WiFi duduk berjam-jam demi main mobile legend. 

Begitulah mental anak zaman now, Kebanyakan main mobile legend tapi baca buku kiri tak pernah, sibuk demo kritik pemerintah tapi di hapenya aplikasi Bigo live terinstal semua. Seminggu sekali wajib party minimal kusuk SPA. Kita semakin hancur bukan karena kekurangan pemikiran tapi terlalu banyaknya kemunafikan yang masih diagung-agungkan. 

Bedah buku dilarang, ceramah radikal dibiarkan, Negara kita seakan kehilangan semangat motivasi Pancasila.

Bagaimana generasi kita tidak semakin cacat ideologi jika semenjak kecil tidak diajarkan dengan ideologi Marxis. Kurikulum orde baru masih menjadi panutan merupakan penyebab dari ketimpangan semua ini.

Ketika yang ditonton adalah keharusan dan maraknya impian ingin menjadi artis lebay tak mendidik asal kaya gak papa yang penting bisa punya banyak uang lalu hidup poya-poya pamer kesenangan di Instagram seakan tak sadar diri di tengah kesulitan ekonomi yang dilanda masyarakat banyak. 

Pada masa kini orang lebih menjunjung kesenangan berlebih tanpa bersikap bijak. Dunia kita semakin sakit karena banyak ketidakwarasan dijadikan panutan, ketika gila menjadi ketawa-ketiwi gak jelas.

Perusak akal sehat itu bernama intoleransi, sibuk teriak-teriak ceramah salah menggunakan dalil masih dibiarkan begitu saja. Tak ada yang berani kritik pemuka agama yang ekstrim karena takut dicap kafir dan takut dikutuk masuk neraka jahanam. Pande-pandean pulak ngurus iman orang sedangkan ngurus iman sendiri saja tak pernah bisa sadar, melarang pacaran tapi nikah berkali-kali.

Jadi di setiap halaman rumah ibadah itu harus dipasang sebuah baliho pengumuman : "peringatan ceramah radikal dapat membunuh NKRI." Tujuannya adalah agar beribadah bisa tenang dan nyaman tanpa tekanan doktrin yang berlebih. 

Banyak orang pergi ke mesjid untuk mencari ketenangan batin, bukan untuk menambah stress dengan mendengar ceramah penuh kemarahan. Bila ada permasalahan pribadi jangan lampiaskan ceramah dirumah ibadah dan dapat merusak kekhusukan orang dalam beribadah. 

Kesadaran terdapat pada diri tiap orang masing-masing bukan terus-terusan memaksakan bahwa kebencian adalah kunci dan bertindak radikal egois demi kebenaran agama sendiri adalah kesalahan fatal yang tidak dapat dibiarkan begitu saja. Masyarakat membutuhkan ide, inspirasi dan gagasan bukan digurui seakan-akan masuk surga itu gampang dengan berbuat kasar.

Kita memperhatikan dengan jeli melalui  sejarah bahwa agama diciptakan oleh Wahyu yang hukumnya dibuat di langit sementara ideologi dikembangkan dari hasil susah payah berupa pemikiran yang lebih progresif diciptakan di bumi tanpa perantaraan nabi melainkan seorang filsuf, dan hanya para filsuf yang tak ingin diangkat menjadi nabi. 

Seorang filsuf berdiri menegakkan keadilan bukan menjunjung surga. Bukan dangkal ide mubasir keyakinan seperti sering yang terjadi belakangan ini. Persoalan mana yang benar dan mana yang salah semua itu kembali kepada yang maha pencipta. Manusia tak memiliki kendali penuh atas penilaian iman seseorang bahkan seburuk apapun perlakuan manusia dimuka bumi.

Persoalan bagaimana melalui itu semua adalah dengan semangat menebar inspirasi lewat tulisan. Menulis tanda seseorang tak kehilangan gairah semangat hidup. Menghabiskan banyak waktu dengan menyelesaikan berpuluh-puluh lembar halaman untuk menulis dan menggoreskan ide-ide coretan di kertas double polio sebelum menemukan satu gagasan yang utuh adalah makanan sehari-hari bagi seorang penulis. 

Menulis bukanlah suatu kemanjaan yang bisa ditunda-tunda dikerjakan dan menulis tidak bisa dikerjakan sambil menunggu inspirasi datang. Menulis bagi saya adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, beban mental terkuras, otak dipaksa berpikir, imajinasi diusahakan bekerja maksimal dan banyak tekanan-tekanan lainnya. 

Menulis adalah berpikir, menulis akan menguji seberapa luaskan seseorang memandang satu kejadian dan bagaimana ia melihat dengan prinsip kepribadiannya. Menulis artinya bersiap dengan hadirnya tekanan. Misalkan mulailah datang komentar perusak mental berkarya lewat tulisan "hai abdi jangan menulis lagi nanti hilang kayak Jamal Khashoggi".

Satu-satunya penghiburan yang mungkin diperoleh bagi mereka yang suka berpikir keras adalah membaca lebih jauh dan berpikir lebih dalam. Karena saya sangat bersepakat dengan apa yang dikatakan Plato, bahwa hidup yang tidak diperiksa dan dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak dijalani.

Baca Juga: Stop Intoleransi