Ketika seseorang terlalu lama memegang gawai, bisa jadi ada yang salah dengan dirinya. Ia terlalu sering melihat media sosial. Tangannya seakan tak mau berhenti. Matanya juga tak ingin lepas dari gawai. Dan pikirannya hanya ada pada gawai.

Saat anak kecil yang kecanduan dengan gawai, sebab terlalu intensif bermain game, ia marah kalau-kalau ibunya, atau kakaknya, melarangnya bermain game. Ia begitu fokus di game. Yang ada dipikirannya hanya ada game. Sementara untuk belajar, ia begitu kesulitan untuk fokus sehingga sukar belajar sendiri.

Maka kapan waktu yang tepat untuk memberi gawai? Orang tua dapat memberikan gawai ketika anak sudah SMA. Anak-anak dan remaja yang kecanduan gawai bisa menyebabkan hal yang negatif.

Efek negatif dari memberikan gawai terlalu cepat, yaitu untuk balita bisa menyebabkan terlambat bicara. Sementara remaja bisa menyebabkan ia mudah marah dan mengamuk, tatkala gawai menghilang dari genggamannya. Pandangannya kabur pada lingkungan sekitar, dan hanya kentara untuk gawai. Anak yang marah, sebab ia yang tak sewajarnya dalam bermain game.

Sebenarnya ia menyadari bahwa telah menghabiskan banyak waktu untuk itu, tapi ia tak ingin berhenti bermain. Padahal sudah seharian bermain game. Dan ia kepayahan menahan dorongan batin bermain game.

Bagaimana menghentikan kecanduan bermain game? Yang perlu disadari bahwa tidak bisa langsung serta-merta mencabut gawai dari anak. Sehingga orang tua bisa merujuk ke rumah sakit yang khusus menangani masalah kejiwaan. Sebab akan berbahaya bisa hal ini terus dibiarkan.

Saat ia menghabiskan uang untuk game, ia bisa berbohong, tentang waktu lamanya ia bermain game, dan uang yang diberikan oleh orang tua. Misal ia berbohong bahwa baru bermain sebentar, padahal sudah bermain berjam-jam. Kemudian ia bisa saja menipu orang tua, lalu uangnya digunakan untuk membeli pernak-pernik game tersebut.

Bukan hanya anak-anak, bahkan remaja dan dewasa pun sama, bisa mengalami gangguan jiwa serupa. Tidak hanya dari game, tetapi juga dari media sosial. Setiap hari ia mengusahakan diri untuk mengecek story di Instagram, Facebook, dan WhatsApp.

Sehari tidak melihat sosial media, rasanya ada yang janggal. Sekali tidak membuka media sosial, rasanya ada kehidupan yang hilang. Terjadi kegaduhan batin jika berhenti atau terlupa memantau media sosial.

Sedikit-sedikit melihat gawai takut ketinggalan. Lalu tak menyadari bahwa waktunya banyak yang hilang. Sebab perhatiannya terikat pada hal yang sebetulnya tak penting. Ia merasa media sosial adalah pintu yang harus dibuka setiap hari, atau bahkan setiap jam.

Mengapa kecanduan gawai bisa menganggu jiwa? Alasannya sederhana, setiap yang berlebihan akan mengarah pada jurang kenegatifan. Ketika anak melawan ibunya, sebab gawai diambil darinya. Padahal maksud ibunya baik, untuk mencegahnya dari kerusakan batin. Tapi ia tak mengerti, dan tak mau mengerti akan hal itu.

Kasus anak terkena gangguan jiwa mulai banyak terjadi di Indonesia. Rumah sakit yang khusus dalam hal kejiwaan ini juga memiliki fasilitas dan dokter yang kompeten. Tidak ada salahnya untuk mencari tahu apakah anak telah mengalami gangguan kejiwaan.

Anak yang terganggu jiwanya karena gawai, ketika ia mengutamakan bermain game daripada hal lain. Mendahulukan game sebelum belajar. Mementingkan game daripada suruhan orangtua. Memang game awalnya memberikan kesenangan. Tetapi pada akhirnya ia tak bisa mengontrol dirinya untuk bermain game, dan akan terus bermain hingga kelelahan.

Pengendalian diri yang kurang, sehingga ia merasa sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri. Sulit mengendalikan keinginan untuk bermain game ataupun media sosial. Hingga waktu tidur berubah, yang tentu bisa menyebabkan stress dan depresi.

Bagaimana kemudian untuk mencegah agar hal ini tidak terjadi? Yang pertama adalah menjauhkan diri dari gawai, sebisa mungkin. Usahakan untuk bermain game atau membuka media sosial tidak lebih dari 2 jam sehari.

Kalau perlu untuk tidak membuka media sosial selama seharian, atau seminggu penuh. Hal ini untuk melatih menghindarkan diri dan keluar dari tanda-tanda kecanduan media sosial. Kemudian tekankan bahwa bermain game yang berlebihan memberikan dampak buruk, dan langkahnya dengan membatasi penggunaan gawai.

Dengan cara tidak membelikan gawai kepada anak. Padahal anak sebenarnya juga belum penting-penting amat untuk urusan gawai. Apakah ia membutuhkan gawai? Tidak perlu. Memangnya gawai untuk apa? Apa urgensinya? Jika anak marah, ada hal yang perlu disampaikan kepadanya.

Seperti sampaikan dampak buruk kecanduan game dan bermain sosial media. Sehingga anak akan berpikir, apakah mereka juga bisa menjadi seperti demikian? Karena setiap orang memiliki kecenderungan kecanduan terhadap gawai.

Kemudian belikan anak buku dan bahan bacaan yang bermanfaat, yang sesuai dengan minat dan perhatiannya. Buku adalah pemicu anak berpikir kritis. Dengan berpikir kritis, anak akan melihat hal-hal yang sebaiknya dihindari, termasuk pemanfaatan gawai yang terlalu lama.

Dengan membuat anak sibuk terhadap hal lain, sehingga anak tidak punya waktu untuk mengecek timeline sosial media, dan bermain game dari sore hingga malam. Anak perlu untuk diberikan kebebasan, kegiatan, kreativitas pada hal-hal positif yang menjadikannya berkembang. Sebab anak dan remaja masih dalam masa pertumbuhan. Tugas orangtua, keluarga, masyarakat adalah mengawasinya dengan saksama.

Gawai memang bermanfaat, tapi kalau digunakan berlebihan justru malah menjadikan rusaknya batin. Lagipula sosial media, game dan gawai bukanlah kebutuhan pokok, yang dengannya kita tak bisa hidup. Kita bisa hidup dengan bebas tanpa gawai. Gawai hanya alat bantu kehidupan, yang mempermudah aktivitas.