Saya dan teman-teman tiba starting point Candi Jolotundo pada malam hari dan disambut aroma hutan yang rindang, dan gemericik air pentirtaan. Kami memulai start pendakian malam itu juga. 

Kami tidak memilih rute perjalanan ke arah Candi Kendalisada, namun kami memilih jalur menuju ke arah puncak gunung Penanggungan terlebih dahulu. Karena kami berencana untuk bermalam dan mendirikan tenda di Candi Shinta, candi terakhir sebelum menuju puncak gunung Penanggungan.  

Rute pendakian diawali dengan menaiki tangga di sebelah selatan musala sebelum gapura masuk candi Jolotundo. Setelah itu berganti dengan jalan setapak yang terlihat cukup jelas. 

Setelah berjalan sekitar 1,5  jam, di sebelah kanan jalur pendakian kami menemui candi Bayi. Candi ini merupakan reruntuhan bebatuan berupa dua tumpukan candi yang kurang tertata rapi.

Setelah melewati candi Bayi itu, rute perjalanan makin menanjak dan vegetasi tumbuhan yang rapat. Sekitar 1 jam berjalan dari candi Bayi, kami menemui Candi Putri. Candi yang tersusun oleh tiga undakan yang masih tertata rapi ini merupakan candi terbesar di jalur menuju Gunung Penanggungan. 

Area Candi Putri ini teduh dengan pemandangan pegunungan Welirang-Arjuno. Terdapat lahan yang cukup luas untuk mendirikan tenda dan beristirahat di sebelah Candi Putri. 

Mengikuti jalur setapak, kami akan menemui candi Pura, candi besar yang sudah tidak tertata rapi. Selanjutnya Candi Gentong, candi ini menyerupai tempat pemujaan dan terdapat sebuah gentong batu. 

Di akhir jalur penanggungan kami akan menemui Candi Shinta, candi yang terletak di area terbuka seperti taman di lereng gunung penanggungan. Di area candi Shinta kami dapat mendirikan tenda dan beristirahat. 

Kami memutuskan untuk mengakhiri trekking malam ini dan bermalam di Candi Shinta. Hampir di setiap candi di lereng gunung Penanggungan selalu terdapat lahan atau area seperti taman yang terawat rapi. Karena masih banyak peziarah yang mendatangi candi-candi tersebut secara rutin.

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan kami menuju candi Kendalisada yang terletak di belakang puncak bukit bekel. Dari candi Shinta kami melewati beberapa candi sebelum sampai di bukit bekel.

Kami mengambil jalur jalan setapak ke arah utara menyusuri lereng dengan vegetasi ilalang yang cukup rapat. Mengikuti jalur setapak yang menurun, kami menemukan candi yang masih terlihat rapi. Candi Yudha, nama candi yang kami lihat pada plang nama yang ada pada area taman candi tersebut.

Kami lanjutkan perjalanan mengikuti jalur menuruni bukit hingga kami menemukan candi Lemari. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di candi Lemari. Beberapa teman saya mencoba untuk membaca peta, memastikan bahwa jalur yang kami lewati adalah jalur menuju bukit Bekel. 

Setelah 10 menit, teman kami menginformasikan bahwa kita tidak berada pada jalur yang benar. Setelah melewati candi Yudha, seharusnya kita akan sampai ke candi Pandawa. 

Karena vegetasi ilalang yang cukup rapat dan cuaca yang berkabut, kami kehilangan jalur setapak menuju Candi Pendawa. Selain itu, tidak seperti di jalur menuju puncak gunung Penanggungan, di jalur ini kami tidak berpapasan dengan kelompok pendaki lain sama sekali.

Jalur ini memang jarang dilewati, sehingga tidak heran jika vegetasi masih rimbun dan tidak terlihat banyak jejak manusia apalagi sampah. Dan kami putuskan untuk kembali ke candi Yudha, dan mencari jalan setapak menuju candi Pandawa.

Kami pun berhasil sampai di candi Pendawa. Candi ini berbentuk tumpukan batuan yang menyerupai piramida. Untuk meneruskan perjalanan, kami menaiki undakan di candi pandawa sampai di puncak candi hingga menemukan jalan setapak kembali.

Vegetasi tumbuhan pada jalur ini mulai terbuka, tetapi masih didominasi oleh ilalang yang lebih pendek dari sebelumnya. Kami mulai agak leluasa melihat pemandangan di atas bukit. Kami dapat melihat kain emas di atas bukit.

Kami menuju tempat kain emas itu dengan mengikuti jalan setapak yang makin menanjak dari sebelumnya. Kami baru menyadari bahwa tempat kain emas itu adalah sebuah candi, setelah posisi kami makin dekat. 

Kami terus menaiki bukit hingga menemukan candi Naga 1, candi yang salah satu bagiannya ditutupi (cover) oleh kain putih dan emas yang kami lihat dari bawah tadi. Adanya kain penutup pada candi  menandakan masih ada peziarah yang mengunjungi candi tersebut secara rutin. 

Candi Naga berada di bukit yang curam yang tersusun dari beberapa undakan, dan tiap undakan terdapat sepetak taman. Untuk menuju Puncak Gunung Bekel, kami mengikuti jalan setapak di atas Candi Naga I.

Vegetasi ilalang masih mendominasi jalur ini. Makin kita mendaki bukit, ilalang makin pendek. Hamparan ilalang setinggi lutut orang dewasa kami lewati hingga menemukan plang yang bertuliskan Puncak Gunung Bekel. 

Kami beristirahat sejenak di puncak, untuk mengonsumsi bekal yang kami bawa. Di puncak ini, kami bertemu dengan rombongan pendaki lain yang melewati jalur yang berbeda dari kami.

Setelah beristirahat dan memakan bekal untuk mengisi tenaga, kami melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan utama kami, candi Kendalisada. Setelah melewati vegetasi, kami mulai melewati jalur yang unik. 

Jalur dari Puncak Gunung Bekel menuju Candi Kendalisada merupakan bebatuan yang tajam dan curam dengan kemiringan 60 derajat. Di antara batu-batu tajam itu, sering kali ditumbuhi oleh beberapa tanaman. 

Kami tidak dapat berjalan dengan cepat, bahkan ritme jalan kami lebih pelan dari berjalan normal. Bebatuan pada jalur ini sangat tajam jika terjatuh ataupun hanya tergores dapat melukai badan kita. 

Jalur ini merupakan jalur terberat selama pendakian menuju candi Kendalisada. Saya membayangkan bagaimana peziarah dengan tabah selalu rutin melewati jalur ini untuk menuju candi-candi di lereng gunung Penanggungan untuk mendapatkan berkah sesuai dengan kepercayaan yang mereka yakini.

Tak terasa kami sampai di area candi Kendalisada. Dari atas candi ini tidak terlihat, karena tertutup oleh bongkahan batu dan rimbunnya pepohonan. Perjalanan dengan jalur yang menyiksa ini terbayar ketika kita sampai di area candi Kendalisada. 

Candi ini terlihat begitu menyatu dengan batu pada struktur bukit. Area Candi Kendalisada ini begitu sempit, namun masih bisa untuk mendirikan beberapa tenda. Seperti candi lainnya yang ada lereng gunung penanggungan, terdapat taman yang terlihat terawat di sekitarnya. 

Di sebelah kanan candi utama terdapat sebuah goa untuk tempat petapaan. Goa tersebut sempit yang hanya dapat dimasuki oleh satu orang saja. Candi utama menempel di bongkahan batu besar, dan bebatuan yang menyusun candi terlihat ditumbuhi oleh lumut. Relief pada candi mengisahkan tentang tokoh Panji.

Kami sangat bersyukur masih dapat menikmati kegagahan peninggalan sejarah nenek moyang kami dipadu dengan keindahan alam gunung Penanggungan. Perjalanan kami bagaikan kembali ke masa lampau untuk menyusuri sejarah nenek moyang. 

Perjalanan dengan destinasi di candi-candi lereng gunung Penanggungan merupakan paket lengkap untuk para pendaki yang menyukai wisata sejarah ataupun keindahan alam.