Semerbak wangi dupa menusuk hidung sejak pertama kali menginjakkan kaki di gapura candi. Sejuknya taman di tengah ketinggian sangat menawan para wisatawan. Suasana tersebut dapat kita dijumpai di Candi Cetho.

Berlokasi di lereng Barat Gunung Lawu, tepatnya di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa tengah, candi yang merupakan warisan leluhur ini menjadi incaran para wisatawan. Berada di ketinggian 1496 mdpl menjadi daya tarik tersendiri bagi candi ini sehingga tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan.

Pertama kali, candi ini dikenal dari laporan penelitian van der Vilis pada tahun 1942 yang kemudian penelitiannya dilanjutkan oleh W. F. Stutherheim dan peneliti-peneliti selanjutnya. Pada tahun 1982, akhirnya diteliti kembali dalam rangka rekonstruksi oleh Dinas Purbakala.

Berdasarkan penafsiran dari prasasti di dinding gapura yang bertuliskan “hoh niku hanahut iku”, diketahui bahwa candi ini didirikan pada 1475 M. Dapat disimpulkan dari mitologi dan simbol pada arca, Candi Cetho dulunya berfungsi sebagai tempat ruatan. Hal ini dikaitakan dengan cerita Sundamala yang terdapat pada Candi Sukuh.

Saat ini, Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu di wilayah tersebut. Oleh karena itu, pengunjung wajib memakai kain kampuh yang bercorak hitam putih sebelum masuk ke kawasan candi. Menjaga etika dan sopan santun di lingkungan situs juga harus dilakukan sebagai bentuk toleransi antaragama dan penghargaan terhadap kesakralan candi.

Cukup dengan membayar Rp7.500,00 untuk wisatawan domestik dan Rp25.000,00 untuk wisatawan mancanegara, kita dapat menikmati indahnya candi di lereng gunung yang sejuk sekaligus berwisata sejarah dan budaya. Setelah membayar, wisatawan akan diarahkan untuk memakai kain kampuh untuk menjaga kesucian candi dengan menyumbang dana perawatan kain seikhlasnya.

Keunikan dari Candi Cetho ini terihat dari bentuk seni bangunannya yang berteras seperti punden berundak pada masa prasejarah. Halamannya tersusun dari 13 teras yang meninggi ke arah puncak. Untuk itu diperlukan fisik yang cukup bugar agar dapat mencapai puncak teras.

Namun, hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan karena rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan yang mengesankan. Terlepas dari bentuk bangunannya, bentuk arca-arcanya yang berwujud manusia di berbagai sudut masih sangat sederhana dan belum menunjukkan ciri kedewaan.

Seperti destinasi wisata pada umumnya, terdapat pula spot foto primadona yang diburu wisatawan berupa gapuran utama. Gapura ini menyajikan nuansa seni bangunan layaknya di Pulau Dewata dengan latar ketinggian sehingga menjadikannya bak candi di atas awan.

Setelah menaiki beberapa teras, kita akan menjumpai arca phallus (kelamin laki-laki) yang bersentuhan dengan arca berbentuk vagina yang menyimbolkan penciptaan atau kelahiran kembali setelah dibebaskan dari kutukan. Arca ini terletak di tanah dan dihubungkan oleh arca berbentuk garuda.

Selain itu, terdapat pula banyak pondok kayu kecil yang berfungsi sebagai tempat peletakan sesaji dan dupa sehingga pengunjung tidak perlu takut akan wewangian tersebut karena pada dasarnya candi ini memang masih digunakan sebagai tempat peribadatan.

Pendapa juga dapat dijumpai di kanan kiri area candi untuk upacara keagamaan. Walaupun pondok dan pendapa tersebut tidak sesuai dengan kaidah pemugaran, tetapi disisi lain bangunan tersebut membuat suasana candi lebih hidup pada zamannya.

Di teras teratas, terdapat bangunan candi hampir menyerupai piramida yang cukup besar. Bangunan ini sering digunakan untuk beribadah ataupun bertapa bagi umat yang mempercayainya. Namun, tidak semua wisatawan dapat memasuki bangunan ini dikarenakan harus memiliki izin.

Di teras tertinggi ini sangat terasa aura spiritual yang terkesan misterius karena adanya wewangian disertai dengan kabut yang sering menyelimuti dan hilang kembali. Oleh karena itu, wisatawan perlu menjaga perkataan dan perbuatan sebagai bentuk penghormatan.

Di lantai teratas, wisatawan dapat menyaksikan perkebunan sayur milik warga yang hanya berbatasan pagar pembatas candi di lereng Gunung Lawu. Sejauh mata memandang, hamparan perkebunan menyejukkan mata sehingga pengunjung dapat menikmati wisata warisan sejarah sekaligus wisata alam dalam waktu yang bersamaan.

Setelah menapaki banyak anak tangga, mencicipi kuliner di Candi Cetho merupakan pilihan yang tepat. Adanya alur keluar masuk yang terarah memudahkan pengunjung untuk menuju pintu keluar. Sepanjang jalan menuju pintu keluar terdapat banyak warung makan sederhana yang terjajar rapi.

Walaupun jajanan yang ditawarkan sederhana seperti mi, bakso, dan gorengan, tetapi setidaknya mampu melengkapi kepuasan wisatawan. Harga yang ditawarkan pun sangat terjangkau karena sudah diatur oleh paguyuban dagang di kawasan tersebut.

Perjalanan untuk dapat sampai di tempat ini merupakan sebuah tantangan sekaligus kesenangan. Jalan yang berkelok kelok dan curam terkadang menjadi ketakutan. Namun, begitu sampai di Candi Cetho semuanya akan diganti dengan pemandangan menabjubkan.

Karena letaknya di lereng gunung, sepanjang perjalanan akan disuguhi oleh pemandangan alam yang elok berupa hamparan kebun teh dan kebun sayuran milik warga. Dari ketinggian pula wisatawan dapat menyaksikan bentang alam Kapupaten Karanganyar beserta perumahan warga yang nampak indah dari atas.

Kabut yang tak luput di kawasan ini juga menambah syahdunya perjalanan yang akan menjadi kenangan yang menyenangkan. Jadi, Candi Cetho patut untuk dimasukkan ke daftar destinasi yang dikunjungi saat berada di Solo ataupun Karanganyar selain Grojogan Sewu yang sudah terkenal.