Bagi sebagian orang, bercanda adalah hal yang wajar bukan? Karena dengan bercanda bersama orang-orang disekitar kita, dapat memberikan kesan ramah kepada orang lain. Tetapi, pernah tidak kalian merasa tersinggung dengan candaan orang lain? 

Ada kalanya setiap candaan tidak selalu lucu atau dapat membuat kedua pihak tertawa. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, teknologi pun semakin canggih. Tidak jarang bagi sebagian orang dengan bebasnya melontarkan candaan tersebut tanpa di filter terlebih dahulu.

Teknologi memang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat khususnya bagi pelajar zaman sekarang yang sering membutuhkan teknologi untuk proses belajar,  contohnya gadget. Siapa sih yang nggak kenal dengan gadget? Dengan adanya gadget  segala jenis informasi dari internet, menonton video musik, berkirim pesan dengan teman, ataupun bercanda, dan mengekspresikan diri dapat dilakukan dengan gadget

Berbicara mengenai candaan, jika menurut KBBI  merupakan sebuah gurauan atau kelakar. Candaan juga dapat diartikan sebagai humor atau guyonan yang didasarkan dari hal-hal lucu berbau komedi. Anak millennial sekarang sering menyebutnya dengan jokes. 

Jokes sekarang ini sering diminati di kalangan anak muda yang biasa ditemui di sosial media mereka. Dengan adanya jokes memberikan kesan agar seseorang tidak kaku atau friendly dalam bergaul. Akan tetapi, tidak jarang juga dengan jokes dapat membuat orang tersinggung atau bahkan merasa dihina. Perlu digaris bawahi bahwa jokes tidak boleh melampaui batas.

Sekarang ini, sering muncul istilah baru dalam kalangan anak millennial yaitu dark jokes. Berbeda dengan jokes, dark jokes sendiri merupakan lelucon yang dibuat dengan mengombinasikan komedi dan tragedi berdasarkan realitas. Komedi ini sering mengangkat penderitaan atau hal menyakitkan yang dialami seseorang yang dibuat menjadi sebuah lelucon.

Akibatnya, sering terjadinya kasus yang berawal dari jokes, namun sebagian orang menganggapnya serius. Bahkan jokes tersebut terkesan menyinggung atau bahkan berujung bullying. Bullying yang berkedok jokes memang sering terjadi di sosial media, karena setiap orang bebas mengutarakan pendapat apapun itu. 

Bullying merupakan tindakan yang dilakukan untuk menyerang secara psikologis, emosional, atau bahkan dengan tindakan fisik. Hal yang membedakan dengan jokes, yaitu bullying dilakukan dengan kekerasan secara sengaja, sedangkan jokes dikemas dalam bentuk candaan yang menyakitkan bila salah sasaran. 

Maka dari itu, menggunakan dark jokes atau jokes sah-sah saja bila dilakukan kepada orang yang sudah dikenal, seperti sahabat atau teman dekat. Bila dark jokes digunakan kepada orang yang baru dikenal atau orang yang tidak suka bercanda dan menganggapnya serius, kemungkinan akan berujung ke arah bullying. Seakan-akan menertawakan orang tersebut dengan meremehkannya. 

Jika dilihat dari beberapa kasus yang marak terjadi di sosial media sekarang ini, contohnya Tiktok terdapat kasus yang awalnya bercanda yang berujung bully. Seperti yang dialami seorang wanita, sebut saja namanya Mawar. Dia membuat video Tiktok sedang berjoget dengan gaya yang menurutnya imut. Namun, sebagian orang ikut memparodikan videonya dengan unsur bercanda atau jokes

Sementara itu, komentar dari warga Tiktok seperti “Mukamu jangan kek gitu, ngerasa imut ya?” “Hahaha lucu banget, tapi gue emosi liatnya” “ Lesung pipinya nggak bikin manis tapi malah asem wkwkw”. Secara tidak sadar, komentar tersebut termasuk ke dalam cyber bullying jika salah satu pihak merasa tersakiti, sedangkan bercanda atau jokes itu jika kedua belah pihak terhibur atau tertawa bersama, bukan menertawakan pihak lain.

Oleh karena itu, diperlukan edukasi lebih yang ditekankan pada perilaku dan etika serta bimbingan orang tua. Seharusnya sejak kecil, orang tua membiasakan diri untuk meluangkan waktu kepada anaknya supaya tidak kecanduan gadget. Menerapkan sikap disiplin, konsisten, dan tegas kepada anak agar terarah dalam penggunaan teknologi.

Dengan menerapkan sikap disiplin, maka anak akan menaati peraturan yang dibuat orang tua. Contohnya untuk anak di bawah umur, dibatasi pemakaian gadget pada waktu libur saja. Sedangkan untuk remaja bisa diberikan pendekatan perlahan, memberi saran, dan mendengarkan cerita dari anak. Hal tersebut dapat meminimalkan penggunaan gadget yang terlalu bebas dalam memposting atau melontarkan komentar di sosial media serta anak akan lebih dekat dengan keluarga.

Kita sebagai generasi emas juga harus dapat membedakan tentang candaan dan bullying, karena secara tidak langsung candaan zaman sekarang sering mengarah pada bullying. Kita harus berhati-hati jika bercanda dan mampu menempatkan diri serta membatasi candaan yang kita lontarkan supaya tidak menyinggung pihak lain, karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. 

Solusinya dengan memikirkan setiap konsekuensi apa yang mungkin terjadi jika kita memposting atau memberikan suatu komentar terhadap orang lain, jangan terlalu mengurusi hidup orang lain karena tingkat kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda, dan memberi lelucon atau bercanda sewajarnya saja atau jangan melewati batas.

Baca Juga: Candaan Doa