Ketika masih hidup, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang suka melawak menggunakan tema agama, baik Islam maupun agama lain. Hal ini dilakukan bukan untuk menghina agama tertentu, tetapi sebagai cara mencairkan kebekuan komunikasi antarumat beragama kala itu. Karena kelucuannya, Gus Dur selalu dikenang baik oleh para sahabatnya yang berlatar belakang lintas agama.

Kurang lebih sepuluh tahunan silam, beberapa pelawak sering meniru-niru ekspresi dan gaya para ustaz. Salah satunya dilakukan oleh AA Jimmi yang selalu meniru ekspresi dan gaya ustaz kondang AA Gym. Akan tetapi, sekarang jangan sekali-kali berani melakukan itu karena Anda akan dituduh menghina ulama atau menistakan agama.

Sebagian umat Islam belakangan ini tak lagi serileks dulu karena sekarang mereka lebih kaku dan mudah tersinggung. Mereka tak mampu lagi membedakan mana kritik sosial terhadap perilaku umat beragama dan mana murni penghinaan agama.

Baru-baru ini, Joshua Suherman, mantan artis cilik yang populer di era akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, menjadi kontroversi akibat candaannya dalam acara stand-up comedy dianggap menghina Islam. Berikut saya kutipkan candaan Joshua yang dianggap menghina Islam:

"Annisa semua Annisa, Annisa semua Annisa padahal skill nyanyi tipis-tipis, skill ngedance tipis-tipis cantik relatif. Kenapa Annisa selalu unggul dari Cherly? Sekarang gue dapat jawabannya. Makannya Che, Islam!" ujar Joshua yang disambut tawa oleh komika lainnya dan penonton yang datang.

Bahkan, salah satu komika ada yang menyerukan, "Allahu akbar, Allahu akbar!" Joshua yang masih tertawa pun melanjutkan stand-up nya.

"Karena di Indonesia ini ada satu hal yang nggak bisa dikalahkan dengan hal sebesar apa pun, mayoritas. Mayoritas!" lanjut Joshua.

Karena candaannya tersebut, Joshua diancam untuk dilaporkan ke Polisi oleh Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) dengan tuduhan menghina Islam. Merespons tuduhan tersebut, Joshua berkunjung ke Sekretariat GP Ansor untuk menjelaskan duduk perkara sekaligus meminta bantuan hukum.

Bila mengamati candaan Joshua secara lebih teliti, apa yang ia katakan sebenarnya tidak bermaksud menghina Islam, melainkan sebagai bentuk kritik sosial terhadap perilaku sebagian umat beragama, khususnya umat Islam selaku mayoritas di negeri ini yang belakangan ini kerap melakukan diskriminasi berbasis SARA dan juga menggunakan politik identitas dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga mengabaikan kualitas personal.

Dengan kata lain, meskipun seseorang kurang kompeten dalam suatu bidang, namun didukung oleh mayoritas, ia akan tetap berjaya.

Mengapa sebagian umat Islam belakangan ini cenderung kaku dan mudah tersinggung? Pertama, sebagian umat Islam masih diliputi kegagapan ketika berbicara tentang isu SARA karena selama ini warisan Orde Baru yang menabukan diskusi tentang isu SARA masih tertanam kuat dalam alam bawah sadar umat Islam. Akhirnya, ketika Joshua yang merupakan generasi milenial muncul menerobos kebekuan ini, itu menimbulkan resistensi dari umat Islam.

Kedua, umat Islam telah berubah menjadi lebih kaku dalam beragama karena pengaruh kelompok Islam radikal-konservatif cukup kuat mempengaruhi wacana keagamaan belakangan ini. Kelompok Islam radikal-konservatif ini tumbuh subur, khususnya di era Pasca Orde Baru (tepatnya di era pemerintahan SBY).

Di era pemerintahan SBY, mereka tumbuh subur karena mereka mendapatkan ruang politik yang luas melalui prinsip politik SBY "one thousand friends zero enemy". Kelompok Islam radikal-konservatif dikenal memiliki massa yang loyal, militan, ideologis, dan pandai memanfaatkan momentum, sehingga SBY sadar bahwa mereka adalah kelompok yang potensial untuk dirangkul untuk membantu SBY memenangkan kontestasi politik elektoral.

Ketiga, media sosial dengan sifatnya yang mampu meruntuhkan batas spasial dan sosial, ikut berkontribusi penting dalam melahirkan kecenderungan Islam yang kaku dan mudah tersinggung, karena kelompok Islam radikal-konservatif pandai memanfaatkan platform ini sebagai media untuk menyebarluaskan ide dan gagasan mereka di tengah publik.

Kelompok Islam radikal-konservatif juga pandai memanfaatkan media sosial untuk menggiring dan mempengaruhi opini publik. Andai saja lawakan Joshua ini tidak menjadi viral di media sosial karena mengalami framing dan pemelintiran, mungkin isu penghinaan agama ini tak akan muncul di permukaan dan menjadi perbincangan publik.

Keempat, sebagian umat Islam dewasa ini mentalnya mengalami perasaan kalah secara sosial, ekonomi, politik, dan budaya, sehingga agama menjadi satu-satunya yang tersisa dari mereka. Akhirnya, ketika ada yang berani menyinggung agama mereka, maka mereka menjadi reaksioner dan mudah tersulut emosi karena begitulah mental orang yang kalah.

Saya merindukan umat Islam yang berpikir maju, mencintai keragaman, peka terhadap persoalan kemanusiaan, dan konsisten terhadap perjuangan antikorupsi. Sayangnya, dalam isu antikorupsi, umat Islam cenderung "cuek dan masa bodoh" dan lebih senang dengan isu-isu politik jangka pendek yang dapat membawa keuntungan material-ekonomi secara langsung bagi mereka.

Mari kita kembalikan Islam menjadi rileks dan ramah kembali.