Suara adzan subuh menggema dengan indahnya. Membangunkanku dari buaian mimpi yang tak sama sekali ku ingat alurnya. Ku bergegas menuruni ranjang yang reot tapi menghangatkan. Saat ku buka pintu, seperti biasa Simbok dan Bapak sudah mengambil air wudlu.

Jalan yang becek dan penuh lumpur akibat hujan semalam kita lalui menuju surau. Yah..kebiasaan itu sudah ditanamkan bapak sejak aku masih berumur 7 tahun. 

Sekarang hari minggu, sudah menjadi rutinitasku setiap libur sekolah membantu bapak dan simbok di sawah. Tahun ini, tahun kelulusanku dari Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hamparan sawah yang luas dengan pohon padi dan pepohonan hijau yang enak dipandang sedikit mengobati jenuhku selama enam hari bercumbu dengan pelajaran.

“Mbok, besok ketika aku sudah selesai sekolah, aku ingin jadi petani seperti bapak)”, cetusku kepada Simbok.

Aku memang berbeda dengan teman-temanku semenjak kecil. Ketika mereka bercita-cita menjadi dokter, polisi, pegawai kantoran bahkan presiden, justru aku ingin menjadi petani meneruskan bapakku.

Acap kali aku ditanya oleh teman-teman, “kok cita-cita dadi petani ris?”. Aku tak dapat menjawabnya. Yah..aku tak tau kenapa aku ingin  jadi petani, aku hanya ingin itu, tak mau yang lain.

“Oalah...haris...haris, tekadmu dari dulu tak berubah, cita-cita ko pengin jadi petani, pengin hidup susah nak..nak”, tegur Simbok sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Simbok diam tak mengeluarkan kata-kata lagi,  ia langsung turun ke sawah dan menghampiri bapak yang sedang ndaut  untuk membantunya. Akupun mengikuti langkahnya seketika. Simbok dan Bapak belum terlalu tua dan masih mempunyai banyak tenaga untuk menggarap sawah sendiri hasil warisan Eyangku, bapak dari Simbok.

Hari yang ku tunggupun tiba juga. Ujian Nasional untuk menentukan kelulusan. Aku garap soal-soal rumit itu dengan cepatnya. Ya.. aku terkenal siswa terpandai dengan cita-cita petani di SMP. Aku tak pernah absen mendapat peringkat satu pararel.

Tiga hari berlalu, Ujian telah usai. Aku pulang ke gubuk damaiku, ingin segera mengecup tangan Simbok dan Bapak yang bau lumpur itu. Dari gang ke gang dan jembatan bambu ku lalui dengan kakiku.

Pintu tak tertutup seperti biasanya. Saatku masuk ke dalam alangkah terkejutnya aku melihat Simbok dan Bapak berpelukan sambil meneteskan air mata dengan derasnya. Aku bingung bukan kepalang, kuhampirinya dan Simbok langsung memeluku dengan cengkraman yang begitu kuat sambil mengusap air matanya, sampaiku tak tega melepasnya.

Le......”. ucap simbok dengan kepiluannya setelah lama tak berkata, hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya.

“Maafkan Simbok dan Bapakmu ini lee, yang tak bisa membantu mewujudkan keinginanmu menjadi petani”.

“Lo, kenapa bu?”. Tanyaku kaget sambil melepaskan pelukannya.

“Sawah kita digusur le”. Jawabnya dan semakin deras air mata simbok mencucuri pipinya.

“Hah.. ko bisa mbok, pak? Itu kan sawah kita, sawah peninggalan mendiang Eyang yang dipercayakan pada bapak untuk menggarapnya?”, tanyaku dengan muka memerah.

“Bukan hanya sawah kita yang digusur, sawah pak Harjo, Mbah Turah, Paman Warso dan lainyanya ikut digusur, le. Kata Pejabat tadi, sepanjang sawah di bawah bukit gulungan akan dijadikan kawasan pabrik oleh Bupati keparat itu”, jawab Bapak dengan mengusapkan air mata dengan tangannya.

“Kita punya sertifikat tanah bukan pak? Begitupula Mbah Turah, Paman Warso, Pak Harjo dan lainya. Kita bisa menolak, kita bisa menolak pak. Aku tak rela sawah itu jadi pabrik, aku tak mau kerja dipabrik, aku hanya mau di sawah seperti bapak”. Cetusku.

Aku pun tak bisa membendung air mataku. Tiba-tiba aku teringat Mas Karto anak Paman Warso yang sudah kuliah di Semarang. Pernah, ia bercerita kepadaku tentang demo-demo yang diikutinya untuk melawan penggusuran.

“Benar le, itu sudah bapak dan teman-teman lain lakukan, tapi sebagian besar pemilik sawah itu menyetujuinya dengan iming-imingan uang ganti tanah yang begitu lumayan, hanya bapak, paman warso dan Mbah Harjo yang menolaknya. Bapak tak mau menghianati pesan mendiang Eyangmu le”, Ucap Bapak sambil berdiri untuk mengambil minum.
“Nah, itu sudah jelas to pak? Tak usah bapak jual sawah kita lah, biar tetangga-tetangga menjualnya, kita tetap punya sawah pak? Apa yang Simbok dan Bapak tangisi lagi”. Cetusku dengan lugunya.

“Percuma to lee, jika tetangga-tetangga menjual sawahnya, kanan kiri sawah kita pastilah menjadi pabrik, uap-uap dan kotoran pabrik akan meracuni tanaman-tanaman, bahkan untuk menanampun bisa kesulitan tak dapat tumbuh. Dibuat bangunanpun akan sangat berbahaya bagi yang menempatinya, tak guna lagilah subur tanah kita tanah surga itu.” Jelas Simbok.

Malam tiba, aku ikut Bapak berkumpul di Balai RW setelah sholat Isya. Seluruh warga berkumpul berembug kejadian tadi siang itu. Banyak yang setuju sawah itu dijual karena harga yang di tawarkan sungguh menggiurkan, hanya bapak, Mbah Harjo dan Paman Warso yang bersikukuh menolaknya.

Terlihat di situ Mas Karto, duduk di sebelah Paman Warso mendengarkan perdebatan tiga petani melawan tiga puluh petani di Desa Karangbanyu ini. Sesekali ia melihatku dan tersenyum padaku.

“Bapak-bapak sebentar, saya akan mengatakan beberapa hal, dan mohon maaf memotong pembicaraan bapak-bapak sekalian”, ucap Mas Karto dengan sopan.

Seketika para petani itu menghentikan perdebatannya. Mendengarkan penjelasan Mas Karto dengan seksama. Walaupun aku masih terbilang anak kecil lulusan SMP dan belum begitu paham soal pertanian, tak satupun penjelasan Mas Karto yang terlewat dari pendengaranku.

Mas Karto menjelaskan dampak buruk jika lahan-lahan pertanian jika banyak digusur, untuk dijadikan bangunan-bangunan seperti pabrik dan sebagainya. Ia jelaskan dengan lugas dan dengan bahasa yang sederhana agar dapat dipahami oleh para petani itu. Suara-suara yang kokoh menjual sawah, berbalik seketika, mereka menyadari kebenaran yang dikatan oleh Mas Karto.

Kesepakatanpun bulat, dari dua pendapat menjadi tunggal. Para Petani sepakat menolak penggusuran dan akan melakukan perlawanan jika pemerintah memaksanya.

Tiga hari setelah musyawarah itu, datanglah perwakilan Bupati untuk mendapatkan jawaban dan pesetujuan para petani untuk menyerahkan sawah-sawahnya.  Alangkah terkejutnya perwakilan bupati itu, mendapat penolakan dari para petani itu. Sungguh sayang, aku tak menyaksikan kejadian itu, disuruhnya aku oleh simbok dan bapak untuk menetap di rumah tak boleh pergi ke sawah.

Pintu diketuk-ketuk dengan kerasnya oleh segerombolan orang. Akupun terjaga dari mimpiku, tak sadar aku tertidur di ruang tamu. Aku pun perlahan bangkitt dan membukakan pintu.

“Astaghfirullah, Simbok....Bapak, kenapa ini? Apa yang terjadi?”, Kataku panik.

Orang-orang itu menggotong Simbok dan Bapak ke dalam yang bersimpah darah dalam tubuhnya, dengan mata terpejam dan tak bergerak sekalipun. Aku Menangis begitu kencang dengan mengumpat kepada mereka yang tega melakukan kebiadaban ini pada orang tunya. Dipeluknya aku oleh Mas Karto dengan mengusap-usap kepalaku, dan ia pun meneteskan air matanya yang tak tertahan.

Simbok dan Bapak mati dalam perlawanan karena paling keras menentang. Simbok terkena peluru senapan di dadanya dan Bapak terkena pukul berkali-kali di kepalanya. Lima petani tewas dalam perlawanan, selain bapak dan simbok ada Mbah Harjo, Paman Warso dan Lek Mardi. Desa Karangbanyu penuh duka berhari-hari dari kejadian itu.

Tinggal Mas Karto saudaraku satu-satunya, anak dari adik Simbok. Akibat itu pula para petani yang masih hidup terpaksa menjual sawah-sawahnya karena takut ancaman yang ditodongkannya. Begitu pula sawah Bapak dan Paman Warso yang dipaksanya aku dan Mas Karto menyerahkan surat tanahnya.

***

Ruangan itu hening, dilengkapi kursi putar empuk dan berbagai perabotan yang tak murah harganya. Aku menunduk dalam dengan air mata yang bercucuran membanjiri pipi tembemku. Teh di Meja ku sruput dan ku hisap rokok dalam-dalam, lalu ku keluarkan asap dengan kerasnya.

“Simbok....Bapak? apakah kau akan marah jika anakmu ini, melakukan kebiadaban yang pernah dilakukan orang-orang itu hingga kau terbunuh dengan senjatanya?”, ucapku dalam hati.

Ingatan itu membuatku gelisah. Seminggu yang lalu, baru saja aku terima tawaran dengan seorang konglongmerat untuk mendirikan pabrik di kota ini dan menggusur sawah-sawah petani dengan iming-iming persis kejadian 20 tahun yang lalu di desa tempatku hidup kala itu.

Nasi telah menjadi bubur. Aku bukan Haris yang dulu, Haris yang penuh cinta dengan alam, taat pada simbok dan bapak. Hanya calon petani yang biadab sekarang ini.

“Calon petani, yang menjadi wakil rakyat biadab”, Keluhku.

“Karto, ini semua karena kau”.........