Diskursus pembaruan pemikiran Islam di Tanah Air tak bisa dilepaskan dari sosok Nurcholish Madjid, akrab disapa Cak Nur. Saya membuka kembali riwayat ‘Sang Pembaru’ ini ketika melihat ucapan tanggal kelahiran (17 Maret) yang mengalir deras dari para muridnya (sebagian besar kader dan alumni HMI) di laman Facebook.

Meskipun saya tak baku kenal dengan Cak Nur, tapi saya merasa sebagai salah satu ‘murid’ dari pendekar Jombang itu. Maaf, sekadar mengingatkan bahwa ini bukan ungkapan narsistik.

Ingatan saya melayang saat puber ideologis menggelinjang masa remaja. Pertama kali saya mendapatkan cerita kebesaran Cak Nur melalui ayahku seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SDN di Bima-NTB. Saya kemudian mencicipi sekilas pemikiran Cak Nur melalui pamanku seorang pengamal tarekat, lantas memberikan makalah bertajuk “Peran Tasawuf dalam Membentuk Masyarakat Cinta Damai”, di mana salah satu kontributornya: Cak Nur.

Dari sosialisasi pemikiran di lingkungan keluarga itu, saya memperoleh gambaran awal tentang ‘Sang Guru Bangsa’ itu. Namun bukan tanpa ketegangan. Saya nyaris terpapar provokasi pemikiran garis keras Hartono Ahmad Jaiz dalam beberapa bukunya, yang kerap menyerang Cak Nur hingga menghujat tasawuf-tarekat.

Saya pun sempat bergelayut dalam kegelisahan akibat ragam bacaan yang saling bertabrakan. Sebagai aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Bima, saya ingin melanjutkan debut aktivisme Islam (modernis) di pentas pergerakan mahasiswa untuk memuaskan hasrat keingintahuan mengenai Cak Nur. Dan salah satu pintunya: HMI.

Memasuki jenjang perguruan tinggi tahun 2007, saya mengikuti Basic Training di HMI Komisariat FISIP UNHAS, Cabang Makassar Timur. Saya terpesona dengan materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Materi yang disusun oleh Cak Nur itu mengandung nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman dan “ideologi politik” para kader HMI.

Sebagai pengantar menuju pintu NDP, para calon kader diajarkan untuk menguasai kunci pengetahuan melalui materi Filsafat Ilmu. Segala sesuatu diuji berdasarkan kerangka berpikir ilmiah. Para peserta didakwahi agar setiap hal ditelaah secara kritis dan mendalam tentang segala hal yang selama ini mungkin diterima begitu saja secara dogmatik dan taqlid buta.

Nalar rasional dan logika ilmiah dipahat oleh mentor HMI melalui perdebatan intelektual secara objektif dan sistematis. Metode transfer pengetahuan bukan dengan gaya doktrinisasi dan ceramah monologis, tetapi dikemas dengan gaya dialog dan dialektika yang mendebarkan namun mencerahkan sekaligus menggembirakan.

Saya yang semula agak ‘kaku’, lambat-laun menjadi terbuka. Saya pun bertumbuh ‘sehat’ berkat tanah subur Hijau-Hitam, yang menekankan bagaimana menjadi seorang muslim yang inklusif.

Dalam tradisi berpikir filosofis dan pendekatan rasional yang berkembang di training HMI, saya menyerap universalitas nilai-nilai Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemoderenan. Cak Nur memang menekankan bahwa modernisasi adalah rasionalisasi, bukan westernisasi.

Yang menarik, pemateri menggunakan metode dekonstruksi (pembongkaran). Peserta dibongkar isi kepalanya, lalu dipaku dengan nilai-nilai dasar perjuangan melalui rekonstruksi yang menghadirkan ketakjuban bagi anak-anak HMI. Dari Cak Nur itulah saya membatinkan spirit Islam yang cair, terbuka, cinta damai lintas batas dan menghargai akal sehat. Pada saat yang sama, saya makin gemar membaca buku-buku tulisan Cak Nur dan intelektual muslim lainnya.

Namun ada semacam sorotan dan gosip di luar sana, bahwa kader HMI dituduh kerapkali melalaikan shalat. Suka mendialogkan dan memperdebatkan soal ketuhanan sampai syahwat politik yang gede juga dilekatkan kepada aktivis HMI. Mari kita merenung sejenak.

Kacamata filsafat dalam memahami agama tidak mendangkalkan aqidah, malah justru filsafat sangat strategis manfaatnya untuk memperkaya pemaknaan terhadap sakralitas agama, menguatkan cita rasa keimanan. Dengan harapan, kita bergerak secara integralistik, yaitu beriman, berilmu, dan beramal.

Suara bernada minor soal shalat itu belakangan terjawab dalam tulisan M. Arief Rosyid Hasan ‘HMI juga Shalat’ (hal.3-8) lewat bukunya berjudul “Memilih Masa Depan: Memaknai HMI di Tengah Perubahan” (2016, PB HMI Publishing). Meskipun demikian, ini juga otokritik buat kita semua bahwa ritual peribadatan seperti shalat, puasa dan sebagainya tak boleh diabaikan, malahan wajib sebagai bentuk penghayatan terhadap ajaran Islam.

Selanjutnya, para kader HMI memekarkan kesalehan sosial sebagai bentuk tanggung jawab kemanusiaan yang diajarkan oleh Cak Nur. Walhasil, tujuan HMI yang berbunyi “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang Bernafaskan Islam, dan Bertanggungjawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil, Makmur yang Diridhoi Allah SWT”, bukan hanya sekadar wacana, tapi serius diamalkan dengan segala aktualisasinya di lapangan.

Misalnya, alumni HMI yang terjun di lapangan politik praktis, jangan lupa pesan-pesan moral-politik yang diwariskan Cak Nur dalam membangun demokrasi untuk kesejahteraan rakyat. Bukan hanya politisi, tapi juga penasehat atau konsultan politik yang diharapkan tetap menjaga marwah keilmuan politiknya.

Riset-riset bernuansa akademik yang berbasis penguatan literasi politik sangat strategis kaitannya dengan pembangunan demokrasi yang sehat. Demokrasi yang terkonsolidasi juga akan terwujud jika proses pengambilan kebijakan publik sesuai dengan aspirasi masyarakat yang dipotret, salah satunya melalui jajak pendapat atau survei.

Karena itu, obligasi moral para alumni HMI yang bergelut di ranah survei dan penelitian politik sangat sentral untuk merekatkan jarak antara kebijakan yang diambil pejabat publik dengan kehendak masyarakat. Praktisi survei opini publik yang lahir dari rahim HMI tentu banyak, sebut saja Saiful Mujani, Burhanuddin Muhtadi, Airlangga Pribadi, Muslimin Tanja, Saidiman Ahmad, Adjie Alfarabi, Ikrama Masloman, Danis Tri Saputra dan sebagainya.

Ketika politisasi isu SARA berkecambah, khotbah takfiri berkumandang, fanatisme buta, dan kekerasan atas nama agama memenuhi ruang publik, sudah saatnya kader HMI turun gunung sebagai penyampai risalah Islam yang membebaskan, demokratik dan humanis. Nilai-nilai Islam progresif itu dapat diambil dari saripati NDP, lalu dikontestasikan dalam semarak diskursus keislaman dan kebangsaan kontemporer.

Sebagai bagian dari keluarga besar HMI, saya berharap munculnya gema perubahan nan revolusioner bagi wajah HMI di masa mendatang. Para kader dan alumni HMI mesti meneruskan pembaharuan untuk mengarus-utamakan Islam sebagai api, bukan abu, sebagaimana tergambar dalam buku “Api Islam Cak Nur: Jalan Hidup Seorang Visioner” (2010, Kompas) tulisan Ahmad Gaus AF.

Api Islam Cak Nur dimaksudkan sebagai upaya mempertajam warisan ‘berkemajuan’ dari para pendahulu seperti Bung Karno. Dengan begitu, kita bisa mendobrak kebekuan, menyegarkan intelektualitas dalam perjuangan mengatasi kompleksitas kebangsaan.

Api Islam Cak Nur untuk menyalakan "keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan" secara harmonis senantiasa relevan dalam konteks kedisinian dan kekinian. Di antara outputnya adalah kesadaran akan pluralitas kemajemukan agama, etnik, dan sosio-kultur sebagai kenyataan.

Kita perlu mengedepankan sistem nilai pluralitas itu, lalu mencari titik temu (kalimatun sawa) sebagaimana termaktub dalam Pancasila. Al-fatihah buat Cak Nur.