Kemunculan NIIS (Negara Islam Iraq dan Suriah) dan pelbagai gerakan Islam politik, mengingatkan kita kembali pada sosok Nurcholish Madjid. Seorang pemikir ensiklopedis, dengan perhatian paripurna terhadap pemikiran Islam, menabur benih pembaruan, mencakup penggabungan gagasan keislaman, kemodernan, dan ke-Indonesia-an.

Gagasan Cak Nur menarik untuk dihidupkan kembali, terutama pandangannya tentang hubungan Islam dan politik. Mengingat berbagai aksi teror dan kekerasan yang dilancarkan ISIS, dan gerakan Islam politik lain, yang didasarkan pada suatu gagasan teokrasi utopis: Negara Islam.

Tetapi politisasi agama, di sisi lain, dianggap dapat menodai kesucian agama. Dalam hal ini, Cak Nur mengajukan konsep Tauhid; memusatkan Tuhan sebagai satu-satunya yang suci. Tetapi kepercayaan yang sekalipun berpusat pada Tuhan, masih membuka peluang bagi adanya kepercayaan pada wujud-wujud lain yang dianggap bersifat Ilahi, meskipun lebih rendah dari Allah sendiri.

Maka perlu ada seleksi terhadap hal-hal yang profan, yang selama ini dianggap “suci” dan memiliki  kesakralan yang sama dengan Tuhan itu sendiri. 

Berangkat dari konsep pemurnian Tauhid, Cak Nur kemudian mengemukakan satu gagasan: "Islam Yes, Partai Islam No."

Bertolak belakang dengan apa yang didengungkan berbagai gerakan Islam Politik, bahwa keharusan mendirikan sebuah Negara Islam adalah keharusan doktrinal, yang pelaksanaannya setara suci dengan Tuhan. Konsekuensi dari pemahaman ini: mendirikan sebuah negara agama menjadi suatu keharusan, whatever it takes!

Percampuran Islam dengan politik menimbulkan kebuntuan berpikir, kejumudan dalam beragama, disebabkan kristalisasi dogma dengan kepentingan kelompok dan golongan. Ketika egoisme golongan mulai menguat, maka akan menguatkan ‘social inertia’ yang dapat menghambat perubahan.

Problem Psikologis. Menurut Cak Nur, problem utama umat Islam bukan masalah doktrinal, tetapi hanya problem psikologis semata. Artinya, secara doktrin, Islam sangat mendukung ide ide brilian dari kemajuan zaman. Karenanya, Islam selalu bisa beradaptasi dengan modernitas. Sementara gerakan islam politik, cenderung konservatif dan bahkan lebih konservatif dari Quran.

Problem psikologis muncul ketika kehidupan sosial masyarakat masih diwarnai persoalan perbedaan orientasi ideologis. Antara lain oleh memori penuh trauma tentang pertikaian ideologis-politis berdarah di masa lalu. Ketika Islam ideologis bergesekan dengan ideologi komunis.

Kemampuan umat Islam untuk berkorban secara psikologis, menjadi bentuk nyata ‘jihad akbar’ yang tidak menuntut pengorbanan pertumpahan darah, tetapi menuntut pengorbanan melawan egoisme, dan subjektifisme golongan.

Sekularisasi dan Daya Tonjok Psikologis. Sebagaimana kata Cak Nur, sekularisasi bukan menciptakan agama baru, atau meninggalkan agama secara keseluruhan. Tetapi sekularisasi dibutuhkan sebagai bagian dari usaha  liberating development. Ummat Islam butuh dibebaskan dari perjalanan sejarahnya sendiri, ketika tidak sanggup lagi membedakan antara nilai-nilai yang disangkanya islamis itu, mana yang transendental dan mana yang temporal.

Sekularisasi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk mengukhrawikannya. Dengan demikian, seorang Muslim siap secara mental untuk selalu menguji dan menguji kembali kebenaran suatu nilai di hadapan kenyataan-kenyataan, materiil, moril maupun historis.

Umat Islam tidak lantas menjadi golongan yang selalu bersembunyi di balik bayang-bayang masa lalu. Tidak minder dengan keislamannya. Menemukan kembali psychological striking force dalam perjuangannya. Daya tonjok psikologis.

Konsep yang ditawarkan Cak Nur merupakan cerminan dari kesungguhan secara total. Membedah isi perut Islam, baik secara historis maupun teologis, sebagai usaha membangun peradaban baru. Peradaban dengan nilai-nilai Islam yang inklusif.

Meskipun Cak Nur telah lama pergi, gagasan dan pemikirannya masih dibutuhkan umat Islam Indonesia sebagai jalan menemukan identitas. Sebagai senjata melawan usaha penjumudan pemikiran, dan sebagai bekal menyambut masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.

Mari hidupkan lagi pemikiran Cak Nur.