Jika menyebut nama Cak Nur, diantara asosiasi yang akan terbesit adalah pembaruan pemikiran Islam.

Bolehjadi iya, namun ada sisi lain Cak Nur, dimana mempersandingkan pemikiran Islam Indonesia tak lepas dari aspek kemoderenan. Salah satunya, Gontor yang menjadikan ini sebagai metode pembelajaran.

Dimana Gontor yang menjadi tempat bersemainya pendidikan modern. Namanya adalah KMI (Kulliyatul Mu'allimin/Mu'allimat Al-Islamiyyah). Juga biasa disebut Pondok Modern Darussalam Gontor.

Nama Gontor-lah yang dijadikan sebagai acuan. Walau cabangnya ada di Kediri, Magelang, Kendari, dan tempat lainnya, dengan mudah disebut Gontor 3, Gontor 5, dst.

Teriring pulalah kata modern ini, pada karya Cak Nur (1987) yang berjudul “Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan”. Buku ini dalam pandangan editornya, M. Anwar S & Thalatie Kaprina Yani (2015) ditabalkan sebagai diantara 50 karya yang memengaruhi Indonesia.

Menyelesaikan pendidikan di Gontor, dilanjutkan ke Ciputat. Di sini pula kemudian tersemai pemikiran keislaman keindonesiaan yang dijadikan sebagai visi kelembagaan UIN Syarif Hidayatullah.

Bahkan kemudian oleh Carol Kersten, salah satu yang menamakannya dengan madzhab Ciputat. Menempelkan pada pembaruan pemikiran Islam yang diusung oleh alumnus kampus UIN Syarif Hidayatullah yang bertempat di Ciputat.

Pada nama Ciputat pulalah melekat Cak Nur. Termasuk apresiasi saya terhadap sumbangan buku-buku ahli waris Cak Nur ke UIN Syarif Hidayatullah yang kemudian disebut perpustakaan Nurcholish Madjid.

Jikalau ilmuwan dan pakar di Indonesia memulai Gerakan sumbangan koleksi buku ke perguruan tinggi, ini akan menjadi kesempatan bagi perguruan tinggi menambah koleksinya. Disamping ada yang merawat buku-buku tersebut, juga dapat dimanfaatkan secara luas. Berbanding kalau hanya tersimpan di rumah. Apalagi kalau tidak ada ahli waris yang meneruskan pekerjaan keilmuan.

Sepulang dari Chicago usai menyelesaikan pendidikan doktoral dengan disertasi terkait Ibnu Taimiyah, Cak Nur menjadi dosen, dan juga peneliti.

Tidak semata-mata menjadi tenaga administrasi, walau juga pada perkembangan berikutnya menjadi rektor Universitas Paramadina.

Pada saat yang sama juga mengembangkan Madania. Sekolah berasrama yang menjadikan Pendidikan Islam sebagai falsafah, metode, dan strategi pengembangan. Tetapi tidak disebut sebagai sekolah Islam.

Begitu pula dengan Universitas Paramadina. Tidak disebut sebagai universitas Islam. Justru, Islam dijadikan landasan, dan terserap dalam kurikulum program studi yang ada.

Dengan penerimaan mahasiswa yang tidak dikhususkan bagi masyarakat muslim saja. Salah satunya dijadikan acuan adalah inklusivitas.

Budhy Munawar-Rachman menyebutnya dalam disertasi dengan istilah Islam Inklusif.

Gagasan ini dicetuskan Cak Nur pada tahun 1992. Dimana mendukung kebebasan beragama yang disertai dengan toleransi. Pada saat yang sama tetap kukuh dalam pilihan keberislaman.

Greg Barton (1987) menyebut Cak Nur sebagai tokoh Islam liberal. Adapun Carol Kersten (2018) menamakannya dengan tokoh yang pro-sekularisme.

Bolehjadi, kalangan yang tidak membacanya secara komprehensif kemudian menyebutnya kafir. Namun, masa itu tidak seperti sekarang. Pandangan-pandangan keislaman dapat didiskusikan tanpa pernah ada pelabelan dengan kata kafir.

Kalaupun Cak Nur juga hidup di masa kini, bolehjadi ada kemungkinan diskusinya akan dibubarkan. Dimana diskusi daring dengan menggunakan aplikasi zoom yang dilaksanakan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta bahkan disusupi hacker dan mengakuisisi admin zoom.

Cak Nur telah memulainya. Perkembangannya kini dapat dilihat tersemainya komunitas seperti Jaringan Islam Liberal (JIL) dan juga Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).

Dari 58 perguruan tinggi keagamaan Islam Indonesia, kini 17 dengan bentuk kelembagaan universitas, 34 dengan institut, dan 7 dalam bentuk sekolah tinggi.

Kesemuanya ini, menjadikan diskursus Islam yang berdampingan dengan keilmuan sosial yang juga mengkaji pemikiran dari Barat. Walau dalam pengembangan perguruan tinggi tersebut, tetap juga berlandaskan pola Azhar.

Ini dapat dilihat dimana penamaan fakultas, menggunakan pola yang dipakai Al Azhar. Termasuk ketika Quraish Shihab memimpin Kementerian Agama RI, ada program akselerasi untuk menempatkan alumnus Al Azhar menjadi dosen di perguruan tinggi keagamaan Islam.

Perguruan tinggi tersebut, tidak lagi sebatas Yogya dan Ciputat saja. Berkembang sampai ke Langsa di Aceh, dan Jayapura di Papua. Bahkan dalam pekan ini, baru saja Mentri Agama meninjau lahan yang akan dijadikan lokasi pembangunan IAIN Bima di Nusa Tenggara Barat.

Dulu, untuk belajar Islam di bangku perguruan tinggi harus menempuh perjalanan laut dari Papua ke Makassar. Dimana perguruan tinggi keagamaan Islam paling timur, adanya hanya di Ujung Pandang.

Mencapai kota Sorong, dimana terletak IAIN Sorong yang sebelum itu adalah STAIN Sorong, berawal dari STID Al Hikmah, kalaupun dengan perjalanan laut, cukup semalam dengan kapal.

Dapat pula dicapai dengan perjalanan darat dari Sorong Raya, dan juga Manokwari.

Ini tentu bukan karena Cak Nur semata. Tetapi keberadaan Cak Nur yang menjadikan perguruan tinggi keagamaan Islam untuk terus berkembang seiring dengan pengembangan kelimuan di perguruan tinggi.

Bahkan, kini lulusan perguruan tinggi keagamaan juga menjadi bagian elite politik dari inteligensia muslim.

Cak Nur telah berpulang. Namun mewariskan pandangan-pandangan yang kemudian menjadi landasan wujudnya “hidup” berdampingan antara sarjana dari perguruan tinggi keagamaan. Dimana Yudi Latif (2013) menyebutnya sebagai mitra strategis sarjana dari perguruan tinggi “sekuler”.