Content Creator
1 tahun lalu · 526 view · 4 menit baca · Agama 68884.jpg
Youtube.com/ANTVKeren

Caisar dan Perspektif soal Hijrah

Banyak yang menyatakan keprihatinan ketika Caisar YKS, yang memilih hijrah setelah program yang membesarkannya di televisi tersebut di-cut penayangannya akibat skandal hipnotis Ferdian dan dirinya, justru kembali dengan goyangan khasnya di program Pesbukers ANTV awal bulan ini.

Wajar dan tentu pilihan sulit ketika memilih hijrah, padahal dirinya masih menjadi bintang yang membesarkan (atau dibesarkan?) oleh televisi yang tentu memberi pemasukan yang bejibun. Pilihan yang nampaknya sulit juga ketika akhirnya ia kembali ke dunia hiburan dengan segala konsekuensi yang mesti ia tanggung. 

Yang jujur saya herankan dari segala pro-kontra ala warganet, kenapa sih kita mesti bebankan ia pada harapan yang terlalu tinggi?

Jujur, saya tak antipati dengan hijrah. Saya tak anggap ini kata yang sama menakutkannya dengan kata komunis yang jadi “gorengan” tetangga kiri kanan kita di dunia maya. Hijrah memang baik, kok.

Dalam sejarah Islam misalnya, ketika Rasulullah SAW memutuskan untuk hijrah dari Mekah ke Madinah untuk membangun kehidupan baru umat Islam yang hasilnya bisa dikatakan minim gesekan dengan penduduk setempat, dengan adanya Piagam Madinah yang mempersatukan mereka. Masih banyak contoh-contoh hijrah yang lain yang menurut saya masih bertujuan baik. 

Namun, buat saya, membebani diri dengan “hijrah” sebenarnya juga tak baik. Kenapa? Manusia itu akan selalu berproses. “Hijrah” hanya satu titik. Andaikata di titik ini kita merasa terbebani, tak bahagia dan tak seutuhnya memahami perintah-perintahNya, tentu sang manusia akan kembali pada titik kebimbangan. Apakah ia menjalani “hijrah” atau sekadar kefanaan biasa, seperti layaknya saat menikmati dunia yang penuh kesesatan? 

Selain itu, “hijrah” punya kesan yang seakan melepaskan diri dari keduniawian yang fana dan menyesatkan, secara kaffah. Sampai-sampai, rela untuk berubah 180 derajat, bahkan mungkin 360 derajat demi ini. Seakan hidup itu tak bisa dinikmati.

Kita menutup diri pada kehidupan dunia, yang kadang-kadang justru ikut menutup akal sehat kita. Menutup kita dari pengetahuan dan pemahaman. Padahal, sebagai khalifah di muka bumi, jelas menjomplangkan satu sisi demi sisi yang lainnya juga tak baik. Idealnya, dunia dapat akhiratnya juga dapat. Betul?  

Memang sih, kehilangan sesuatu karena Allah itu lebih baik dan pasti akan ditemukan penggantinya. Tapi, selama manusia masih berproses, selama itulah melepaskan kehilangan itu tak akan benar-benar berlangsung cepat. Butuh pembiasaan untuk ikhlas yang terus menerus dan hitungan tahun pun tak akan selesai. 

Yang penting niat dulu, jalani dulu. Iya, memang sesuatu kalau tak dijalani memang tak akan bisa dan biasa. Namun, tentu memahami ini bukanlah seperti memahami deadline pekerjaan kita dan performa kerja kita secara terukur, konstan dan efisien. 

Kita belajar membuka niat dan jalan, memang secara grafik akan naik dan terus naik, tapi jika dibayangkan akan harus ada target sampai-sampai kita lupa bahwa dalam niat dan rukun ada juga nilai-nilai kebaikan intrinsik yang berjalan, tentu ini bukanlah perubahan. Mungkin kita makin rajin, tapi bagaimana dengan nilai-nilainya? Mungkin kita menghayati rukun, tapi kalau masih berpikir yang jahat? 

Caisar, memang telah menjalani sesuatu yang disebut sebagai “hijrah”. Dia meninggalkan dunia hiburan (meski tak benar-benar hilang dari televisi), masuk ke dunia dakwah dan mulai kaffah menjalankan apa yang orang katakan sebagai “sunnah Rasul”, begitu pun dengan sang istri yang ia nikahi saat YKS masih cukup jaya. Tapi, apakah sebenarnya hatinya telah hijrah? Apakah dia tak boleh berpikir realistis?  

Terlalu realistis, memang membuat kita tak berusaha. Padahal, Allah telah menjanjikan bahwa bagi mereka yang berusaha, pasti akan diberikan apa yang diminta. Setidaknya, kalau ini dianggap tak baik buat Allah, akan diberikan pengganti yang menurutNya baik. Tapi, terlalu tinggi pun, juga tak baik. Kita harus meletakan harapan pada titik yang seimbang.  

Ini bukan masalah dia realistis apa tidak, pekerjaannya halal atau tidak, tapi musik itu haram hukumnya. Oke, saya tak paham soal hukum agama yang ini. Mungkin yang memahaminya bisa menjelaskan lebih detil.

Tapi, di sosial media, pernyataan “keras” ini sudah seringkali saya temukan. Musik itu haram, salah satunya berdasar hadits Nabi yang pada intinya menyatakan bahwa pada satu masa akan halal (apa yang disebut haram), dari khamar sampai musik. Pernyataan “keras” ini ditambah dengan opini semacam : “musik itu melenakan, lebih baik dzikir, ingat sama Allah”.   

Nah, dunia hiburan itu tak akan lepas dari musik. Inilah kenapa ketika Caisar memutuskan “hijrah” disambut baik oleh mereka yang memiliki pemahaman sama. Bahkan oleh sesama Caisar di dunia hiburan seperti Teuku Wisnu. Mereka berharap, ini akan menjadi contoh buat mereka-mereka yang belum tersentuh cahaya “hijrah”, bahwa orang yang pernah terjebak pada kesuksesan dan gilang-gemilang harta dunia bisa juga “hijrah”.  

Namun, saya rasa mereka terlalu terjebak pada euforia yang pada akhirnya tak bijak. Tak bijak buat “hijrah” dan tak bijak juga buat Caisar. Jebakan euforia inilah yang nampaknya menjadi alasan kenapa begitu banyak kekecewaan warganet saat Caisar akhirnya kembali mengais embun-embun rejeki di dunia hiburan.  

Mereka sendiri mengatakan bahwa ujian dalam “hijrah” itu macam-macam, dan mereka mengatakan bahwa Caisar mungkin terjebak pada situasi ini. Apalagi dikabarkan istrinya Caisar sempat mengalami penyakit yang cukup susah diobati (bukan kanker), berdasar penuturan dia di infotainment yang saya saksikan di televisi, meski dibantah juga oleh dia sendiri.  

Pertanyaannya, ketika “hijrah dan dunia dibenturkan, apakah sebenarnya kita telah sungguh memahami “hijrah” itu sendiri? Apakah kita hanya memakai “hijrah” sebagai suatu kata?  

Saya bukan sok religius. Sok paham agama. Apalagi tukang motivasi. Saya hanya manusia. Titik tak pakai koma. Saya mungkin masih mencari apa yang bisa disebut “hijrah” itu sendiri. Suatu saat, saya bisa saja masuk ke dalam “hijrah”. Namun, pada saatnya nanti, saya hanya bisa berdoa, bahwa saya “hijrah” untuk mencari hidup saya sendiri yang lebih bermanfaat, bukannya untuk dibebani menjadi contoh orang banyak. 

Saya berpikir tentang bermanfaat demi kemaslahatan orang banyak, bukan untuk berpikir bahwa sayalah yang menentukan kemaslahatan orang banyak, sampai-sampai ketika saya salah, orang banyak malah kecewa kepada saya, seakan saya lebih daripada mereka. Tapi, yang namanya manusia bisa berubah-ubah, kan?

Artikel Terkait