Menangkap Semua Kebahagiaan

Jantungnya tak lagi berdetak
Tatkala denting waktu menunjukkan angka dua belas
Daun-daun pun turut terdiam
Angin sepoi-sepoi tak lagi sanggup menggerakkannya
Perlahan-lahan hasrat hati tertunduk tertegun
Termangu dalam kebisuan
Menyaksikan semuanya telah berbeda

Yang menyangga raganya kini memang telah tiba
Tepat saat denting waktu menunjukkan angka dua belas
Sang bidadari itu benar-benar telah menggantikan perannya
Memberi isyarat pada daun
Agar tetap sunyi dalam diam
Seolah tak ada yang berubah
Tepat saat momen jantungnya tak lagi berdetak

Jangan risau dengan kepergiannya
Ia tak jauh melangkah dari diamnya
Ia hanya mencoba bersemadi dengan caranyaMasuk ke dalam sanubari
Menyalakan kembali cahaya hidupnya
Yang sempat redup diterpa angin malam
Dan hampir mati dalam diam

Air matanya bercucuran bak manikam putus talinya
Ketika berjumpa dengan ketenangan di dalam dirinya
Di sana ada cahaya yang sungguh benderang
Ia pun kemudian melintasi  waktu  di dalam diamnya
Membangkitkan diri dari kematian rasa
Hingga ia dengar kembali suara jantung berdetak
Tepat saat denting waktu menunjukkan angka dua belas

Jiwa itu pun kemudian bangkit
Menyapa raga yang telah ditinggalkannya
Ketenangan itu ternyata ada di dalam hati nurani
Lembut membelai jiwa dengan tanpa pamrih
Menempati ruang kosong yang terabaikan
Mengisi tempat yang paling rendah
Dan menyangga bagian diri yang berada di puncak ketinggian

Ia pun kemudian menari bersama daun di dalam diam
Menikmati indahnya matahari, hujan dan semua yang diberikan alam
Ia telah menangkap semua kebahagiaan
Yang ternyata bersumber dari dalam dirinya sendiri
Maka, tak ada satu pun alasan baginya
Untuk tak bahagia atas hidupnya
Bersama denting waktu yang mengiringinya
Di bawah benderang cahaya tak terbatas

Yang Menangis Bukanlah Dia

Tepat saat denting waktu mengingatkan batasannya
Tetap saja ada air mata yang bercucuran
Ia yang telah meniadakan diri
Memang telah menemukan kedamaian di dalam jati dirinya
Dan membiarkan sang bidadari menggantikan perannya
Namun, siapakah yang bersimpuh di dalam kedalaman rasa itu?
Menangis dalam haru biru?

Yang menangis adalah dia
Yang telah lama menanti turun ke bumi
Dari langit ketujuh nan indah
Bersama kerinduannya yang hampir mati
Menjumpai kekasih hatinya
Yang pernah ia tinggalkan di kehidupan sebelumnya
Tuk mengucap maaf yang tak sempat terkatakan

Yang menangis adalah dia
Yang tak kuasa menahan haru
Saat perempuan itu merelakan dirinya diam di dalam kedalamannya
Dan merelakan raganya ditempati olehnya
Memberikan kesempatan kepada dirinya
Menebus segala kesalahan dan sesal
Pada kekasih hati yang pernah ia tinggalkan

Yang menangis ternyata memang bukanlah dia yang sejati
Yang sejati tak terpengaruh oleh apapun
Tidak oleh dinginnya hujan yang lama menanti
Tidak juga oleh teriknya matahari di langit biru
Atau pun badai yang memporakporandakan segalanya
Yang sejati tidak terpengaruh oleh kesedihan sepahit apapun
Atau keharuan karena tak sanggup menahan bahagia

Yang menangis bukanlah dia
Yang telah diam dalam diam
Yang telah bercahaya dalam cahaya
Berkilauan bak manikam terajut indah
Menghiasi semesta tanpa disadarinya
Memberikan kedamaian dan ketenangan
Bagi jiwa-jiwa yang merana

Yang menangis bukanlah dia
Karena dia bukan siapa-siapa lagi
Dia tak lagi tahu apa-apa
Dia pun tak lagi mendengar apa-apa
Dia juga tak melihat apa-apa
Keikhlasan telah menaungi  jiwanya
Ia telah menyadari bahwa mata, telinga dan rasa di hatinya bukanlah miliknya

Tujuh Hari

Yang menempati raga itu bukan main cantiknya
Gerak geriknya sungguh anggun sempurna
Seolah tak ada satu pun perempuan di dunia yang sanggup menyainginya
Matanya berbinar indah
Rambutnya panjang hitam berkilau
Beginilah kalau bidadari turun ke bumi
Menyempurnakan raga yang ditempatinya

Ia pun kemudian memulai hari pertamanya di pagi buta
Mengguyur sang raga dengan dinginnya air gunung
Menari dengan  gemulai menyambut mentari pagi
Dan dengan selendang panjang menjuntai
Perlahan kakinya pun bergeser mengikuti irama gendhing yang mengiringi
Menyibak kerinduan yang terpendam
Seiring  dengan alunan gendhing Ladrang Ketawang Ibu Pertiwi

Tak ada yang tahu kehadirannya
Bagai pencuri yang masuk melalui celah jendela
Diam-diam mencuri hati kekasih hatinya kembali
Memberikan senyum yang paling menawan
Membelai mesra jiwa yang lara
Membasuh kembali daun-daun
Memancarkan kembali kilau yang tersembunyi

Tak ada lagi debu pada daun
Tak ada lagi luka yang menggores
Semua kembali bercahaya
Semangat baru telah dimulai
Menyongsong hidup baru tanpa sesal
Memberikan ketenangan seluas samudra
Pada kekasih hatinya yang dulu pernah ia tinggalkan

Adakah yang tahu kehadirannya?
Ia sendiri bahkan baru menyadari
Saat sebuah puisi menuliskan tentangnya
Pada hari keempat setelah kehadirannya
Meski hati tak pernah salah
Rasa tak akan pernah menipu
Dan setiap sentuhan tidaklah sama

Ia hanya memiliki waktu tujuh hari
Menutup luka yang pernah menganga
Menghapus sesal dan rasa bersalah
Tapi sang kekasih ternyata tidaklah pernah terluka
Tak pernah menyesal dengan pertemuan dan perpisahan
Kasihnya sungguh seluas samudra
Ia pun tahu siapa yang sekarang sedang bersemayam pada tubuh istrinya

(Lereng Gunung Sakya, 2020)