Kumpulan Puisi Engel Elvent.

Cahaya Pucat Matahari

Dalam jarak
Sedekat ini
Tanpa angin ribut
Tanpa beberapa dengusan
Bergegas membasahi memecah kesunyian

Ini bukan sekedar kejam pada hadirnya.
Aku terjebak dalam waktu yang lama.
Rintiknya mencuat bayangan telanjang
Sedikit menyungging cengiran, ini gila.

Rintik hujan seperti cekikian membosankan.
Aku berseru marah "semoga kau berhenti"
Tanpa pengintaian di balik jendela

Tampak serak serik rintik melembut
Seraya berpaling, engkau bajingan.
Aku menatap lantai yang penuh butir bening.
Mataku terpaku dengan sisa hujan sore ini
Yang nyaris mengering
Ujung genting menjiprati berandaku.
Dengan bahagia berbinar kagum.
Hujan berhenti.

Malang, 09-10-2016 

Senandung Malam

Jalan tampak gelap
Senyummu tampak memudar
Pada pertengahan malam ini
Seakan menunggu diri pulih
Dari sebuah ketakutan

Lampu-lampu jalan nyaris mati
Sepanjang jalan dikatakan sunyi
Rasa dingin ketakutkan mengaliri tubuhku
Merasakan hal lain pada raut sunyi pada matamu.

Aku mendapatkan kesan
Tapi terus terusan tersandung
Spertinya dirimu rentan pada kompulsi.
Ku cari akal meyudahi perseturuan ini.

Di bawa gelap yang pekat
Kepatuhan membingkai wajahku
Melawan rasa ego.
Kumerangkai kata permohonan maaf.
Hingga senyum anggunmu kembali tereduksi.
Maaf, telah membuat lebam di hati dan matamu.

04-10-2016

#sajaksangdewa