Lampu-lampu mulai menyala. Bintang-bintang pun berlomba-lomba memancarkan cahayanya dari kejauhan. Malam itu seorang wanita paruh baya duduk di sudut pendopo, setelah mengantar kedua penarinya berjalan menuju paseban agung.

Darahnya seolah mendidih. Sekujur tubuhnya pun merinding ketika gerak langkah sang penari mulai menapak selangkah demi selangkah memecah keheningan malam. Semua mata tampak terpukau, namun segan untuk terus menatap kecantikan dan kemolekan kedua penari. 

Mungkin karena adanya aura kesucian, yang memancarkan cahaya misterius hingga suasana sakral benar-benar terbangun sempurna malam itu.

Tujuh tamu dari Jepang yang telah mendapatkan pengarahan mengenai tata krama dalam menyaksikan pementasan tari Jawa klasik dengan konsep beksan pun turut larut dalam suasana khidmat. Hingga semua yang hadir di pendopo itu seperti tak ada. Lebur dalam satu kesatuan, memuja Hyang Manon bersama sang penari.

Benar-benar malam yang indah. Kemisteriusannya bahkan telah terjadi sejak jemari tangan wanita paruh baya itu mulai memoleskan riasan tipis-tipis pada wajah sang penari, tepat saat sang senja mulai mengawali proses persiapan pementasan tari Jawa klasik menyambut tamu dari Jepang, yang ingin mengenal lebih dalam tentang filosofi tari Jawa klasik malam itu.

Jemari tangan sang wanita paruh baya itu pun seperti bergerak sendiri, seolah seperti ada kekuatan lain yang menuntun ke arah mana sang kuas menjelajahi wajah rupawan kedua penari, yang sudah cantik bagaikan bidadari dari Kahyangan. Begitu detail dan hati-hati. Dan itu terjadi begitu saja tanpa ada yang bisa menghentikannya, hingga wajah kedua penari itu menjadi cantik tiada tara.

Malam itu memang merekalah ratu kembarnya. Ini bukan lagi bicara tentang kecantikan wajah rupawan. Tapi lebih pada keindahan penuh misteri yang terpancar dari gerak nan gemulai kedua penari. Perlahan namun pasti, lembut, halus dan anggun. Sesekali sibakan sampurnya yang lembut di awal kemudian tegas di akhir turut menyempurnakan keindahan dari tarian yang dibawakannya.

Tari Golek Sri Rejeki pun hadir di paseban agung. Di hadapan tujuh tamu dari Jepang, kedua penari itu berhasil memancarkan keindahan dari jati dirinya yang sejati sebagai napas ilahi. Setiap gerak tarian beserta embusan napasnya malam itu, semata-mata mereka persembahkan memang hanya kepada Sang Pencipta. 

Maka, ketika mereka melakukan gerakan manembah (sembahan) di awal tarian, tujuh tamu dari Jepang yang sebelumnya telah mendapatkan pemahaman filosofi tari Jawa klasik itu pun serentak juga turut melakukan gerakan manembah (sembahan) bersama sang penari.

Tari Jawa klasik memang tak bisa dilepaskan dari istilah beksan yakni ambeg (napas) dan esa (tunggal) yang berarti bahwa seluruh gerak wiraga (raga) dalam tarian hendaknya ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Tari Golek Sri Rejeki sendiri melambangkan kecantikan dan kemolekan remaja putri yang mulai beranjak dewasa. Meskipun tarian ini juga merupakan simbol kesiapan para remaja putri dalam membela bangsanya, namun ketika mendalami tarian ini, sejatinya mereka sedang berproses mencari jati dirinya yang sejati. 

Jati Diri Manusia

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, jati memiliki arti murni. Maka jati diri adalah tentang kemurnian diri manusia sebagai napas ilahi/percikan cahaya ilahi. Seperti bayi yang baru lahir, sebenarnya itulah jati diri kita yang sejati sebelum kita kehilangannya, terselip dan tertimbun di dalam sanubari kita yang terdalam.

Tak bisa dipungkiri, pengaruh pancaindra, pandangan hidup, sistem nilai dari lingkungan melalui apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan secara tidak langsung mungkin memang telah membuat kita kehilangan jati diri kita tanpa kita sadari. Intinya, manusia itu telah kehilangan jati dirinya yang sejati, setelah kemerdekaannya yang hakiki telah terenggut oleh hal-hal di atas.

Dan ketika hati nurani mulai tersentuh, rasa bersalah dan keragu-raguan itu timbul, mungkin pada saat itulah manusia baru mulai merasa dan menyadari bahwa ia telah kehilangan jati dirinya. Maka, tidaklah mengherankan bila pada usia remaja banyak terjadi pergolakan batin. Ini merupakan fase di mana kita (manusia) mulai mempertanyakan kemurnian dari jati dirinya yang sejati, sebelum menuju kedewasaan.

Tari Golek Sri Rejeki sendiri malam itu seolah datang menuntun kedua penari untuk memunculkan kembali jati diri mereka yang sejati. Tak sekedar menghafal sebuah gerakan tari. Di sanggar yang telah tujuh tahun konsisten melestarikan akar budaya Jawa ikhlas tanpa pamrih melalui seni tari ini, kedua remaja putri ini pun juga mendalami filosofi Joged Mataram selama mempelajari tarian tersebut.

Ada empat prinsip dasar dalam falsafah Joged Mataram yang mereka pelajari secara mendalam, yakni sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh. Dengan pengertian yang sangat dalam pula mereka mengimplementasikan ke dalam kehidupan mereka sehari-hari. 

Mencoba menikmati indahnya dipingit, merasakan istimewanya hanya berada di dalam rumah dan memiliki waktu yang cukup hingga leluasa mengenal diri mereka sendiri serta melatih kepekaan terhadap diri sendiri juga lingkungan selama proses mempersiapkan tarian ini.

Tarian ini sebenarnya telah mereka pelajari selama lebih dari dua tahun. Namun untuk persiapan menerima tujuh tamu dari Jepang malam itu, selama sepekan mereka telah berlatih dengan intens mengenakan jarik samparan dalam tarian ini. Tidak mudah memang, karena terampil dan mahir menari dengan jarik samparan (jarik dengan ekor) tanpa terinjak memang membutuhkan proses panjang dan ketelatenan (kesabaran) tersendiri.

Sawiji dalam Falsafah Joged Mataram sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti satu atau bersatu. Di sanggar tari tempat mereka berlatih menari selama ini, sawiji dimaknai sebagai bentuk fokus dan konsentrasi total menyatukan pikiran, hati, jiwa dan raga ke dalam tarian yang ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan dasar ikhlas tanpa pamrih. 

Greget memiliki arti dinamis atau penuh semangat dan tenaga yang membara dalam namun tetap terkendali sesuai dengan sawiji. 

Dan meskipun asal usul kata sengguh berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti tinggi hati, namun di sanggar ini sengguh dimaknai sebagai sebuah bentuk rasa percaya diri yang dimiliki seorang penari namun tetap dengan kerendahan hati. 

Sedangkan ora mingkuh adalah bentuk pendirian teguh, tidak goyah dari ketiga prinsip dasar di atas dan tidak menghindar dari setiap tanggung jawab yang diterima sebagai bentuk pengabdian total kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Karakter yang terbangun dalam diri sang penari dari hasil proses pendalaman filosofi Joged Mataram tersebut, secara tidak langsung ternyata telah menuntun kedua penari menjelajah ke alam semesta yang ada di dalam diri mereka. Dan ketika pengertian sawiji di atas benar-benar dilaksanakan dalam pementasan tari malam itu, mereka pun tak lagi sekedar menari. 

Semesta seolah turut menari dan di setiap gerak gemulai sang penari malam itu seolah memancarkan cahaya indah penuh misteri, yang mungkin tak mudah untuk dipahami oleh mata telanjang. Jati diri sang penari sebagai napas ilahi pun benar-benar tampak nyata malam itu, sebagaimana makna dari filosofi beksan dalam tari Jawa klasik.

Sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh dalam Falsafah Joged Mataram sesungguhnya adalah bentuk kristalisasi dari pandangan hidup orang Jawa. Dan dengan didasari akar budaya Jawa “ikhlas tanpa pamrih”, maka tari Jawa klasik yang dibawakan kedua penari malam itu pun benar-benar menampakkan percikan cahaya indah, mengungkap sebuah misteri tentang jati diri manusia, bahwa sejatinya ia (manusia) itu adalah beksan itu sendiri, yakni napas ilahi atau percikan cahaya ilahi.

Demikian pula dengan setiap gerak dalam tari Jawa klasik yang melambangkan awal keberadaan, perjalanan dan ketiadaan manusia kembali kepada Sang Pencipta, maka tari Jawa klasik yang benar-benar ditarikan sebagai tuntunan dan bukan tontonan (hiburan), malam itu akhirnya benar-benar telah menuntun sang penari, dan juga yang menyaksikan tarian tersebut menemukan kembali jati dirinya yang sejati sebagai percikan cahaya ilahi, penerang jalan untuk dapat kembali pulang dalam arti yang sesungguhnya.

Jejak Cahaya Misterius

Malam semakin syahdu. Gerakan lembut nan gemulai dari kedua penari membuat tarian tersebut semakin terkesan elegan. Sibakan ekor dari jarik samparan yang dikenakan sang penari pun begitu indah menebarkan bunga mawar merah dan putih ke udara sebelum akhirnya jatuh menghiasi lantai pendopo. Tiga kali sibakan ekor dari jarik samparan dengan tebaran bunga itu menyamarkan kilatan cahaya misterius yang tiba-tiba terpancar dari dalam diri  kedua penari.

Meski sempat terkejut, wanita paruh baya yang duduk di sudut pendopo itu pun segera menangkapnya secepat kilat, kemudian menyimpannya dalam-dalam sebagai kenangan yang tak kan ia lupakan. Sesaat dalam rentang waktu yang sangat panjang, baginya inilah yang dinamakan hidup. Merasakan hangatnya cahaya misterius yang terpancar indah dari sebuah tarian Jawa klasik, yang mampu mendamaikan segenap pikiran, hati, jiwa dan raganya.

Benar-benar malam yang indah. Cahaya itu hadir sesaat, namun vibrasinya sampai pada pikiran, hati, jiwa dan raganya dengan sempurna. Matanya terpana, batinnya menangis haru. Dan saat ia melihat sekelilingnya, ia melihat cahaya itu ada di mana-mana. Maka, ia pun membungkuk hormat pada semua yang hadir di pendopo itu tanpa terkecuali. Kesadaran telah merasuki batinnya malam itu, sebuah kesadaran bahwa di dalam setiap ciptaan, di sana ada percikan cahaya ilahi.

Sampai tarian berakhir malam itu, lampu-lampu masih menyala. Bintang-bintang pun masih memancarkan cahayanya. Dan di antara kerlip bintang-bintang itu, tampak pula cahaya misteius yang sangat cerlang seolah menerangi setiap hati yang merasakan kehadirannya malam itu, bagai sang penari yang malam itu juga bersinar terang di antara gerak lembut nan gemulainya, yang juga memancarkan cahaya indah penuh misteri.

Di bawah benderang cahaya mirip bintang yang sungguh menawan malam itu, sang wanita paruh baya itu pun kemudian berjalan meninggalkan paseban agung bersama kedua penarinya. Meninggalkan indahnya jejak cahaya misterius, yang mengantarkan diskusi panjang tentang filosofi tari Jawa klasik sampai di ujung malam itu.