Pernah saling mencintai, tapi tidak saling memiliki. Memang cinta tidak selamanya memiliki, walau cinta pada dasarnya menyatukan.

Cinta juga bisa membuat orang gila. Kegilaan terjadi bila orang salah memahami arti cinta yang sebenarnya. Kegilaan bahkan bisa membawa orang pada kejanggalan hidup, alias hidup tanpa tujuan.

Rosa, gadis berusia 16 tahun, siswi sebuah SMA swasta di kota Metropolit, Jakarta, terbuahi oleh kata-kata manis tentang cinta dari seorang pemuda yang baru saja ia kenal, Angga namanya. 

Perkenalan bermula dari media sosial hingga mengantar mereka pada perkenalan secara langsung yang mereka rajut di sebuah café pada beberapa bulan yang lalu.

Pertemuan awal itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi Rosa. Mereka saling mengungkapkan cinta yang sudah lama dipendamkan. Bahkan merajutkan cinta sampai melampaui batas.

Sialnya, usai pertemuan itu laki-laki itu hilang tanpa jejak. Bahkan semua akun medsos dan nomor ponselnya pun di blokirnya. Ternyata ia hanya menginginkan kegadisan Rosa.

Hampir dua bulan kejadian itu berlalu. Rosa merasa cemas karena beberapa hari yang lalu seorang dokter memperkuat dugaannya bahwa ia hampir dua bulan hamil. Hal itu membuat Rosa seakan mau gila.

Rosa ingin berteriak pada Angga, lelaki pujaannya itu. Tapi percuma. Teriakan histeris Rosa seakan sia-sia bak hembusan angin berlalu.

Hari demi hari kamar tidur menjadi sahabat akrab Rosa. Rosa tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak bisa mengajaknya berkomunikasi.

Orang tua Rosa heran dengan tindakan putri mereka yang tidak seperti biasanya. Rosa yang biasanya cerewet tiba-tiba berubah menjadi pendiam.

Rosa masih terus mengekang diri di kamar. Ia takut memberitahukan hal yang menimpa dirinya kepada siapa pun, termasuk kedua orang tuanya.

Orang tua Rosa mengira mungkin putri mereka sedang bergulat soal cinta, layaknya anak gadis lainnya. Maka mereka tidak mau mengganggunya untuk sementara waktu.

Saat duduk termenung di kamarnya, sejumlah pertanyaan berlintasan di benak Rosa: mengapa ia membiarkan dirinya dibutakan oleh perasaan yang berlebihan? Mengapa ia tidak sungguh-sungguh gunakan akal sehatnya saat itu?

Sementara pertanyaan-pertanyaan itu saling berpacu, tiba-tiba satu pertanyaan mencuat: akankah ia menggugurkan buah kandungannya?

“Tidak! Aku sudah cukup banyak berbuat salah. Aku tak mau hal itu terus berlanjut. Aku mau menghentikannya.” Tegas Rosa dalam Batinnya.

Rosa meraih ponselnya, lalu menghubungi organisasi perlindungan kehidupan untuk minta pertolongan. Ia sangat cemas dan tak tahu apa jadinya. Tetapi, bagaimanapun juga rasa takutnya berkurang karena tahu bahwa ia sedang berlaku benar.

Ia merenungkan nama indahnya yakni Rosa yang berarti bunga mawar. Duri-duri tajam muncul pada usia mudanya. Tetapi, kini timbul pula keindahan kuntum dan keharumannya, yakni mengambil keputusan benar dalam situasi sulit itu.

****

Hari terus berlalu. Sudah tiga hari Rosa tidak ingin diganggu. Orang tuanya semakin panik dengan keadaannya. Namun, mereka tetap menahan diri untuk tidak mengganggunya.

Satu kesempatan, Rosa memberanikan diri untuk menceritakan kepada orang tuanya mengenai persoalannya.

Pak Cah dan Bu Nia, kedua orang tua Rosa, yang sedang asyik nonton televisi di ruang tamu saat itu menoleh ke arah kamar Rosa ketika mendengar bunyi gagang pintunya. Rosa keluar dari kamarnya.

“Rosa, anakku, apa yang membuat dirimu tak mau keluar dari kamar selama ini? Ibu dan ayahmu sangat mengawatirkanmu nak.” Bu Nia memeluk erat putrinya dengan linangan air mata yang tak henti ketika melihat anaknya keluar dari kamar.

Rosa yang sudah berkomitmen di kamarnya untuk berani menceritakan persoalannya kepada kedua orang tuanya kini tak kuasa menahan air matanya ketika melihat orang tuanya yang ikut larut dalam kesedihannya.

Terbesit dalam pikirannya untuk tidak menceritakan persoalannya itu karena ia tidak ingin menambah beban bagi kedua orang tuanya. Namun, semakin ia menahan semua persoalan itu ia makin terluka.

Rosa menyeka air matanya. Segera ia melepaskan pelukan ibunya. Lalu ia duduk mendekati ayahnya yang juga dengan mata berkaca-kaca menyaksikan kesedihan keluarganya saat itu.

“Nak, ceritakanlah pada kami, apa yang terjadi padamu?” Ibunya terus memohon dengan suara gemetar yang tak tertahankan.

Dengan berat hati Rosa membuka suara, “pak, bu, maafin Rosa! Rosa telah mencoreng nama baik keluarga kita.”

“Ceritakanlah nak. Apa pun persoalannya, ceritakan pada kami!” Ibunya menimpal dengan isak tangis yang semakin meninggi.

“Rosa hamil bu. Laki-laki yang telah menghancurkan Rosa pun telah pergi entah ke mana. Ia tidak mau bertanggung jawab dengan semua perbuatannya.” Ungkap Rosa dengan tubuh gemetar ketakutan.

Mendengar kegelisahan Rosa, ayahnya seakan disambar petir yang mengakukan. Ia seolah tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar dari putrinya.

Penyesalan meraja diri Pak Cah. Namun, semuanya sudah terlambat untuk disesali. Kegadisan anaknya bagaikan air di gelas yang tertumpah dan tidak penuh lagi. Mustahil untuk meraut kembali air yang telah tertumpah ke tanah. Ia memaafkan dan menerima semua yang menimpa Rosa, anaknya.

Sementara itu, ibu Rosa menangis tiada henti kala mendengar luka dan derita yang dialami putrinya. Hatinya bagaikan tertusuk duri kehidupan yang tak membebaskan.

*****

Bu Nia mengirim pesan singkat melalui chatingan whatsapp kepada Rimar, sahabat Rosa, yang tinggal bersebelahan dengan rumah mereka untuk datang dan menghibur anaknya agar tidak terus terlarut dalam kesedihannya.

Dalam hitungan menit Rimar sudah tiba di rumah Rosa. Ia menghampiri Rosa. Namun, Rosa menatap Rimar dengan tatapan kosong. Antara malu, takut dan penyesalan bercampur seakan membuatnya lemah dan mau gila.

“Ros, memang benar kalau mencintai itu berarti semakin menyatu dengan orang yang kita cintai. Tapi bukan dengan cara seperti itu. Kamu telah salah memahami arti cinta yang sebenarnya, Ros.” Rimar membuka percakapan.

Memang Rimar pernah menegur Rosa untuk tidak mudah percaya dan tergoda dengan gombalan laki-laki, apalagi lewat media sosial. Namun, saat itu Rosa tak menghiraukannya.

“Ros, cinta yang kokoh mengeratkan selamanya. Bukan kenikmatan sesaat seperti yang kamu dan laki-laki itu lakukan kemudian dia pergi begitu saja tak mau bertanggung jawab.” Jelas Rimar.

Sambil mengangkat muka dari tunduknya, Rosa menatap Rimar, lalu mengatakan, “ya Sahabatku. Terima kasih untuk penguatan dan cinta yang kau berikan untukku. Dan maafkan sikapku yang tidak mau mendengarkanmu selama ini.”

“Aku menerima persoalan yang menimpaku. Aku akan bertanggung jawab atas buah hati yang Tuhan pecayakan kepadaku!“ Batin Rosa menguatkannya.

Dari pengalaman gelapnya ini, Rosa mulai menyadari arti jatuh cinta. Jatuh cinta tidak hanya mengikuti perasaan karena perasaan itu berubah-ubah dan bisa membawa penyesalan yang menggilakan. Maka, bagi Rosa, berpihak juga kepada akal budi yang sehat merupakan rumus cinta yang sejati.