Di tengah hiruk pikuk berdemokrasi yang bising, seringkali kita merasakan adanya suatu pandangan yang skeptis dan tak percaya pada para politikus. Ketidakpercayaan itu seperti kecamba—tumbuh berkembang dengan pesat seiring waktu. Disirami dengan air mata dan trauma mendalam.

Kita adalah bangsa yang surplus politikus, tetapi defisit negarawan. Demikian, kritik pedas seorang Buya Ahmad Syafii Maarif (ASM). Dalam bahasa lain, demokrasi kita seperti sarang para penyamun. Demokrasi dikuasai oleh segelintir elit yang hanya berpikir sesaat tentang dirinya dan kelompoknya.

Demokrasi semacam itu telah menjelma dalam kehidupan berbangsa kita. Demokrasi berjalan rumit dan masalah kebangsaan semakin kompleks. Isu-isu kebangsaan kita bertambah rumit dengan mewabahnya intoleransi dan radikalisme. 

Sementara pada dimensi berbeda, kita belum juga sanggup menuntaskan masalah-masalah krusial lainnya seperti korupsi dan kemiskinan. Dua hal ini pada akhirnya menjadi pemicu memudarnya semangat nasionalisme serta menjamurnya ekstrimisme.

Belum selesai di situ, kita juga mengalami kelangkaan tokoh bangsa yang “sejuk”. Tokoh yang dapat dijadikan sebagai teladan dan inspirasi karena pemikiran dan sikap politiknya. Tokoh yang berani melawan arus dan dominasi. Tokoh yang kritis dan konsisten merawat tradisi intelektual, memiliki spiritualitas yang kuat, tetapi juga pikiran-pikirannya tetap netral dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Sepeninggal Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid alias Gusdur, intelektual muslim yang patut jadi guru bangsa adalah Buya ASM—seorang cendekiawan muslim yang memiliki pandangan ke-Indonesiaan yang kuat. Di usianya yang ke-83 tahun, Buya tetap konsisten merawat kewarasan dan nalar kritis yang kokoh.  

Sebagai seorang “fundamentalis insyaf”, Buya ASM lebih dikenal sebagai tokoh pluralis yang inklusif dan moderat. Pikiran-pikirannya tidak terlalu ekstrim kanan atau condong ke kiri. Buya selalu berdiri di tengah menyuarakan isu-isu kesetaraan dan anti terhadap marjinalisasi.

Di usianya yang senja, banyak yang mencemaskan apakah pikiran-pikiran Buya ASM telah dibumikan. Tentu, diperlukan penerusnya. Intelektual muda yang mewarisi cara pandangnya yang humanis. Pada generasi penerus inilah, Buya berharap Indonesia akan lebih baik.

Dalam sebuah pidatonya, Buya menuturkan optimisme dan harapannya tersebut. Kata Buya, titik terang itu tetap ada. Titik terang yang dimaksud Buya tidak lain adalah kemunculan politikus yang negarawan. Dan kehadiran intelektual muda progressif.

***

Refleksi kritis terhadap pemikiran Buya ASM akhirnya dituliskan oleh anak-anak muda. Pembacaan kritis ini tentu menarik karena narasi yang dibangun oleh anak-anak muda tersebut sangat khas dan bersumber dari pembacaan mereka pada berbagai literatur mengenai Buya ASM.

Dalam buku setebal 240 halaman berjudul “Merawat Kewarasan Publik” (Refleksi Kritis Kader Intelektual Muda tentang Pemikiran Ahmad Syafii Maarif), empat belas intelektual muda menulis tentang pemikiran Buya ASM. Mereka adalah alumni Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif (SKK ASM) Angkatan Pertama—sebuah sekolah yang diinisiasi oleh Maarif Institute.

Di sekolah itulah, Maarif Institute mengundang dan menyeleksi anak-anak muda yang tertarik dengan pemikiran ASM. Mereka yang terpilih kemudian difasilitasi untuk belajar tentang bagaimana Islam dan ke-Indonesiaan, Islam dan Demokrasi serta pemikiran ASM tentang masalah-masalah kebangsaan dan isu-isu penting lainnya.

Dari sekolah yang dikemas dalam kursus singkat tersebut, anak-anak muda dari berbagai wilayah kemudian menuliskan pikiran-pikirannya. Ada dua tema besar yakni (1) mengenai pemikiran ASM, (2) tulisan bebas yang relevan dengan keilmuan masing-masing.

Buku “Merawat Kewarasan Publik” adalah buku pertama yang isinya adalah refleksi kritis intelektual muda terhadap pemikiran ASM. Penulisan kritis tentang pemikiran seorang tokoh memang agak jarang. Kebanyakan tokoh yang dituliskan dalam bentuk biografi acapkali dibuat untuk sekadar mengkapitalisasi citra sang tokoh.

Anak-anak muda yang menulis tentang ASM dalam buku yang terbit pada November 2.18 ini secara serius membicarakan pemikiran dan gagasan Buya. Mereka menafsirkan makna-makna filosofis di balik pemikiran ASM sekaligus meresponnya dalam kacamatanya sendiri sebagai seorang intelektual muda.

Tidak berhenti di situ, tafsir pemikiran Buya yang mereka telaah baik melalui tulisan-tulisan maupun pernyataan ASM, dengan berani dikontestasikan dengan masalah-masalah kebangsaan saat ini. Empat belas penulis dalam buku tersebut pada akhirnya memilih sub-topik yang berbeda-beda. Mereka berhasil menemukan suatu nilai otentik dari pemikiran ASM yang dilihatnya penting dan menarik.

Ini menunjukkan betapa mendalamnya pemikiran Buya. Tulisan-tulisan dalam buku itu sekaligus membuktikan suatu gairah intelektual yang eksploratif. Mereka mendalami secara serius, sehingga setiap penulis dapat menarik benang merah atas pemikiran Buya ASM.

Taufani misalnya menulis tentang konflik Sunni-Syiah, menjelaskan bagaimana ikhtiar Buya untuk memutus rantai konflik berkepanjangan tersebut. Pada tulisannya berjudul “Keluar dari Rongsokan Sunni-Syiah: Membaca Pemikiran Ahmad Syafii Maarif”, Taufani menggambarkan bagaimana sikap ASM terhadap konflik Sunni-Syiah. Buya menegaskan bahwa konflik Sunni-Syiah bukanlah konflik teologis, sebagaimana sering diyakini oleh umat Islam, tetapi murni konflik para elit arab muslim.

Dalam konteks ini, lagi-lagi Buya ingin mengingatkan (sebagaimana ditulis Taufani), agar umat Islam di Indonesia berhenti mengimpor arabisme yang salah jalan (misquided arabism).

Tulisan lainnya yang juga menarik adalah “Buya Syafii Maarif: Siapa Bisa Mengelola Indonesia?” yang ditulis Irfan L Sarhindi. Irfan menegaskan suatu karakter kuat seorang ASM yang selalu tampil tanpa pretensi memulas dengan apa yang disebutnya “gincu”. Sebagaimana diketahui, Buya selalu mengkritik ekspresi keber-Islaman kita yang cenderung hanya cangkang dan simbolik tanpa menyentuh subtansi dan ruh dari Islam itu sendiri.

Dalam tulisannya, Irfan juga membahas tentang suatu sikap penting dari seorang ASM yakni “lapang dada”. Ini adalah sikap istimewa yang sekaligus menjadi pembeda antara ASM dan tokoh-tokoh Islam lainnya. 

Sebagaimana disebutkan Irfan, ASM adalah tokoh yang memiliki keteguhan untuk tetap setia menawarkan kontra narasi dan selalu konsisten berkhidmat menjaga moralitas bangsa. Dan sikap “lapang dada” dan keberanian itulah yang membuat Buya selalu siap menerima segala konsekuensi dari determinasi kelompok dominan yang tidak setuju dengan pemikirannya.

Cici Situmorang, seorang intelektual Kristen pada akhirnya melengkapi pandangan tentang Buya. Cici menulis “Buya Syafii, Sang Garam Dunia Sesungguhnya”. Catatan Cici tentu menarik karena melihat Islam dari sudut pandangnya sebagai pemeluk Kristen. Pertama, Cici memberi pendapat positif bahwa Islam adalah agama perdamaian. 

Kedua, Cici mengungkapkan kekagumannya pada Buya yang awalnya dinilainya (mungkin fundamentalis)—tetapi, setelah membaca buku “Memoar Seorang Anak Kampung”, Cici menemukan betapa Buya adalah seorang Muslim yang dianggapnya sebagai garam sesungguhnya. Bagi seorang Cici, Buya adalah gambaran seorang Muslim yang sesungguhnya, Islam yang membawa misi kedamaian.

Isu-isu lainnya tentu tidak kalah menariknya antara lain: (Transformasi Intelektual Ahmad Syafii Maarif: Dari Neo Revivalisme Maududian Menuju Neo-Modernisme Rahmanian) karya Aan Arizandy, (Demokrasi yang Berkeadaban Ahmad Syafii Maarif) oleh Muhammad Alkaf, (Etika Hidup Ahmad Syafii Maarif: Sebuah Refleksi) oleh Robby Kurniawan, (Adegium Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif) Andi Muslimin, (Ahmad Syafii Maarif: Jurang Antara Al-Quran dan Persaudaraan Universal) oleh Ricko Imano Ganie, dan lainnya.

***

Akhirnya, buku ini seperti oase di tengah padang pasir. Kita menemukan beragam pandangan positif dari sikap dan pemikiran seorang ASM yang murni berdasarkan pembacaan kritis para intelektual muda. Nilai-nilai humanis dari seorang ASM tersebut pada akhirnya harus diaktifasi dan ditransformasi pada lingkungan masing-masing. Itulah tugas berat seorang intelektual muda.

Perjuangan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal haruslah terus disuarakan oleh kita semua. Tentu tidak mudah. Jalannya terjal dan penuh risiko, sebagaimana Buya ASM melintasasi hidupnya yang cadas dari seorang fundamentalis menjadi “fundamentalis insyaf”. Dari neo-revivalis Maududian menuju neo-modernis Rahmanian.  

Tugas kita ke depan, tentu jauh lebih berat. Memilih sebagai intelektual progressif yang kritikel dan konsisten menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan adalah pilihan. Hanya dengan begitu, kita dapat merajut optmisme berbangsa di tengah ruang berdemokrasi yang bising dan gaduh.