Dalam harmoni hidup, terkadang apa yang kita lihat tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Karena dunia ini hanyalah panggung sandiwara. Boleh jadi dibalik keindahan, kemegahan perkakas yang membalut tubuh, dibalik senyuman, dan tawa ada beberapa kepahitan hati yang disembunyikan. Banyak orang yang tertawa, sedangkan hatinya luka parah. Ada orang yang terlihat hina, kumal tetapi dalam hatinya terdapat kebahagiaan.

Banyak orang yang tertipu melihat cahaya panas di waktu terik di tanah lapang luas, disayangkan cahaya itu adalah air. Ketika dia sampai di sana hanya pasir belaka. 

Banyak sekali, keadaan yang terlihat alim di lahir, ucapan yang manis tetapi pada kenyataannya bejat.

Ada orang memiliki rumah besar, mobil mewah dan perhiasan yang bergelimang tapi dibalik semua terkadang didapat karena utang. Sangat jauh dari ketenangan, jiwa yang damai.

Bahagia ekspresi dari ketenangan, hati yang damai, dan jiwa yang merasa cukup. Bahagia bersumber dari dalam diri kita yang berbentuk perasaan tenang, tentram, dan damai.

"Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang" kata sebagian orang. Tapi pada hakikatnya uang hanya memenuhi kebutuhan akan fisik saja, sedangkan kebutuhan batin jauh dari ketenangan. Malah terkadang kita menjadi budak dari harta sendiri. 

Dua kutipan dari seorang cendekiawan muslim berwawasan luas, dengan berlatarbelakang sastrawan. Dia Doktor Honoris Causa dari dua Universitas luar negeri yaitu; Universitas Al-Azhar Kairo, dan Universitas Kebangsaan Malaysia. Dia adalah Buya Hamka.

Buya Hamka, Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah. Putra pertama dari pasangan Dr. Abdul Malik Karim Amrullah dan Shaffiah ini lahir pada 17 Februari 1908 di Maninjau, Sumatera Barat. Dia tidak satupun tamat pendidikan formalnya. Dalam bukunya yang berjudul " Tasawuf Modern, bahagia itu dekat dengan kita ada di dalam diri kita". 

Buya Hamka berkata "Bahagia dan celaka itu hanya berpusat kepada sanubari orang, bukan pada zat barang yang dilihat, dimiliki dan dipakai. Bagi kebanyakan orang, masuk bui menjadi kecelakaan dan kehinaan, bagi setengahnya pula, menjadi kemuliaan dan bahagia".

"Sering kali orang mencari bahagia dengan mengorbankan waktu, tenaga, keluarga, bahkan nyawa. Padahal, bahagia dekat dengan kita, ada di dalam diri kita". Tambahnya.

Aristoteles seorang filsuf besar Yunani mengatakan bahagia itu, "berakar dari pencarian tentang makna hidup. Komponen penting dalam hal ini adalah perasaan memiliki tujuan hidup dan nilai. Oleh sebab itu, kaitannya sangat erat dengan pemenuhan tanggung jawab, perhatian terhadap kesejahteraan untuk orang lain, dan menjalani hidup sesuai idealisme".

Buya Hamka dalam bukunya ini. Berpandangan bahwa " orang kaya ialah orang yang sedikit keperluannya, dan orang yang miskin ialah orang yang amat banyak keperluannya". Semakin sedikit keperluan semakin cepat terasa cukup, semakin banyak keperluan semakin tambah jauh dari rasa cukup. Bahagia akan ada dengan bersyukur, dan merasa cukup adalah tanda kita telah bersyukur.

Tidak sedikit orang yang amat banyak keperluannya dihinggapi penyakit hati, penyakit boros, sombong dan takabur, lupa dirinya bahwa senantiasa diancam bahaya ngeriii.

Tambahnya "Kekayaan yang hakiki adalah merasa cukup dengan apa yang ada, sudi menerima walaupun berlipat ganda beratus-ratus miliun, sebab dia nikmat Tuhan. Dan tidak pula kecewa jika jumlahnya berkurang, sebab dia datang dari Allah akan kembali pula kepada Allah." 

Bila kekayaan melimpah. Kita ingat itu gunanya hanya untuk bekal amal beribadah kepada Allah SWT. 

Buya Hamka berpendapat "sesungguhnya hati yang tentram dan pikiran yang hening, memberi bekas yang nyata untuk kebahagiaan manusia, bahkan itulah bahagia sejati. Orang yang banyak harta, kerapkali amat dekat menghadapi bahaya". Kebanyakan mereka yang banyak harta lebih banyak memikirkan tentang harta, yang membuat pikiran sulit sekali mendapat ketenangan. 

Jika dengan harta itu dapat mencapai segala keinginan, maka bertambah banyak harta, bertambah banyak dan lebih besar pula yang diinginkan kita. Sehingga selama-lamanya tidak akan pernah mencapai rasa cukup. Telah mendapatkan satu benda, ingin benda yang lain. Sudah memiliki handphone canggih, tapi melihat keluaran yang lebih baru, pengen yang baru lagi. Sudah punya satu motor melihat yang baru pengen beli yang baru. 

Beliau mengatakan "yang didapat oleh orang yang banyak harta biasanya hanya tiga perkara yaitu makan dan minum yang enak, rumah yang bagus dan ke mana-mana hendak pergi tidak terhalang. Bukan harta yang sedikit itu yang menyebabkan susah, bukan harta yang banyak yang menyebabkan gembira. Pokok gembira dan susah payah adalah jiwa yang gelisah atau jiwa yang tenang dan damai...!!".

Harta telah menjadi racun, dan menutupi hati serta menghambat langkah menuju gerbang kesucian. Hingga tidak lagi mencari kebenaran. Bahagia yang di cari telah tercampur-adukkan sebab harta. Layaknya orang yang haus minum air asin. 

Buya Hamka, telah berpesan dalam bukunya tersebut " mencari bahagia bukanlah dari luar diri, tetapi dari dalam. Kebahagiaan yang datang dari luar, kerap kali hampa, atau palsu". 

Bertambah banyak kesenangan dan kebahagiaan yang datang dari luar diri, bertambah miskinlah orang yang diperdayakan. 

Sedikit pendapatan sedikit pula keperluan penjaga akan diri. Semakin besar pendapatan bertambah pula keperluan penjaga akan diri. Sangat banyak orang kaya dilihat pada lahir, miskin pada hakikatnya. Dari sini nyatalah arti yang sebenarnya pada kekayaannya dan kemiskinan. 

Sebagai manusia yang diutus ke dunia oleh Tuhan sebagai khilafah di muka bumi. Sudah selayaknya kita mencari tahu tugas yang sebenarnya kita tinggal di bumi. Sehingga kita tidak menempatkan harta melebihi kedudukan tuhan. Mengukur segalanya dengan harta, mengukur kebahagiaan pada jumlah harta.

Bahagia itu ialah tetap taat kepada Allah sepanjang umur. Karena Tuhan menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada Tuhan. "Tidak aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepada ku". Sudah selayaknya kita introspeksi diri lalu kembali kepada pencipta kita. Karena dengan selalu taat kepada-nya kita berada dalam kebenaran.