Masuknya era revolusi industri 4.0 konsep digitalisasi dengan program yang berjalan otomatis tidak membuat masayarakat  Indonesia mengurangi pemakaian terhadap kertas dan plastik. Semakin canggihnya teknologi pergeseran pemikiran saat ini lebih condong menginginkan hal yang bersifat praktis dan fleksibel. 

Oleh karena itu pemakaian kertas dan plastik di negeri ini menjadi bertambah dan sebagian beralih fungsi sebagai packaging, wadah makanan siap saji, dan masih banyak lagi  yang notabenenya hanya digunakan sekali pakai.

Untuk plastik sendiri muncul berita dimana Indonesia dinobatkan menjadi negara penghasil sampai ke 2 terbesar di dunia di sampaikan oleh menteri kelautan dan perikanan Ibu Susi Pudjiastuti. 

Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Dimana sebanyak 3,2 juta ton berupa sampah plastik yang di buang ke laut.[1]

Disisi lain industri kertas indonesia mengalami  pertumbuhan sebesar 5% di tahun 2019 ini seiring dengan tingginya permintaan kertas dunia. Ketua umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Aryan Warga menuturkan bahwa peningkatan permintaan global maupun domestik masih terus terjadi.

Terlebih di tahun 2019 penggunaan kertas untuk pemilu kebutuhannya bisa mencapai 100 ribu ton dengan berbagai jenis kertas, dan pasti angka tersebut jauh lebih banyak jika dibandingan dengan pemilu ditahun 2014 yang lalu.[2]

Secara umum, Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 175.000 ton per hari, dengan masing-masing orang menyumbangkan 0,7 kilogram sampah. 

Pada tahun 2012 banyak studi yang melakukan pengkajian tentang hal ini, sehinggga didapati hasil bahwa sampah yang diproduksi ini ditindaklanjuti tanpa dikelola (7%), dibakar (5%), dikompos dan didaur ulang (7%), dikubur (10%), dan yang paling besar ditimbun saja di TPA alias Tempat Pembuangan Akhir (69%). [3]

Sebuah kasus pernah terjadi  di Filipina pada tahun 2000, dimana pada saat itu terjadi penimbunan sampah yang di tumpuk dan dibiarkan begitu saja tanpa ada pengelolaan lebih lanjut dan pada akhirnya dapat mengancam keselamatan jiwa. 

Tumpukan sampah tersebut terkena air hujan secara terus menerus dan menghasilkan gas metana yang terjebak diantara tumpukan sampah. Gas tersebut berubah menjadi sebuah ledakan karena terkena api yang diakibatkan oleh pergesekan benda disekitarnya.

Kejadian tersebut memakan korban jiwa sebanyak ± 200 orang, dan di Indonesia kejadian serupa juga pernah terjadi di Bandung tahun 2005 dengan korban meninggal sebanyak 143 orang.  [3]

Polemik tak berkesudahan akan terus muncul  jika kita tidak bisa menanggapi hal tersebut dengan serius, dilema antara potensi dan ancaman. Kertas dan plastik merupakan 2 benda yang kerap kita jumpai dikehidupan sehari-hari, selain mudah dipakai dan pengembangan fungsi yang beragam namun juga bisa menghasilkan dampak negatif yang luar biasa bagai pisau bermata dua.

Fenomena Butterfly Effect seolah menggambarkan peristiwa ini kekacauan yang terjadi akibat ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal, dimana perubahan kecil dapat mengakibatkan perubahan keadaan yang besar dikemudian hari. Layaknya Butterfly Effect hanya sebatas kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menimbulkan badai tornado di Arizona di kemudian hari.

Sama halnya dengan perbandingan tingkat pemakaian kertas yang pada awalnya sebagai media untuk menulis dikembangkan menjadi wadah makanan, cup, dll. Yang awalnya hanya perlu menumbangkan 1 pohon untuk membuat 13-15 rim kertas untuk ditulis dan pada akhirnya dapat menumbangkan semua pohon yang ada. 

Sama halnya dengan kondisi pemakaian plastik, berdasarkan data riset yang dilakukan oleh Max Roser dan Hanna Ritchie yang di publikasi dalam website ourworldindata.org menyatakan bahwa pada tahun 1950 dunia hanya memprodusi 2 juta Ton pertahun. 

Namun sejak saat itu produksi plastik setiap tahunnya terus meningkat hingga mencapai angkai hampir 200 kali lipat. Sama seperti ketika seseorang membuang 1 sampah botol plastik di selokan di hari ini dan keesokan harinya bertambah dengan orang yang berbeda hingga akhirnya menimbulkan dampak negatif yang besar. 

Butterfly effect dari pengunaan kertas dan plastik berakibat pada pemanasan global, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lain sebagainya. Dengan kata lain, kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana di kemudian hari.[1]

Untuk itu berbagai macam penanggulangan perlu untuk dilaksanakan, perubahan pola pikir perlu dikedepankan. Orientasi perlu diubah tidak hanya mementingkan kesenangan dan kebutuhan pribadi tapi juga perlu memperhatikan lingkungan yang akan tercemari. 

Indonesia tidak kekurangan orang-orang pintar hanya saja membiasakan hal yang pintar yang susah untuk dilaksanakan. Dari buruknya kebiasaan menghasilkan dampak yang cukup mengerikan, sudah saatnya bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk ambil andil dalam memperhatikan.

Banyak sudah solusi yang sudah ditawarkan untuk melakukan pengelolaan dan konversi limbah seiring berjalannya inovasi teknologi yang sudah termodernisasi, namun kenapa di era milenial ini masih belum juga bisa permasalahan sampah untuk ditanggulangi?

Jawaban akan hal itu jelas datang dari diri sendiri, mengapa ,kenapa dan apa yang harus kita perbuat seharusnya timbul pertanyaan tersebut ketika kita melihat fakta mirisnya negeri ini akan sampah.

Penanggulangan dan pencegahan paling baik ketika kita bisa sadar semua permasalahan tersebut bermula dari siapa dan dampaknya untuk siapa, dan semua itu tidak terlepas dari kata kita. 

Untuk itu perlu adanya pelaksanaan program Gerakan Masyarakat Cinta Sampah (GMCS). Dimana program ini menitikberaktkan kepada kesadaran rasa akan memiliki (sense of belonging) dari apa yang kita miliki. 

Ketika kita memiliki sebuah barang jelas kita akan menjaga dan menyayanginya dengan baik hal tersebutlah yang perlu kita tumbuhkan untuk bumi ini, menjaga lingkungan sekitar minimalisir pencemaran dan pada akhirnya akan berdampak untuk diri kita juga.

GMCS juga mengajarkan untuk melakukan beberapa hal sebagai penunjang terlaksananya pengurangan tingkat konsumsi kertas dan plastik yang berujung kepada penimbunan sampah yang ada. Beberapa contoh pembiasan diri yang dapat menimbulkan dam[ak positif diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Membawa botol minum sendiri
  2. Membawa tas belanjaan sendiri
  3. Berhenti menggunakan sedotan, sendok, dan garpu plastik
  4. Belanja dengan menggunakan wadah sendiri
  5. Menggunakan plastik daur ulang 
  6. Menghemat penggunaan kertas
  7. Menggunakan kertas daur ulang
  8. Membuang sampah sesuai dengan spesifikasinya
  9. Mengurangi pemakaian tisu dan menggantinya  dengan sapu tangan
  10. Belajar cara daur ulang sampah 
  11. dll.


Harapan kedepannya Indonesia dapat mengurangi dan meninggalkan fakta sebelumnya sebagai penyumbang sampah nomor 2 di dunia dan beralih menjadi negara yang lebih memperhatikan alam sekitarnya. 

Dengan adanya GMCS diharapkan masyarakat dapat merubah polapikir dari rasa ketergantungan akan penggunaan kertas dan plastik secara berlebihan menjadi rasa untuk meminimalisir penggunaan juga lebih mengedepankan kelestarian akan dampak positif yang diperoleh untuk generasi selanjutnya.

[1] Redaksi Teknopreneur, “Dunia Dalam Kantong Plastik

[2] Eldo, “Industri Pulp dan Kertas masih Bertumbuh 5% di 2019

[3] Aprilia, “Sampah Plastik di Indonesia Terbanyak ke Dua Dunia, Kita Harus Bagaimana?