22619_26524.jpg
Offset by Shutterstock
Budaya · 5 menit baca

Buta Huruf Hijaiah

Istilah “buta huruf” adalah istilah yang sudah sangat akrab bagi kita. Istilah yang kalau menurut penulis dimulai ketika periode budaya dan pemikiran-pemikiran barat mulai benar-benar masuk ke dalam sendi kehidupan masyarakat.

Buta huruf adalah istilah yang dipakai untuk menyebut seseorang atau kelompok sosial yang belum mengenal dan belum bisa menulis serta membaca huruf alfabet. “Belajarlah sampai ke liang lahat,” tentu salah satu terjemahannya adalah mempelajari huruf alfabet. Tetapi, akan lebih bagus jika istilah “buta huruf” itu diperluas maknanya.

Saya tertegun ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Ketika pelajaran agama dimulai, guru menyuruh seorang kawan untuk membaca sebuah halaman yang memuat salah satu ayat Alquran dengan bahasa Arab. Ketika sang guru sedang “lalai”, ia langsung mendekatkan bibirnya ke telinga saya dan berbisik, “Kau bisa baca Arab, kan?” tanyanya.

“Kenapa memang?” kataku balik bertanya.

“Tolong tuliskan bahasa Arab ini ke huruf latin.”

“Maksudnya?”

“Iya, tolong salinkan ke huruf latin. Saya enggak bisa baca Arab soalnya.”

Bagi orang seperti saya yang sejak Taman Kanak-Kanak sudah mengenal dan belajar huruf hijaiah, kenyataan tersebut adalah hal yang mengejutkan. Alasannya, karena saya terbiasa hidup di dalam komunitas sosial yang kenal dan bisa membaca huru hijaiah.

Yang kedua, alasannya adalah karena teman saya sendiri adalah murid yang paling bagus nilainya dan pandai di kelas. Tetapi ketika saya coba mengingat-ingat lingkungan sosial di tempat saya bersekolah, perlahan demi perlahan saya mulai bisa memahami kenapa ada banyak kawan saya yang tak kenal huruf hijaiah.

Ada juga beberapa kawan saya yang awalnya sempat tidak terbuka, tapi setelah sekian lama menjalin pertemanan, beberapa di antaranya berani jujur mengatakan, “Saya kalau salat niatnya pakai bahasa Indonesia.” Ada juga pertanyaan yang lebih mengejutkan saya, “Memang, kalau salat itu bacaannya apa?”

***

Dalam hidup, ada 5 landasan sikap yang harus kita pegang, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram.

Misalnya dalam perihal makanan. Yang wajib dan harus ada itu adalah nasi. Kalau bisa ada dan kalau memang memungkinkan untuk diadakan ditambah tahu dan tempe, itu namanya sunnah. Soal ayam atau ikan, ada ya monggo tidak ada juga tidak apa-apa, itulah mubah. Makruh adalah sesuatu yang kalau bisa tidak ada. Sedangkan haram adalah sesuatu yang harus tidak ada. 

Karena kita manusia tidak tiba-tiba saja hidup di bumi ini, melainkan karena diperintah untuk menjalankan tugas-tugas di bumi. Artinya, ada yang punya kehendak 100% terhadap kehidupan kita sebagai manusia. Maka segala perilaku, keputusan, dan apa saja yang kita kerjakan haruslah memiliki keterkaitan dengan Yang Maha Tunggal, yang menyuruh kita hidup di dunia.

Yang perlu diingat adalah tidak ada benda yang memiliki kebenaran atau kesalahan. Kebenaran atau kesalahan terletak pada sudut pandang kita mengenai benda tersebut. Begitu pula perihal wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Wajib atau haram tidak terletak pada bendanya, melainkan pada cara kita melihat dan menyikapi benda tersebut.

Belajar berbahasa Arab tidak lantas menjalankan kewajiban. Kalau belajar aksara hijaiah untuk menunjukkan diri lebih unggul daripada orang lain, maka perilaku belajar bahasa Arab itu menjadi makruh, bahkan mungkin haram. Yang makruh atau haram bukan bahasa arabnya, melainkan cara kita memperlakukan bahasa Arabnya. B

egitu juga mempelajari bahasa Indonesia. Belajar bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan saudara sebangsa kita hukumnya wajib. Tetapi jika belajar bahasa Indonesia untuk mengelabui rakyat supaya bisa merampok dengan menyamar sebagai pejabat, maka itu hukumnya haram. Bukan bahasa Indonesianya yang haram, tapi cara kita memperlakukan bahasa dan tujuan kita menggunakan bahasanya.

Maka, dalam melihat atau memandang sesuatu kita harus punya pandangan yang jauh ke depan. Bukan sekadar 20 atau 30 tahun. Tapi sampai kepada "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un". Sebab apa gunanya hidup ini jika tak ada kaitannya dengan Tuhan? Apa gunanya kita belajar segala sesuatu dan mengerjakan segala sesuatu tanpa keterkaitan dengan-Nya?

Kalau begitu, lebih wajib mana belajar aksara hijaiah atau alfabet?

Jika Anda berpikirnya statis, Anda akan terjebak oleh pertanyaan tersebut dan memilih salah satu dari yang ditanyakan. Wajib hukumnya mempelajari aksara hijaiah dan alfabet sebagai muslim Indonesia. Karena Tuhan yang menciptakan kita lahir dan besar sebagai bangsa Indonesia. 

Sebagai muslim Indonesia, kita punya kewajiban untuk mengelola tanah air ini sesuai dengan arahan-Nya. Dan untuk mengerti itu, kita perlu mengenal-Nya, mengenal sifa-sifat-Nya, setiap utusan-Nya, mukjizat-Nya kepada utusan-Nya, dan segala peristiwa yang tidak bisa kita jangkau dengan ilmu dan pengetahuan kita. 

Sebab kita tidak punya kemampuan untuk mengerti Tuhan kecuali Tuhan sendiri yang menginformasikannya kepada kita. Agama adalah informasi Tuhan kepada kita.

***

Untungnya, kawan-kawan saya tinggal dalam budaya perkotaan. Sebab kalau ia tinggal di lingkungan kampung atau pedesaan, ia mungkin akan memiliki status sosial yang rendah di masyarakat. Karena untuk diakui dan menjadi “orang” di perkotaan tak dibutuhkan kemampuan untuk mengenal dan bisa baca-tulis hijaiah, cukup dengan mengikuti trend sudah pantas disebut sebagai “orang kota”.

Kawan-kawan saya itu tidak buta huruf alfabet, tetapi mereka buta huruf hijaiah. Sebagai muslim, hal yang paling mendasar tentu mampu baca-tulis huruf hijaiah dengan semampu-mampunya. Karena kitab suci Alquran ditulis dengan huruf hijaiah atau huruf Arab. 

Kenapa kok tidak ditulis dalam bahasa latin saja? Jangan tanya ke saya, tanyakan saja langsung pada Tuhan. Hehehehe.

Tradisi dan budaya hidup di perkotaan memang luar biasa ‘mengejutkan’. Kalau Anda punya kemampuan persahabatan yang baik, Anda akan menemukan ada banyak kawan muslim Anda yang sama sekali belum tahu apa bacaan dalam salat dan cara baca-tulis huruf hijaiah atau Arab. Karena pembangunan manusia dan pendidikan perkotaan memang dibangun melalui metode copy-paste sistem sekuler. 

Sebagai warga negara Indonesia, kita tentu punya kewajiban untuk bisa baca-tulis huruf alfabet. Tetapi sebagai muslim, kita juga punya kewajiban untuk bisa baca-tulis huruf hijaiah. Belum lagi kalau kita perluas kepada asal-usul dan jati diri kita. Sebagai manusia yang berbudaya, kita juga sebenarnya punya kewajiban untuk memahami huruf atau aksara budaya kita. Misalnya, orang Jawa harus bisa baca-tulis aksara Hanacaraka.

Mayoritas bangsa ini memang tidak buta huruf alfabet. Tapi tidak sedikit juga muslim yang buta huruf atau aksara hijaiah atau Arab. Dan sangat tidak sedikit juga masyarakat yang tidak mengerti aksara budaya dan leluhurnya sendiri.

Belajar untuk tidak buta huruf hijaiah adalah cara kita menjalin hubungan dengan Allah SWT dan menjaga terus silaturahim kita yang agung dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan belajar untuk tidak buta huruf atau aksara budaya dan leluhur kita sendiri adalah cara kita merawat hubungan kita dengan para leluhur kita.

Buta hurufnya sebagian masyarakat kita dari aksara Arab atau hijaiah dan aksara leluhur kita sendiri adalah akibat dari permasalahan yang sangat kompleks. Tetapi, jika Anda punya kawan seperti demikian, jangan langsung memutuskan bahwa Anda lebih baik darinya. Temani dia dan kawani dia, “bil hikmah wal mauidhotil hasanah wa jadilhum bil lati hiya ahsan."

Tetapi, jangan lantas mengira bahwa yang menulis ini paham dan fasih betul dalam membaca aksara hijaiah. Tak ada manusia yang pasti pintar dan pasti ahli. Siapa pun orangnya dan apa pun jabatannya, selama kita masih 'terikat kontrak' sebagai manusia, kekurangan dan kesalahan adalah keniscayan. Maka belajarlah kepada apa pun, siapa pun, dan sampai kapan pun.