Keributan sedikit berkurang saat Julak Aba datang. Orang-orang yang tadi berteriak-teriak memaki Busu, seketika terdiam.

“Ayo, pulang!” Julak Aba memberi perintah pada Busu. Busu pun menuruti perintahnya dan berjalan mengekor langkah Julak Aba. Sambil membetulkan letak sarung kumal motif kotak-kotak berwarna kuning kunyit yang melekat di tubuhnya, Busu  berlalu seraya cengar-cengir. Gigi-gigi kuning yang dipenuhi sisa-sisa makanan, tersembul di antara kedua bibirnya yang cokelat kehitam-hitaman.

Keramaian berpindah dari siskamling menuju kedai Mak Haji. Bisik-bisik dan umpatan masih terdengar dari beberapa orang.

Hampir saja orang-orang kampung tadi menghakimi Busu, jika saja Julak Aba tidak cepat-cepat datang. Mereka memang sangat segan pada Julak Aba, mengingat bagaimana perjuangan dan jasa Julak Aba agar kampung ini terbebas dari penambangan liar. Jika bukan karena keseganan itu, entah jadi apa Busu yang suka berbuat onar itu.

Pagi-pagi kampung sudah dibuat gaduh oleh orang-orang yang berlarian menyelamatkan seorang gadis yang hampir diperkosa Busu.

Busu yang tengah duduk-duduk bersama lelaki-lelaki kampung di kedai Mak Haji, tiba-tiba saja berlari kencang ke arah salah seorang gadis dari beberapa gadis kampung yang baru pulang dari mandi-mandi di kali.

Seketika gadis itu meronta saat Busu mendekapnya. Sampai-sampai mereka berdua berguling-guling di tanah akibat serangan dan perlawanan yang saling baku hantam itu.

Orang-orang pun memisahkan keduanya. Sang gadis menangis kencang sambil berlari cepat menuju rumahnya. Sementara Busu yang tubuhnya dipegangi beberapa lelaki, berteriak-teriak, “Rukayah! Rukayah kekasihkuuu...!”

Salah seorang yang ada di tengah keributan itu, yang tak lain adalah bapak si gadis, terlihat sangat marah. Dengan wajah merah, ditinjunya wajah Busu yang masih terduduk sambil dipegangi orang-orang. Seketika Busu terjengkang ke belakang. Namun bukan meringis kesakitan, ia malah membalasnya dengan berteriak, “Rukayah! Ke mana kaubawa Rukayahku?”

Dengan kemarahan yang masih membara, si bapak mengajak orang-orang agar memasung Busu. Namun, belum sempat keinginannya dipenuhi warga, Julak Aba sudah berada di tengah mereka.

Ini sudah ke sekian kalinya Busu membuat kegaduhan di kampung. Sebelumnya, seminggu yang lalu, saat Busu tertidur di sebuah pondok sawah. Ketika terbangun, ia langsung membakar pondok itu sambil berteriak-teriak tak karuan. Pemilik pondok pun menjadi marah dan membawa pengaduannya pada Julak Aba. Akhirnya Julak Aba mengganti seluruh kerugian pemilik pondok itu.

Begitulah Busu. Orangnya tinggi semampai, rambutnya gondrong, kumis dan jenggotnya tebal tak terurus. Tubuhnya yang dekil hanya tersentuh air jika diingatkan oleh Julak Aba.

Meniup seruling kecil dan mendendangkan lagu-lagu daerah Banjar menjadi kesukaannya.  Ke mana pun ia pergi, seruling yang terbuat dari bambu itu selalu terselip di kain sarung yang diikatnya di pinggang.

Satu hal yang unik pada diri Busu adalah kebiasaannya memakai peci hitam. Peci hitam yang sudah memudar warnanya itu sebenarnya hampir tak layak pakai. Tapi, meskipun ada orang yang menawarkan peci baru, ia selalu menolaknya. Baginya, apa pun yang ia pakai adalah benda-benda bersejarah dan bernilai, yang tak dapat digantikan dengan benda-benda sejenisnya yang baru.

“Julak pakai peci, Busu pakai peci. Julak hebat, Busu juga hebat. Hahahaha...!” Celotehnya ketika ada yang bertanya mengapa ia memakai peci yang sudah lusuh itu.

Busu tinggal bersama Julak Aba sejak masih kecil. Sebab, selain Julak Aba, saudara-saudaranya yang lain sudah tak hirau lagi akan nasibnya.

Seolah mengerti akan kasih sayang Julak Aba padanya, Busu pun sangat setia dan patuh pada Julak Aba. Apa pun yang Julak Aba ajar dan perintahkan, Busu selalu mematuhinya.

Julak Aba sering kali memberi Busu tugas-tugas yang bisa membuatnya sibuk. Jadi kebiasaannya merusak dan lepas kontrol sedikit demi sedikit berkurang. Mencari kayu bakar ke hutan, menggembala sapi, menghalau pipit di sawah, serta apa saja yang diperintahkan Julak Aba padanya.

“Saya tak memanfaatkan tenaganya,” kata Julak Aba suatu hari di kedai Mak Haji. “Busu adalah amanah yang menjadi tanggung jawab saya. Ia termasuk orang yang teraniaya.”

“Dahulu,” lanjut Julak Aba. “Busu adalah anak yang cerdas. Banyak hal menonjol dalam dirinya. Tapi sayang, ia mendadak berubah. Perubahan itu terjadi setelah pemilihan kepala desa di kampung orang tua kami. Abah kami terpilih menjadi kepala desa atas kesepakatan warga desa saat itu. Tidak lama setelah Abah resmi menjadi kepala desa, Busu mulai berlaku aneh. Dan musibah pun silih berganti menimpa keluarga kami...”

“Yang pasti, Busu tidak seperti yang dulu lagi. Adik bungsu saya itu... yaaa, seperti yang kalian lihat sekarang. Busu sudah menjadi... entahlah!”

Cerita Julak Aba itu membuat orang-orang kampung merasa iba dan lebih menghargai keberadaan Busu ditengah-tengah mereka, meski kadang-kadang dibuat geram jika Busu tiba-tiba berbuat onar.

Sebenarnya Busu tidak dapat disebut gila. Bukankah orang gila tak bisa diarahkan? Sedangkan Busu begitu hormat dan patuh pada Julak Aba. Apa saja yang diperintahkannya, selalu dipatuhi. Busu pun seringkali berbaur bersama orang-orang kampung. Namun, sepertinya ada beberapa hal yang tak bisa diprediksi, yang membuatnya sensitif, lalu lepas kontrol.

*****

Umur yang kian senja, serta sakit paru-paru yang telah lama diidap, mengakibatkan Julak Aba menghabiskan sebagian besar waktunya berada di atas kasur.

Melihat keadaan Julak Aba, Busu sering kali terlihat murung.

“Julak sakit, Busu sakit. Julak mati, Busu juga mati.” Lirihnya sambil terisak di sisi pembaringan Julak Aba. Ia pun lebih banyak berada di dekat Julak Aba daripada berjalan-jalan ke sekitar kampung, seperti yang sering dilakukannya jika tak ada kesibukan yang biasa diperintahkan julak Aba.

Hingga suatu hari. Sakit yang diderita Julak Aba akhirnya membawanya menemui ajal. Saat itu, Busu tak ada di rumah karena disuruh mencari kayu bakar di hutan yang letaknya lumayan jauh dari rumah.

Keesokan harinya Busu pulang dengan membawa seikat besar kayu bakar yang digendong di punggungnya.

Seperti biasa, setelah meletakkan kayu itu di halaman belakang, ia langsung menuju kamar Julak Aba. Hendak melapor bahwa ia sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tapi, ia tak menemui Julak Aba di kamarnya.

“Julakku ke mana, Suf?” Ia bertanya pada Yusuf, anak Julak Aba yang hanya satu tahun lebih muda dari Busu.

“Abah sudah berpulang.” Jawab Yusuf.

“Berpulang itu sama dengan apa?” desaknya.

“Sama dengan meninggal.”

“Meninggalkan siapa?”

“Meninggalkan kita.”

“Kapan kembalinya?”

“Diaaam!” Yusuf membentaknya.

Merasa tak mendapat jawaban dari Yusuf, Busu beralih bertanya pada istri Julak Aba.

“Julakku ke mana, Cil?”

“Julakmu sudah mati,” jawab istri Julak Aba tersendat.

“Mati...? Kapan? Di mana? Di mana Julakku sekarang? Di manaaa?” Busu berteriak sekeras-kerasnya. Ia berlari keluar. Di luar ia bertemu Pak Haji yang kebetulan lewat dengan sepedanya. Dihadangnya sepeda Pak Haji.

“Ji, di mana Julakku?” Serbunya sambil memegangi sepeda Pak Haji.

“Dalam kuburnya.” Jawab Pak Haji.

“Di mana kuburnya, Ji. Ayo tunjukkan padaku. Tunjukkan!”

Karena terdesak, akhirnya Pak Haji mengantar Busu ke makam Julak Aba.

“Julak. Julaaak! Aku sudah membawa seikat besar kayu bakar. Lihatlah! Pulanglah Julak. Pulanglaaah...!”

Tubuh Busu telungkup memeluk makam. Dibenamkannya kepala di antara taburan bunga yang masih merebakkan wangi. Ia menangis dan berteriak. Sampai suaranya parau. Sampai napasnya habis.