“Jadilah!”

Mungil dan Lelah Terbang

Beberapa tahun lalu, pagi hari di Samburakat kabupaten Berau Kalimantan Timur, pernah tiba-tiba seekor burung mungil terbang, lalu hinggap bertengger di pundak kanan saya.

Saya biarkan saja, dia lalu pelan-pelan saya pegang. Burung itu manut saja.

Ternyata dia kelihatan sangat mengantuk, lehernya tekluk-tekluk. Mungkin dia kecapekan terbang, atau barusan kehilangan rombongan teman.

Tak lama burung mungil berparuh melengkung panjang ini terlelap dalam tidurnya yang nyaman, dalam kehangatan kulit, otot, lemak dan garis-garis lipatan telapak tangan saya.

Baca Juga: Kabar Burung

Burung mungil itu pun pulas terlelap dalam kelembutan genggaman telapak tangan penuh kehangatan.

Sekira seperempat jam lebih, dia saya biarkan begitu nyaman menikmati tidurnya, mengusir semua rasa lelah yang hinggap sekujur tubuhnya.

Sesekali bulu-bulu halus tubuhnya saya elus, usap perlahan.

Bagaimana makhluk mungil yang mampu terbang ini bisa diciptakan? Maha Besar Tuhan, sangat mudah bagiNya dalam mencipta makhluk-makhlukNya. “Jadilah!”

Tak lama, kedua bola kecil mata burung ini terbuka. Dia menatap saya, lalu memandang berkeliling.

"Wah! Rupanya saya sedang dalam genggaman tangan manusia, pria." Begitu mungkin pikirnya.

Terbangun dari lelap, burung mungil penghisap madu ini menyadari sedang berada dalam genggaman ramah telapak tangan manusia.

Agak berontak tubuh mungilnya saya rasakan dalam genggaman telapak tangan saya, pertanda rasa lelahnya telah sirna.

Saya pun membuka genggaman telapak tangan saya, dia tak langsung terbang.



Jenis burung yang sudah sangat langka.

Dalam Terbang Mereka Penyeimbang Alam

Kiranya, burung mungil yang bulunya berwarna abu-abu ini masih mengumpulkan sinyal-sinyal suara yang hanya bisa didengar olehnya, ke arah mana gerangan rombongan temannya tengah bepergian.

Dia pun lalu beranjak mengepak kedua sayap, meninggalkan telapak tangan kanan saya, yang dibiarkan hampa begitu saja, hanya meninggalkan sensasi cakar-cakar mungil yang terasa menggurat kulit.

Cepat dia melesat mengangkasa, lincah geraknya berbelok-belok mengitari banyak pepohonan rindang di kawasan Samburakat yang teduh alami berhawa segar.

Rupanya, unggas mungil itu sejenis burung penghisap nektar bunga, bercirikan paruhnya yang begitu panjang.

Jenis burung yang sudah sangat langka. Bahkan mungkin di pulau Jawa sudah tak ada.

Saya ikut senang dia telah merasa segar, cergas terbang menemui teman-temannya, lalu riang menikmati madu kembang yang dihisap melalui paruhnya  yang mungil panjang.

Burung, makhluk mungil penyeimbang alam.

Mereka dikaruniakan sayap-sayap, tak sekedar agar bisa terbang, namun sebagai pengingat agar senantiasa beriman.



…manusia selalu berangan ingin terbang…

Perkasa di Angkasa, Menginspirasi di Bumi

Keberadaan burung telah menyangga kehidupan di bumi, pun bagi manusia mereka banyak menginspirasi.

Betapa banyak aneka bunga dan tanaman yang terbantu benih mereka tertebar, terbawa oleh burung-burung hingga tertanam dalam bilangan tanah di kejauhan.

Betapa kotoran mereka, burung-burung, mengandung nutrisi bagi tanah, agar tetap subur dan selalu mampu menjadi media tumbuh aneka tanaman. Lalu, tanaman yang tumbuh pun menjadi penopang ketersediaan bahan pangan penyedia energi, yakni karbohidrat serta gas-gas Oksigen dan Nitrogen alami yang diperlukan makhluk hidup agar tetap nyaman menghuni bumi.

Betapa keanekaragaman burung telah tercipta demi menjaga kelestarian ekosistem dalam bumi. Mulai dari penebar benih tanaman, pemangsa hama, pengindikasi perubahan cuaca pun iklim hingga penikmat bangkai.

Betapa dalam tubuhnya yang tersimpan protein yang dibutuhkan sebagai asupan gizi dan pangan oleh manusia, agar dapat bertumbuh dan berkembang, serta mampu mengasah akal pikiran. Hanya saja, karena tak mudah tertangkap, maka peran penyedia protein pun lebih sering tersedia dari sejawatnya yang tak bisa terbang, yakni ayam.

Betapa suara kicau burung-burung sepanjang hari, mampu menjadi penawar lara penentram hati, lalu mengajak jari-jemari menggurat pena menulis sajak dan puisi, atau menjadi lirik sebuah lagu bersanding alunan melodi.

Betapa karakter beraneka burung yang terlimpah, bisa mewakili tumbuhnya angan akan selalu terciptanya perdamaian, dari sekian banyak harapan yang tiada pernah teringkari.

Betapa ribuan tahun lamanya manusia selalu berangan ingin terbang semenjak mereka melihat burung-burung lincah melesat, mengangkasa menyentuh awan-awan. Lalu, pada awal abad ke-20 rangkuman inspirasi terbang pun menjadi kenyataan, melalui sentuhan ilmu dan teknologi.

Hingga, betapa keperkasaan burung menaklukkan angkasa, tak mudah tertebak mengarah ke mana, lalu bentuk fisik dan penampakannya sering menjadi lambang keberadaan suatu bangsa, simbol negara.



…lalu apalagi ketergunaan manusia bagi bumi?

Berhenti Mendzalimi Burung Mewakili Akhlak Mulia

Keberadaan burung, sebagaimana penghisap madu yang pernah hinggap ramah di pundak saya, disadari atau tidak, sangatlah penting bagi keseimbangan ekosistem dalam bumi. Artinya kelestarian mereka, turut menyumbang keberadaan manusia pula.

Tanpa burung, benih-benih tanaman tak begitu tersebar secara alami di setiap belahan bumi.

Tanpa burung, tanah di bumi kehilangan kekayaan nutrisi.

Tanpa burung, siklus ekosistem mungkin masih berjalan di bumi. Namun tak seseimbang ketika burung-burung bebas mengangkasa di dalam atmosfer bumi. Karena, berkurangnya sentuhan putaran ekosistem yang lebih alami.

Tanpa burung, juga kerabatnya, unggas, manusia kehilangan alternatif asupan protein yang menjadi gizi tak hanya bagi raga, namun juga pikiran.

Tanpa burung, manusia bakal kehilangan sumber inspirasi pemerkaya seni, ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika ketiga aspek utama penyangga kemuliaan manusia itu hilang, lalu apalagi ketergunaan manusia bagi bumi?

Memaknai keberadaan burung yang telah ribuan tahun mendampingi perilaku hidup manusia di bumi, adalah upaya bijak agar makna mengapa manusia tercipta bagi bumi, juga tersadari.

Benar, burung-burung tercipta bisa terbang, mendapat anugerah sayap-sayap. Bagai malaikat yang juga punya sayap. Apakah dua, tiga atau empat sayap, lalu mereka melesat melebihi kecepatan cahaya, sebagai penyampai pesan-pesan Sang Pencipta, bagi manusia agar tetap mulia.