Beberapa hari yang lalu, sepulang dari bepergian, saya terperanjat. Ada dua ekor burung gagak bertengger manis di pagar balkon. 

Tak berpikir lama, saya membuka jendela dan mengayunkan tangan ke arah mereka sambil berteriak kencang. Keduanya bergegas mengepak sayap hitamnya ke gedung sebelah dengan membawa hasil buruan.

Tangkas benar mereka. Tiga buah tomat merah besar yang telah ranum lenyap. 

Dengan menyisakan tangkai patah, remah-remah kulit tomat dan daun-daun berguguran di sekitar pot. Sungguh tak tersisa. Mereka menghabiskan semuanya. Padahal, butuh dua bulan untuk merawat tanaman yang hanya tumbuh di musim panas itu.

Saya terkulai lemah di lantai balkon. Beberapa teman sudah mengingatkan bahaya serbuan burung gagak ketika musim panen tiba di Jepang. 

Selebaran brosur dari pemerintah yang dibagikan ke seluruh rumah di Kota Sapporo juga masih mulus di laci meja. Namun, khayal tinggal kenangan. Hilang sudah mimpi membuat sambal dari kebun sendiri.

Burung gagak, yang dalam bahasa Jepang disebut karasu, memang cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, bukan hanya saya yang kena getahnya. Beberapa teman juga mengeluhkan hal yang sama.

Bahkan pesan untuk berhati-hati saat meninggalkan barang di sepeda, taman, atau kursi tepi jalan, bukan ditujukan untuk manusia. Melainkan untuk burung gagak.

Burung dengan tinggi 45 sentimeter dengan seluruh tubuh dan bola mata hitam cemerlang itu pengintai jarak jauh yang setia mengawasi dari atas pohon, puncak gedung, atau entah dari mana, yang tiba-tiba bisa menukik tajam dan mematuki apa saja yang dibawa. Termasuk, puncak kepala orang-orang yang sedang berjalan.

Dalam penelitian Managing Urban Crow Populations in Japan yang dilakukan oleh Tsuyoshi Yoda pada tahun 2019, tercatat ada satu juta lebih burung gagak yang tersebar di seantero Jepang. 

Kebanyakan dari mereka tinggal di tepi-tepi kota yang minim penduduk, kemudian beramai-ramai menginvasi kota saat pagi hari.

Mereka membongkar kantong-kantong sampah di tepi jalan, membuat sarang di tiang listrik, menghancurkan ladang dan mengejar pejalan kaki. Burung-burung itu bahkan mematuki kabel serat optik kereta listrik hingga putus.

Menurut Tsuyoshi, ada dua jenis burung gagak di Jepang, yaitu Corvuse corone dan C. macrorhynchos. Keduanya sama-sama berwarna hitam legam dengan paruh besar, kuat dan tajam. Pembeda paling mencolok adalah bentuk kepala dan suara.

Meski saya tak bisa membedakannya. Kedua suara burung itu sama-sama bikin bulu kuduk berdiri. Meski berpenampilan menyeramkan, orang Jepang menganggap burung gagak ini sakral dan suci.

Mitologi Jepang kuno, Kojiki, menyebutkan bahwa burung gagak berkaki tiga jenis Yatagarasu membimbing Jinmu, kaisar pertama Jepang, yang tersesat pada tahun 663 sebelum Masehi. 

Burung ini membimbing perjalanan kaisar dari Yumano ke Yamato. Tanpa sumbangsih burung gagak, Jinmu tak akan membawa Jepang ke kejayaan.

Kemudian, pada kekasiaran Nintoku, pengorbanan burung gagak diabadikan dengan dibangunnya Kuil Abe Oji di Osaka. Masyarakat umum akhirnya dapat melakukan ritual dan berterimakasih secara leluasa di sana.

Gagak juga dikaitkan dengan tugasnya sebagai utusan setia dari Dewi Matahari. Hingga menjadi simbol kehidupan, keberanian dan kemanusiaan. 

Japan Football Association (JFA) menggunakan simbol burung gagak di dada sebagai bentuk perjuangan dan kekuatan dari Dewi Matahari.

Meski begitu, pemerintah Kota Tokyo membentuk tim manajemen proyek burung gagak untuk menekan angka populasi pada tahun 2001 karena sudah sangat merepotkan. Proyek ini kemudian diikuti oleh kota-kota besar lainnya.

Kegiatan yang dilakukan adalah melindungi tempat sampah dengan jaring atau kotak besi, melarang penduduk memberi makan serta dilakukan cara paling signifikan, menghancurkan sarang-sarang dan menangkap gagak. Hanya untuk mengurangi populasi gagak, bukan membasmi.

Tentu saja yang melakukan pembasmian adalah petugas yang telah memiliki izin untuk itu. Masyarakat umum dilarang keras melakukan kekerasan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap hewan yang kadang-kadang membuat naik darah. 

Bayangkan, ketika Anda sedang berdiri menunggu bis, tiba-tiba burung itu terbang di atas kepala dan mematuki secara brutal ubun-ubun Anda.

Namun, yang namanya apes ya apes saja. Kemarin, belanjaan yang saya tinggalkan di keranjang sepeda berhasil dicuri gagak. Burung itu mengambil snack ikan dan ia bawa ke tengah jalan raya.

Tujuannya tentu saja agar mobil yang melintas melindasnya dan bungkus plastiknya bisa pecah. Saat saya keluar toko, isi cemilannya sudah tandas. Habis tak tersisa. Yang bisa saya lakukan hanya memungut sampahnya sambil meratapi betapa bodohnya diri saya sendiri.

Setelah kejadian kehilangan tomat kesayangan dan belanjaan itu, saya kabarkan kiat alternatif untuk melindungi diri dari serangan gagak kepada sebanyak-banyaknya teman. 

Bagi yang memiliki tanaman di balkon, pekarangan atau ladang, meletakkan orang-orangan sawah dan membentangkan jaring tipis di atas tanaman bisa menjadi alternatif pilihan tersebut. Pun termasuk, menjaga baik-baik barang belanjaan di manapun. 

Sebenarnya, kita juga dapat dengan sengaja berbagi rezeki karena apapun yang ada di bumi ini sesungguhnya milik Sang Penguasa Alam. Burung-burung itu hanya mencoba bertahan di bumi yang semakin tak ramah untuk hewan-hewan.

Ke mana lagi mereka bertengger ketika pepohonan rindang berubah menjadi gedung pencakar langit? 

Ke mana lagi mereka mencari mangsa ketika tanah tertutup aspal dan beton?

Jika sudah begini, siapakah korban yang sebenarnya? 

Jangan-jangan kitalah yang menyebalkan.