1 bulan lalu · 52 view · 3 menit baca · Cerpen 25781_35502.jpg
okezone.com

Burung Camar yang Bebas

Pada suatu sore yang lepas, di angkasa terlihat burung-burung camar terbang tinggi membentuk huruf “V” terbalik. Burung-burung camar tersebut merdeka dengan segala kebebasannya. Mereka menatap arah ke depan tanpa memerhatikan apa yang ada di belakang. 

Secara ekonomi, mereka memang bukan kawanan ungags yang didomestikasi. Kekurangan itulah yang menjadikan mereka bebas dari segala tuntutan yang diperintah oleh tuannya.

Suatu waktu mereka berhadapan dengan badai yang timbul karena suhu tropis meningkat drastis. Diombang-ambing oleh kemelut angin yang berisik tidak memudarkan semangat mereka untuk terus menghadapi indahnya sebuah tantangan. 

Mungkin di antara mereka berpikir bahwasanya menyenangkan apabila mereka dikandangkan. Akan tetapi, si pemimpin barisan camar-camar itu meyakinkan kawanannya bahwa ini adalah resiko dari sebuah kebebasan. Gelap di awalnya memang tapi penuh gemerlap bila sudah melewatinya.

Setelah melewati kumparan awan yang didominasi elektron itu, burung-burung camar tersebut berhasil selamat tanpa satupun tertinggal. No left behind us kata dari salah satu burung yang berada di akhir barisan. Tidaklah cukup untuk membayar segala pengorbanan jika masih ada korban yang pantas untuk dikorbankan. 

Pada tahapan ini, kawanan burung camar ini mendapatkan indahnya hasil dari sebuah tantangan. Yang tadinya berfikir bahwasannya menyenangkan bila dikandangkan mulai menikmati indahnya sebuah proses akan gairah kehidupan.

Mereka mulai bertengger pada salah satu pagar di ujung pelabuhan yang berbatu. Migrasi mereka memakan cukup tenaga. Setelah mengamati indahnya sore hari tanpa badai yang sewaktu-waktu menghampiri, mereka memutuskan untuk terbang rendah di atas permukaan laut. 

Dengan disiplin mereka berputar-putar di atas permukaan air laut untuk menyantap ikan segar. Sudah lebih dari setengah jam mereka mencari ikan segar tersebut akan tetapi ikan zaman sekarang cukup pintar untuk memposisikan dirinya dihadapan mangsanya.

Seperti dalam kasus badai yang telah lalu, di antara mereka juga mulai berpikir bahwasannya menyenangkan apabila dikandangkan. Mendapat makanan rutin, minuman rutin, dan bahkan supplement kesehatan yang rutin menjadi khayalan semu ditengah perdebatan mencari makan. 

Lagi-lagi pemimpin kawanan camar tersebut meyakinkan kepada mereka yang masih belum yakin. Memang menyenangkan apabila segala sesuatu telah disediakan tanpa ada tahapan untuk mengusahakannya. 

Akan tetapi, jika dipikir berulang kali, apakah perasaan puas yang didapat akan bertahan lebih lama dari yang telah disediakan. Pemimpin kawanan burung camar tersebut mempertanyakan kembali jalan pikiran yang membentuk pandangan akan sebuah kepuasan terhadap rasa lapar yang mengganggu setiap individu.

Burung-burung camar yang belum yakin tersebut membuat simulasi mengenai perbandingan akan dua proses yang berbeda. Simulasi pertama adalah jika setiap kali mereka lapar dan makanan sudah tersedia dengan sendirinya, kepuasan apa saja yang mereka peroleh. 

Perut lapar lalu sudah ada makanan tanpa mencarinya dan mereka makan akhirnya kenyang, titik. Lalu simulasi kedua adalah jika setiap kali mereka lapar dan belum ada makanan sehingga mereka harus mencarinya. Kira-kira kepuasan apa yang mereka peroleh. 

Perut mereka lapar lalu tidak ada makanan yang tersedia sehingga mereka harus mencarinya. Pertama-tama mereka mengajak kawan-kawannya untuk mencari makan bersama-sama. Tahapan makhluk sosial ada di bagian ini. Kemudian mereka berunding untuk mencari tempat yang tepat untuk mendapatkan sumber makanan. 

Proses bermusyawarah ada di tahap ini. Setelah itu mereka terbang ke tempat yang telah disepakati dan merasakan adrenalin ketika ombak-ombak berderu-deru menyambut mereka, anjing laut atau Hiu ganas mengintai dari dalam laut yang siap menyantap mereka, dan bahkan sensasi angin lembut yang segar menempa wajah mereka. 

Dari berbagai perasaan sensitivitas dan tahapan sosial itu menjadikan kepuasan dalam mencari makan lebih bertahan lama. Dari situlah kepuasan akan sebuah proses yang mana membuat tahapan kehidupan lebih bermakna.

Dan pada akhrinya, keluh kesah akan sebuah resiko dari kebebasan terbayarkan. Keputusan yang telah diambil untuk menerima tantangan dari kawanan burung camar tersebut menjadikan mereka lebih mengerti akan makna yang didapat dari sebuah proses pembentukan jatidiri. 

Begitulah akhrinya proses dari sebuah pencarian makna kehidupan bermuara. Pengalaman dan sensitivitas yang didapat burung-burung camar tersebut membuat mereka bersyukur pada takdir yang membentuk identitas dan mental mereka.