Pernahkah Anda melihat kuman dengan mata telanjang? Ini pertanyaan nyeleneh. Sudah barang tentu yang pernah melihat kuman dengan mata telanjang ya sesama kuman itu sendiri.

Pernahkah kita berpikir, seandainya ada makhluk raksasa yang besarnya seribu kali lipat ukuran manusia normal, masihkah ia dapat dengan mudah melihat kita yang renik dalam pandangannya?

Saya bukan hendak membicarakan tentang sudut pandang suatu subjek terhadap satu objek. Melainkan sekadar ingin berbagi tentang hierarki dalam roda perusahaan bila dilihat dari majas perumpamaan, dalam hal ini sepak bola.

Yang pertama adalah tingkat supervisor. Para supervisor adalah mata perusahaan yang langsung membawahi para lebah pekerja. Di tangannya diletakkan tugas dan tanggung jawab dalam membimbing pekerja tingkat paling bawah.

Para supervisor tahu persis seluk-beluk seksi yang dipimpinnya. Bahkan dia sangat paham dengan kondisi pekerja yang berada di bawah komandonya. Ibarat dalam sebuah pertandingan sepak bola, supervisor adalah coach yang terjun langsung mengarahkan timnya dalam memenangkan pertandingan.

Garis pandangnya horizontal, terbatas hanya pada objek yang berada dalam jangkau pandangnya saja. Namun, meski begitu, objek yang ditangkapnya sangat akurat, karena dekatnya tadi. Bahkan ia bisa tahu dengan yakin, apakah pemain di dekatnya benar-benar terjatuh atau hanya melakukan trik diving.

Tingkatan berikutnya adalah para manager. Mereka adalah orang yang ditugaskan oleh perusahaan dalam memimpin satu departemen. Biasanya mereka membawahi beberapa supervisor.

Garis pandangnya diagonal. Namun, karena posisinya cukup tinggi, sudah barang tentu jarak pandangnya lebih luas daripada supervisor. Tapi sudah barang tentu juga objek yang dilihatnya tak cukup besar untuk dinilai dengan akurat.

Seorang manager perusahaan ibarat penonton yang berada di tribun penonton bebas. Jangkauan pandangnya hanyalah sepanjang atau selebar garis lapangan.

Selanjutnya adalah level top manager yang biasanya diduduki oleh posisi General Manager dan Executive Assistant Manager. Mereka adalah pemegang kebijakan dalam perusahaan. Keputusan yang dikeluarkan adalah berdasarkan laporan yang diterima dari para manager.

Ibarat penonton sepak bola, mereka duduk di tribun VIP yang letaknya cukup tinggi untuk melihat seluruh bagian lapangan. Cara pandangnya nyaris vertikal. 

Cakupan yang luas membuat mereka dapat dengan jelas melihat pertandingan live dengan mode layar penuh. Dengan jangkau pandang itu juga dia dapat jelas melihat sisi kosong dan kelemahan lain dari tim yang didukungnya. Mereka leluasa berteriak ketika gol gagal terciptakan.

Hanya tiga saja? Ya! Bila kita melihatnya secara garis besar. Sebenarnya masih ada tingkatan lagi setelah itu.

Di tingkat tertinggi ada jajaran direksi yang di dalamnya biasanya terdapat owner. Garis pandangnya tak beraturan; kadang horizontal, kadang diagonal ke atas, kadang diagonal ke bawah. Tergantung di mana pesawat televisinya diletakkan.

Mereka adalah kelompok orang-orang yang menonton sebuah pertandingan sepak bola melalui layar kaca. Mereka menyaksikan jalannya pertandingan secara runut dan jelas dengan sisipan replay dlsb.

Mereka bisa tahu jumlah tendangan sudut dan pelanggaran yang dihasilkan, bahkan mereka bisa tahu prosentase penguasaan bola dari masing-masing tim. Namun, tetap saja apa yang dapat mereka lihat hanya sebatas yang dapat ditangkap kamera.

Lantas di mana tempat para pekerja rank and file?

Merekalah para pemain yang tengah berjibaku di lapangan. Tujuan mereka hanya satu: memasukkan bola ke gawang lawan. Tak peduli untuk meraih itu mereka terkadang harus adu mulut dengan pemain lawan maupun wasit. Cedera, berdarah, bahkan mati!

#Mayday
#SelamatHariBuruhInternasional
#JayalahBuruhku