Waktu mengantar periksa kehamilan di Puskesmas terdekat, Ita, istriku mengajak mampir dulu ke tempat photo copy. Ada surat-surat penting yang harus digandakan untuk keperluan administrasi kesehatan.

Ita perlahan turun dari memboncengku lalu berjalan beberapa langkah menuju ke tempat photo copy. Sementara aku menunggu di depan teras dengan stay duduk di atas motor.

Namun tidak lama setelahnya, muncul seorang perempuan yang tak kukenal bergegas dari tempat photo copy menuju ke arahku. Perempuan jilbaber itu yang sepertinya mahasiswi kampus terdekat berjalan secara menunduk dengan mendekap photo copyan berjilid. Tanpa babibu ia langsung naik membonceng di atas motorku.

Walau mesin motor tak menyala, anehnya perempuan yang tetap masih dalam posisi memboncengku sedang menatap smartphonenya sambil jari jemarinya mengetik sesuatu. Sepertinya ia memang sedang keburu-buru. Mungkin dalam hatinya ngedumel, ih ini tukang ojek kok nggak jalan-jalan kenapa sih! ?

Ia kudiamkan saja. Aku senyum-senyum dan berharap Ita tak segera datang menyaksikan pertunjukan yang menurutku cukup menghibur. Untungnya Ita tak kunjung datang.

Di sampingku, jarak sekitar lima meteran terlihat driver gojek berseragam hijau lagi menikmati segelas kopi yang sesekali mengisap rokoknya. Ia tertawa cekikikan karena melihat perempuan yang lupa driver grab dan merk motor yang baru saja ditumpangi.

Perempuan ini sebelumnya memang naik grab dan meminta drivernya menunggu sebentar di tempat photo copy tadi.

Driver gojek yang baru saja terhibur melihat kelucuan si perempuan tadi lantas mengarahkan jari telunjuknya ke depan dan bilang, " Mbak, itu tukang ojek yang dibelakangmu dari tadi sudah menunggumu"

Tiga puluhan detik membonceng motorku dengan mesin tak menyala, si perempuan tadi terperanjat.

Ia bersegera turun dari motorku tetapi sebelum berpindah ke driver grab di belakangnya, ia menangkupkan kedua tangannya ke arahku. "Maaf-maaf", ujarnya sambil menunduk malu.
***
Cerita di atas bukanlah hasil rekaan. Bukan pula cerita dari mencuplik suatu sinetron. Tetapi kejadian dua tahun yang lalu yang kualami sendiri. 

Cerita yang kejadiannya tak sengaja itu awalnya membuatku cukup terhibur. Namun setelah merenungkannya sejenak entah mengapa kemudian muncul dorongan untuk memeriksa diriku sendiri. Apa yang akan kulakukan dan kukatakan seandainya pelakunya malah diriku ? Tentu aku akan melakukan dan merasakan hal yang serupa. Juga mungkin aku akan mengolok-ngolok dan menertawakan diri sendiri. 

Meski begitu, dibalik komedi dan 'tragedi' memori yang kebetulan diperankan perempuan itu secara tak langsung memberi peringatan cukup berarti bagi siapa saja. Termasuk diriku, mungkin juga Anda. Tentu Anda bisa menebak poin pentingnya. 

Gara-gara terfokus pada satu urusan sehingga kesadaran yang lain terabaikan, dan itu bukan tidak mungkin akan bisa berakibat fatal. Bayangkan jika perempuan tadi yang tanpa kesadaran membonceng dengan orang yang tak dikenal kemudian ditengah jalan oleh drivernya punya niat jahat, misalnya. 

Selain efek samping orang terlalu fokus, berada di tengah situasi cukup terdesak memang kerapkali memunculkan perasaan tak nyaman dan mendorong perilaku terburu-buru. 

Misalnya kuliah yang nyaris kena DO. Selain ada perasaan keburu-buru karena berkejaran dengan limit durasi. Maka pertanyaan yang kerap muncul untuknya adalah kapan skripsinya diselesaikan? Begitu sudah lulus pertanyaannya akan beda lagi, sekarang kesibukannya apa? Setelah dapat pekerjaan, kapan nikahnya? Kapan punya anak dan seterusnya. 

Bagi tipe orang tertentu macam-macam pertanyaan seperti itu mungkin tak terlalu dihirau. Namun bagi tipe orang yang sensitif tentu membuat dirinya tak nyaman, juga merasa tertekan. Apalagi jika seumuran dengannya dilihatnya sudah pada mapan dan berketurunan. Hemm..apa boleh buat. 

Maka pas berada ditengah lingkaran pertemanan, pertanyaan kapan menikah kerapkali datang bak petir menyambar-nyambar. Antara rasa ingin bersegera menikah dengan segala sesuatu yang menjadi kendala bersifat pribadi kerap menjadi momok. Kalau sudah begitu kudu siap mental kapan saja jika sewaktu-waktu jadi sasaran bullyan. 

Seperti sindiran sandal saja berpasangan atau truk saja bergandengan kapan kamu berpasangan dan bergandengan. Jangan-jangan pingin mengikuti jejak wali masyhur seperti Robiah al Adawiyah, atau Imam az-Zamakhsari al-Khawarismi, Imam an-Nawawi ad-Dimasyqi, Ibnu Jarir at-Thabari. 

Sederat ulama besar tersebut alasan tidak menikah hingga akhir hayat karena selain mendedikasikan usianya untuk ilmu agama juga karena telah menikmati lezatnya ilmu. Bagi mereka nikmatnya ilmu telah melampaui segala-galanya. Lah kalau level orang biasa yang sudah cukup umur, mental, finansial tetapi rasidowayuh ya wallahua'lam. 

Namun begitu, pas sudah mau ketemu jodohnya, nasihat jangan buru-buru acapkali datang dari orangtua. Misalnya jangan buru-buru mengambil keputusan, pikirlah masak-masak. 

Jangan dipandang cantiknya saja, tapi juga agamanya, mau nggak calonmu dan keluarganya menerima kamu apa adanya, mau menerima keadaan kedua orangtuamu. Mau nggak diajak berjuang bersama. Mau berumah tangga itu tak hanya urusan sehari semalam tetapi selawase dan sederet nasihat lainnya.

Di lain kesempatan kiranya diburu-buru sesuatu itu ada enak dan tidak enaknya. Saat di tengah perjalanan misalnya, tiba-tiba perut mules pingin BAB, sementara layanan toilet umum jaraknya lumayan jauh. Dalam situasi begitu apa yang mesti dilakukan?

Pilihannya ada dua, menahan rasa sakit akibat mules lalu sambil meringis-ringis atau melepasnya begitu saja. Tentu dua pilihan itu sama-sama tak enak. Bagi anak-anak mungkin akan memilih mbrojol saja di celana. 

Namun bagi orang dewasa pilihan yang kerap diambil adalah menahan rasa sakit sambil meringis-ringis kemudian begitu dapat toilet maka segala muatan yang tertahan langsung ambrol seketika. Kukira umunya orang akan mengucapkan rasa syukur alhamdulillah. 

Lantas apa kaitannya setelah buru-buru buang hajat besar dengan buru-buru mau menikah? Kalau sudah sampai pada momentumnya kiranya sama-sama akan berucap hamdalah.