Fenomena Bunuh Diri merupakan fenomena yang menarik perhatian dunia sebab bukan hanya orang biasa yang jarang diliput media, namun juga public figure. Hal ini begitu penting dikarenakan berkaitan dengan nyawa seseorang, entah itu diakibatkan depresi, penyakit mental, bullying, tekanan sosial dan lain sebagainya.

Yang paling mencuat satu tahun terakhir adalah negara dengan banyak fans seluruh dunia yaitu Korea Selatan yang ternyata mencatatkan banyak artis populer, diantaranya Sulli yang gantung diri pada oktober 2019 dengan sebab cyber bullying, lalu ada Goo Ha Ra yang ditemukan meninggal dunia pada November 2019.

Hal ini menarik perhatian penulis yang ingin tahu bagaimana perspektif ilmuan tentang bunuh diri, dalam hal ini seorang sosiologi terkenal yang bahkan dijuluki bapak sosiologi modern, Emile Durkheim.

Tahun 1897, Durkheim ternyata sudah menulis teorinya tentang bunuh diri dalam buku berjudul Suicide, dari sini kita bisa tahu bahwa ternyata bunuh diri bukanlah fenomena baru. Disana dinyatakan bahwa Durkheim ingin mengetahui pola atau dorongan sosial dibalik tindakan bunuh diri yang secara sepintas memang terlihat seperti tindakan individual.

Pusat perhatian Durkheim –dalam buku tersebut- adalah menjelaskan perbedaan angka bunuh diri dari beberapa negara (Italia, Spanyol, Prancis, Jerman dan Negara-negara Skandinavia), ia berasumsi mengenai fakta sosial yang melatarbelakangi fenomena bunuh diri. 

Cara yang ia gunakan adalah membandingkan suatu tipe masyarakat atau kelompok dengan tipe lain dan melihat perubahan angka bunuh diri dalam satu masyarakat atau kelompok dalam kurun waktu tertentu.

Hasil kesimpulannya adalah orang-orang dari kali dari kalangan “atas” (kaya) lebih tinggi tingkat bunuh dirinya dibanding dengan orang-orang kalangan “bawah” (miskin), hal itu ditunjukkan dengan rendahnya angka bunuh diri di negara Italia dan Spanyol –yang saat itu identik lebih miskin- dibanding Prancis dan Jerman. 

Jadi Durkheim pun mengambil kesimpulan bahwa hal itu bersumber dari keadaan masyarakat dari negara yang bersangkutan, maka bunuh diri harus dipelajari dan dihubungkan dengan struktur sosial dari masyarakat tersebut.

Dari situ pula, Durkheim membagi tipe bunuh diri menjadi 4 macam, yakni :

Egoistik, yaitu bunuh diri yang ditemukan dalam masyarakat yang individunya tidak mampu berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya kemampuan integrasi ini melahirkan perasaan bahwa dirinya sebagai individu bukan bagian dari masyarakat setempat dan begitu pula sebaliknya.

Altruistik, yaitu bunuh diri yang disebabkan ketika seseorang merasa bahwa beban masyarakat dan kepentingannya lebih penting daripada kepentingan individunya. Dorongan ini biasanya banyak terjadi dengan harapan bahwa akan adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian dari dunia ini. Hal ini juga menunjukkan kelemahan akan dirinya sendiri yang merasa bahwa tidak ada lagi kebaikan yang bisa ia lakukan untuk meneruskan kehidupannya.

Anomik, yaitu bunuh diri yang terjadi jika seorang individu dalam situasi norma yang lama tidak berlaku lagi di zaman sekarang yang memberlakukan norma baru sehingga mengakibatkan ia tak punya pegangan hidup, ia seperti terhimpit oleh norma baru atau ketidakmampuannya dalam adaptasi dengan norma baru. Bisa juga karena keteguhannya dalam mempertahankan norma lama sehingga tak mengizinkan norma baru mengubah dirinya, bunuh diri-lah jalan keluarnya.

Fatalistik, yakni bunuh diri yang terjadi akibat perasaan seorang individu yang menyimpulkan bahwa masa depan baginya telah tertutup, ia putus asa dan tak memiliki nafsu lagi untuk meneruskan hidup.

Dari keempat macam bunuh diri, Durkheim membagi bunuh diri anomik menjadi empat lagi, yaitu Anomi ekonomis akut, maksudnya adalah kemerosotan kemampuan lembaga-lembaga tradisional secara sporadis untuk meregulasikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial, sehingga banyak anggota dalam lembaga tersebut yang melakukan tindakan bunuh diri.

Lalu Anomi ekonomis kronis, maksudnya adalah kemerosotan regulasi moral yang berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini menjadi penyebab bunuh diri disebabkan hilangnya moralitas dan etika dalam individu atau anggota masyarakat tertentu.

Kemudian Anomi domestik akut, maksudnya ialah perubahan yang mendadak pada tingkatan makrosial, sehingga berakibat pada ketidakmampuan untuk melakukan adaptasi. Salah satu yang sering terjadi adalah gagal pendidikan dalam suatu masyarakat membuat individu sebagai anggota masyarakat tersebut merasa tertinggal oleh kemajuan zaman.

berikutnya yaitu Anomi domestik kronis, maksudnya adalah batasan-batasan yang berlebihan dalam mengekang peluang-peluang dan tujuan-tujuan hidup seorang individu dalam masyarakat tertentu. Yang sering terjadi dari jenis ini adalah korban perempuan dalam masyarakat adat yang sangat dibatasi akses ke segala aspek kehidupan.

Dari jenis dan macam bunuh diri yang dikemukakan oleh Durkheim, kita bisa mengelompokkan kasus-kasus atau fenomena yang terjadi akhir-akhir ini atau terbaru di berbagai belahan dunia ke salah satu dari bagian teori bunuh diri Durkheim. 

Seperti kasus bunuh diri di Jepang yang sangat disiplin dalam segala hal, ketika seorang ibu gagal mendidik anaknya untuk menjadi sukses ia akan merasa putus asa sebab tekanan sosial yang begitu tinggi dan berakhir bunuh diri, jenis bunuh diri ini termasuk Altruistik.

Kasus Goo Ha Ra dan Sulli yang disingung di awal sepertinya masuk dalam jenis fatalistik sebab merasa sudah tak ada lagi masa depan baginya untuk meneruskan hidup meski secara material dan finansial mereka sangat mumpuni.

Terakhir adalah setelah mengetahui ide dan gagasan Durkheim terkait masalah bunuh diri, kewajiban kita adalah merumuskan kembali dan mencari solusi terbaik bagi masalah sosial ini. 

Bunuh diri bukan lagi urusan individu dan masing-masing orang, namun kepentingan masyarakat luas dan menemukan pemecahan, membentuk kebijakan berdasarkan pada riset ilmiah juga dibutuhkan untuk menekan angka bunuh diri semakin rendah dan bahkan agar tak terjadi lagi fenomena bunuh diri.