Kejadian bunuh diri yang disiarkan secara langsung lewat jejaring Facebook membuat saya agak gusar. Dan menjadi alasan terbitnya artikel ini. Bagaimana mungkin seseorang secara sadar merencanakan aksi bunuh dirinya dan disiarkan ke khalayak ramai. Tentu mengundang banyak tanda tanya besar apa yang sebenarnya terjadi dan dapat kita pahami di balik aksi bunuh diri live itu.

Pernahkah terpikir oleh kalian bagaimana dan mengapa orang sampai berani bunuh diri? Atau justru kalian sendiri yang pernah terbesit ingin mengakhiri anugerah Tuhan yang maha indah yaitu “kehidupan”? Secara ilmiah ada kajian tersendiri yang mengungkap berbagai alasan mengapa bunuh diri dapat terjadi.

Emile Durkheim seorang sosiolog klasik asal Prancis mengemukakakan tesis ini mendasarkan pada penelitiannya yang mengkaji fenomena bunuh diri diantara penganut Agama Katolik dengan Protestan di Eropa. Secara singkat, Durkheim menyatakan bahwa semua orang berpotensi untuk melakukan bunuh diri. Setidak nya alasan mengapa orang mampu “bunuh diri” dijawab Durkheim melalui karyanya Suicide. Singkatnya ada empat tipe bunuh diri dalam buku itu.

  • Tipe Egoistik

Pelaku bunuh diri ini memiliki ciri perilaku yang cenderung introvert atau tertutup. Perilaku tersebut mendorong Individu terlepas dari lingkungan sosialnya seperti keluarga dan masyarakat. Hal itu menjadikannya individualistik. Dengan kata lain hanya memikirkan kepentingan sendiri dan tak peduli bantuan ataupun peduli pada kebutuhan orang lain. Berangkat dari situ, sikapnya yang tertutup membuat ikatan sosialnya lemah. Hubungan sosial dengan keluarga/masyarakat hanya sekadarnya atau seperlunya. Bahkan secara sosial dapat terkesan buruk.

Pada titik di mana Individu tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan pribadinya sebagaimana yg diharapkan, maka ia akan mengalami arus depresi dan kekecewaan. Individu itu akan cenderung memilih untuk melakukanbunuh diri. Hal ini terjadi karena rendahnya integrasi sosial. Ikatan sosialnya dengan keluarga atau lingkungan sangat lemah.

Perlu diperhatikan, orang ekstrovert juga bisa masuk kedalam tipe bunuh diri ini. Misalnya, siswa yang bunuh diri karena tidak lulus sekolah atau ujian nasional. Karena rasa malu ia menjadi introvert terhadap lingkungan sosialnya (keluarga dan lingkungan pertemanan) dan akhirnya tidak bisa mengatasi persoalan itu dengan akal sehat sebab ia menutup diri dari lingkungan.

  • Tipe Altruistik

Kebalikan dari konsep tipe egoistik. Bunuh diri tipe ini didasari oleh terikatnya individu dengan sangat kuat pada masyarakat, kelompok atau lingkungan sosialnya. Dengan kata lain ada integrasi sosial yang sangat kuat. Hal itu membuat ikatan sosial dengan kelompoknya lebih tinggi dan diatas segala-galanya, terutama jika dibandingkan dengan kepentingan dirinya.

Kuatnya ikatan sosial individu terhadap kelompok, masyarakat atau lingkungan sosialnya menciptakan adanya kepercayaan atau keyakinan pada diri individu bahwa dengan melakukan bunuh diri maka akan menghasilkan suatu kebaikan untuk lingkungan sosialnya. Misalnya Bom bunuh diri atas nama Jihad. Seorang tentara yang rela mati demi negara. Hara Kiri bagi masyarakat Jepang dan Kamikaze (pilot Jepang yang menabrakan pesawatnya kepada musuh/ sekutu) saat Perang Dunia ke-II.

  • Tipe Anomik

Bunuh diri dalam tipe ini terjadi karena guncangan keadaan moral. Hal itu dapat saja terjadi dimana individu kehilangan cita-cita, tujuan, nilai dan norma dalam hidupnya yang sangat berharga sehingga menimbulkan kebimbangan pada dirinya. Regulasi (pengaturan) berupa cita-cita, tujuan hidup, nilai, norma yang melekat dalam diri individu rendah, akibat perubahan sosial yang dialaminya.

Karena gamang, bimbang, dan ia merasa hidupnya tidak ada arah lagi, membuat individu tersebut memilih jalan pintas yaitu bunuh diri. Misalnya, korban perkosaan; hilangnya keperawanan yang dianggap berharga dan orang kaya yang tiba tiba jatuh miskin.

  • Tipe Fatalistik

Regulasi (pengaturan) berupa cita-cita, tujuan hidup, nilai, norma yang melekat dalam diri individu secara mendadak dapat saja meningkat. Karena meningkatnya regulasi ini, akibatnya individu mengalami “tekanan sosial” yang besar pula. Apabila individu tidak sanggup mewujudkan regulasi yang tinggi ini, akhirnya ia berpasrah diri (menyerah) terhadap situasi yang ada.

Kondisi “menyerah” inilah yang kemudian membuat individu cenderung melakukan bunuh diri guna mengakhiri “tekanan sosial” atas regulasi yang tinggi. Contoh; orang yang tiba-tiba terkenal dan tidak kuat kehidupan pribadinya direnggut media.

Tipe-tipe bunuh diri diatas sebagai hasil karya intelektual tentu memiliki kekurangan. Hal itu terletak pada uapaya yang terlalu tajam dalam membedakan antar tipe satu dengan tipe yang lain yang mana dalam kehidupan nyata bisa saja alasan seseorang bunuh diri merupakan kombinasi dari berbagai tipe yang ada di atas. Hal itu bukanlah merupakan kekeliruan dalam berpikir ilmiah.

Dalam kerangka teoritis sebuah analisa memang menuntut klasifikasi yang mana sangat mungkin bertentangan dengan alam nyata. Di alam nyata semua kejadian sosial sulit untuk dipisah secara tajam karena merupakan sesuatu yang saling berkelindan. Tugas ilmu yang kemudian menyederhanakan realitas kedalam kerangka konseptual agar lebih mudah dipahami oleh manusia.