Setelah mencoba melawan segala bentuk ketakutan dalam diri ini, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke bioskop. Sebenarnya saya juga tidak akan kembali ke bioskop kalau tidak perlu-perlu amat. Namun, kala itu saya mendapat panggilan tugas untuk meliput pemutaran film baru. Apa daya, penolakan tidak bisa menjadi jawaban..

Bohong namanya jika ketakutan saya sudah sepenuhnya hilang. Terlebih lagi, bioskop itu kan tempat yang sangat tertutup. Belum lagi jika kursi yang saya tempati itu bekas orang yang entah dari mana dan sudah mengenai apa saja pakaiannya. Alamak.

Hari penugasan pun tiba. Dengan segala persiapan seperti pakaian lengan panjang dan desinfektan, saya datang dengan ekspektasi bahwa semua orang akan mengikuti protokol kesehatan yang ada. Hal itu lah yang membuat saya bisa sedikit lebih tenang.

Saya sengaja datang lebih awal agar tidak bergerombol saat datang ke dalam studio. Di dalam, setiap kursi sudah diberi jarak dengan kursi lainnya. Meski hanya ditempel tanda silang, harusnya orang-orang sudah mengerti bahwa kursi itu tidak untuk ditempati. Kekhawatiran saya sedikit memudar saat mengetahui kalau kursi saya berada di dekat tangga.

Lampu akhirnya digelapkan dan penantian setahun lamanya pun terbayarkan. Saya kembali menonton film di bioskop! 5 menit film berjalan, semuanya tampak tenang. Hingga tidak lama setelah itu, saya melirik ada satu pria yang jalan dari atas studio ke bagian bawah. “Mau ngapain ini orang?” pikir saya dalam hati.

Deg! Saya kaget bukan main saat pria itu menghampiri temannya di salah satu kursi dan tahu apa yang dia lakukan setelah itu? Ia duduk di sebelah temannya di bagian kursi yang seharusnya dikosongi! Security, security! Tolong ini ada orang yang melanggar protokol kesehatan.

Bukankah semestinya para petugas bisa melihat dari cctv yang ada di dalam studio? Kalau bisa, kenapa tidak ada yang menindaknya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat diri saya kalut selama beberapa menit dan tidak memperhatikan jalannya film. Padahal itu film harus saya buat ulasannya, tapi distraksi tersebut benar-benar membuat saya bolak balik mengalihkan pandangan dari layar.

***

Kejadian melanggar protokol kesehatan sebenarnya bukan pemandangan yang asing lagi. Tapi jika di bioskop? Salah satu tempat yang paling vokal dalam menyuarakan penegakkan prokes? Masa bisa-bisanya lengah dengan situasi tersebut. Jelas tidak masuk akal, dong. Apa jangan-jangan tujuan mereka vokal seperti itu hanya untuk menarik pengunjung saja? Hadeh.

Tidak lama setelah itu, saya menemukan kejadian serupa. Kali ini, saya melihatnya dari laman Instagram salah satu media ternama. Di situ, mereka mengunggah ulang unggahan milik orang, yang menunjukkan bahwa ada sepasang muda-mudi yang tertangkap kamera sedang melanggar prokes. Salah satu pasangannya duduk di kursi yang seharusnya tidak diduduki.

Saya mengerucutkan pandangan ke layar hp saya, dan ternyata bukan hanya satu pasang, melainkan dua, bahkan tiga pasangan yang duduk di kursi dengan tanda silang! Parah, parah. Lagi-lagi saya mempertanyakan mengenai keseriusan si pengelola bioskop ini dalam menegakkan protokol kesehatan. Mereka menjanjikan kenyamanan dan keamanan saat menonton bioskop, tapi hal sekecil ini saja masih kejadian. Ini seperti bentuk pengkhianatan tagar #KembaliKeBioskop yang diramaikan oleh para pelaku industri film.

Mirisnya, komentar-komentar di unggahan tersebut malah menyalahi orang yang merekam video pasangan-pasangan yang melanggar ini. Mereka menganggap kalau orang ini cepu alias tukang ngadu. Lebih miris lagi, para warganet seakan-akan lupa kalau ada protokol kesehatan yang mesti diterapkan. Kata mereka, tidak masalah jika para pasangan ini duduk di kursi yang bersebelahan langsung, toh, nanti mereka juga jalan dan pulangnya bareng-bareng.

***

Saya tidak melihat kasus seperti ini akan berhenti. Malahan, kemungkinan untuk terjadi kembali pasti akan lebih besar, seiring menurunnya kedisplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan. Di tempat umum seperti restoran mungkin sudah menjadi hal yang lumrah, namun yang lebih membuat saya khawatir adalah di lingkungan bioskop.

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kejadian pelanggaran ini seperti bentuk pengkhiatan tagar #KembaliKeBioskop. Publik yang sudah mulai kembali untuk menonton film di bioskop, akhirnya memilih untuk mengurungkan niatnya karena ketidakbecusan para pihak pengelola bioskop mempertahankan kepercayaan tagar tersebut.

Saya yakin betul pasti pihak keamanan setempat ada yang melihat pelanggaran yang terjadi. Namun, mereka memilih untuk ‘menghalihkan pandangan’ ke tempat yang lain. Ketika ada yang protes, mungkin dengan mudahnya mereka bisa menjawab, “Baik. Akan segera saya tindak para pelanggar.” Halah! Lagu lama.

Selain dari masyarakat yang enggan untuk kembali nonton di bioskop, para pelaku industri film akan ikut imbasnya. Bayangkan saja, sekitar 90% pendapatan film berasal dari penjualan tiket bioskop. Jika orang-orang memilih untuk kembali tidak nonton di bioskop, hancur sudah para pelaku industrinya.

Pihak yang layak disalahkan? Jelas para pengelola bioskop yang tidak bisa menegakkan protokol kesehatan yang ketat. Percuma tiket disobek sendiri. Percuma dicek suhu di pintu masuk kalau ujung-ujungnya dibiarkan lenggang protokolnya saat di dalam studio.

Urusan protokol kesehatan memang harus dilakukan dengan serius. Pada tahun lalu. Sekarang? Bah. Boro-boro jaga jarak, orang disuruh pake masker aja kadang suka susah. Mereka berlindung di balik seribu alasan. Saya rasa ini para penglola bioskop mau ikut-ikut nambahin daftar alasannya. Kalo gini caranya, bisa-bisa protokol kesehatan sudah seperti situs sejarah. Layak para arkeolog bedah.

Harusnya ini bukan menjadi hal yang harus diperdebatkan lagi. Namun, melihat situasi seperti ini, saya rasa protokol kesehatan bak sebuah rambu dilarang parkir di Blok M saat malam hari. Hanya untuk dihiraukan. Semestinya memang tidak seperti itu, tapi melihat gini ceritanya, ya sudahlah.