Baru-baru ini kita dihebohkan kembali dengan pidato Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang memicu kemarahan umat Islam di seluruh dunia dengan mengatakan bahwa Islam adalah agama yang krisis dan penuh dengan orang yang separatis. Sejak pidato tersebut, terjadi pemboikotan massal produk-produk dagang yang diproduksi oleh Prancis dan kecaman dari negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Turki, Arab Saudi, Iran, Bangladesh, Palestina, dan Pakistan.

Sebelumnya juga Macron sudah sempat berpidato tentang strateginya pemerintahnya melawan politik Islam pada 18 Februari di Mulhouse timur. Kemudian, Marcon menegaskan lagi di pidato kontroversialnya akhir Oktober lalu setelah pemenggalan Samuel Paty, seorang guru di Prancis yang menunjukkan karikatur Charlie Hebdo yang sempat panas 2015 silam kepada murid-muridnya.

Tidak hanya Prancis yang sudah lama berkontroversi dengan bermacam-macam agama termasuk Islam karena paham sekular “Laicite”nya yang harus memisahkan kepentingan agama dan urusan negara, di kasus lain, Amerika juga sudah sejak lama mendiskriminasi agama Islam dengan berbagai agenda dan pernyataan kontroversial dari beberapa pemuka ternama Amerika seperti Donald Trump yang sering memicu kemarahan umat Muslim dengan cuitan nyelenehnya di Twitter.

Konflik antarumat muslim dengan pihak Barat sebenarnya sudah terjadi sejak lama dan telah berulang kali diulas menjadi literatur menarik oleh Samuel P. Huntington dengan benturan peradabannya dan Orientalisme vs Oksidentalisme yang dibahas oleh Edward Said dan Hassan Hanafi mengenai sudut pandang Timur dan Barat.

Di abad ke 21 ini Islam masih saja didiskriminasi dan dipojokkan dengan bermacam-macam opini bahwa Islam adalah agama yang radikal dan menjadi sumbangsih terorisme di berbagai kasus teror beberapa negara.

Tetapi apakah benar bahwa Islam adalah agama yang radikal dan selalu membuat kerusuhan dan teror di berbagai dunia seperti yang dikatakan oleh orang-orang barat?

Takut karena tidak paham

Jika kita ingin berbicara tentang agama Islam pastinya tidak lepas dari kata agama, karena Islam adalah merupakan salah satu agama Samawi yang diturunkan melalui wahyu.

Agama menurut beberapa peneliti seperti Emile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu system yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Dan menurut Hendro Puspito sendiri, agama adalah system nilai yang mengatur hubungan manusia dan alam semesta yang berkaitan dengan keyakinan.

Oleh karena itu kita tidak bisa serta merta memukul rata semua paham agama karena masing-masing agama selalu memiliki perbedaan dengan subjektifitas dalam memahaminya karena hal itu yang membuat definisi agama berbeda.

Menurut Kartodirdjo (1985), radikalisme adalah gerakan sosial yang menolak secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berlangsung dan ditandai oleh kejengkelan moral yang kuat untuk menentang dan bermusuhan dengan kaum yang memiliki hak-hak istimewa dan yang berkuasa.

Islam adalah agama yang damai, memahami islam dengan benar dapat membuat orang bersikap adil, moderat, dan berimbang. Karena didalamnya, Islam mengajarkan kedamaian, menghargai, dan mencintai umat manusia tanpa melihat latar belakangnya, sehingga bisa kita pastikan Islam sangat menentang aksi kekerasan seperti definisi radikal di atas.

Tetapi di sisi lain sebagai Muslim, mereka juga harus menjaga martabat agama dan Nabi mereka Muhammad SAW dengan meluruskan penghinaan yang ditujukan kepada agama Islam.

Hal Ini yang kemudian menciptakan sebuah benturan antara Islam dan negara-negara Barat yang condong beraliran Liberalisme ditambah lagi dengan Islam yang sering di frame buruk oleh media sehingga menumbuhkan sikap Islamofobia yang dikenal sejak 1980-an. Dengan tiga asas Liberalisme yaitu kebebasan, individualisme, dan rasionalis itulah yang memicu orang-orang barat dengan bebas menghina Islam.

Dengan kedok kebebasan berekspresi dan ditambah peristiwa tragedi WTC 11 September 2001 yang kala itu membuat Islam dibenci dunia, mereka mengutarakan Islamofobia dengan mengatakan bahwa Islam adalah sumber terorisme dan “inferior” mengancam nilai-nilai dominan pada masyarakat terutama masyarakat Barat yang bergaya hidup bebas dan berbanding terbalik dengan gaya hidup ketimuran Islam.

Di dalam bukunya yang berjudul “Orientalism” Bab III, Edward Said juga mengatakan bahwa umat Islam dan orang Arab selalu digambar dalam film-film dan televisi dengan image yang sangat buruk seperti pedagang budak, sadis, pengkhianat, dan yang paling familiar yaitu sebagai teroris

Karena itulah mengapa paham Barat dan Islam selalu berbenturan. Apalagi tidak jarang ada sebuah konflik yang diciptakan oleh oknum Islam yang berfikiran konservatif untuk menyebarkan khilafah dengan kekerasan atau memang mereka sedang dijoki untuk memainkan peran politik

Sehingga hal tersebut dilihat dan ditelan mentah-mentah oleh pihak Barat yang membuat mereka berkutat dengan pandangan negatif terhadap Islam ditambah lagi kebebasan berekspresi mereka untuk menghina Islam.

Dan efek tersebut kembali lagi kepada umat Muslim yang memicu kemarahan mereka yang lagi lagi dapat memicu perlawanan kepada pihak Barat yang disikapi mereka sebagai suatu Radikalisme. Siklus itu yang selalu berputar dan berbenturan antara paham Barat dan Islam sehingga sulit untuk menciptakan kedamaian di antara kedua belah pihak ini.

Di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam pun tidak luput dari Islamofobia. Terutama sejak kasus penistaan agama Islam yang dilakukan oleh mantan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang kerap disapa Ahok. Aksi 212 yang diklaim mencapai jutaan karena kemarahan umat Islam membuat banyak orang termasuk kubu Ahok menilai bahwa Islam adalah agama yang konservatif.

Puncaknya sampai saat pemilihan Presiden tahun 2019 lalu dimana saat itu rakyat Indonesia sangat terpecah belah dengan adanya kubu pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Dua kubu tersebut saling menghina dengan julukan masing-masing seperti “Cebong” untuk pendukung Jokowi dan “Kadrun” untuk pendukung Prabowo. Bukan tanpa sebab pendukung Prabowo dijuluki “Kadrun” atau kadal gurun, karena di kubu pendukung Prabowo rata-rata adalah ulama-ulama dan pemuka agama.

Baca Juga: Boikot Prancis

Tidak berhenti sampai sekarang, banyak orang yang hanya ingin menjalankan syariat Islam di cap sebagai “Unta” atau orang yang terlalu terpaku dengan agama. Padahal, mereka hanya mengikuti apa yang diwajibkan dalam agama Islam. 

Namun akibat perpecahan akibat politik yang lalu tetap saja membuat beberapa bahkan banyak masyarakat Indonesia yang sebagian besarnya beragama Islam menjadi agak sedikit Liberal karena terlalu berlebihan dalam melihat umat muslim seperti menuduh mereka Teroris, terlalu agamis, tidak menikmati hidup, dan sebagainya.  

Berdasarkan survei Institute for Social Policy and Understanding (ISPU) mencatat bahwa sentimen negatif Islamofobia dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti politik pribadi, nasional, dan seberapa banyak seseorang tahu tentang Islam, bukan karena afiliasi keagamaan Islam yang selama ini dikira “barbar” oleh pihak Barat

Dari penelitian di Sydney dan Melbourne yang dilakukan Val Colic-Peisker dan Adrian Flitney, Universitas RMIT menyimpulkan bahwa jika non-muslim dan muslim hidup berdampingan dapat menjadi obat Islamofobia karena teori kontak di mana biasanya kontak antarmanusia dengan latar belakang berbeda mengurangi prasangka buruk.

Dengan dua hasil penelitian diatas, setidaknya masih ada harapan dalam meredakan benturan antar pemahaman Barat dan Islam. Jika ditarik benang merahnya, tensi di antara kedua belah pihak tersebut dapat reda dalam jangka waktu yang lama untuk menyembuhkan Islamofobia agar dunia dapat dengan paham keyakinan muslim dan cara hidup mereka.

Sebagai kesimpulan, kebuntuan antara umat muslim dan negara-negara Barat dapat diredakan bahkan bisa dihentikan asalkan media dan politikus tidak membuat pernyataan bernada menyerang muslim demi mengurangi pemikiran Islamofobia dan bersedia duduk bersama membahas kesalah-pahaman yang selama ini Islam dan Barat perdebatkan. Karena sesungguhnya dua subjek diatas juga termasuk penyumbang api yang dapat menyulut kembali Islamofobia yang menjadi kebuntuan antar Barat dan Islam.