Mahasiswa
2 tahun lalu · 3286 view · 3 min baca menit baca · Politik fb_img_1478269886100.jpg
Sumber Foto Profil Facebook Buni Yani

Buni Yani Seharusnya Diberi Rekor MURI

Di tengah pengunjuk rasa melakukan aksinya di Jakarta hari ini, beredar kabar bahwa Buni Yani, lelaki yang pertama kali mengedarkan editan video Ahok soal ayat Al-Maidah 51 di Facebook, mengaku bersalah.

Diakui atau tidak, lelaki beruban inilah yang “berjasa” membangun opini publik pro dan kontra soal ayat tersebut dan akhirnya membuat Ahok jadi pesakitan. Buni layak dicatat sebagai pemecah rekor MURI – bahkan mungkin Guinness World Records -- yang berhasil menggalang kekuatan (ratusan ribu pengunjuk rasa) yang kalau tidak dikendalikan bisa mengganggu semangat perdamaian yang dijunjung tinggi rakyat Indonesia.

Beruntunglah masih banyak komponen bangsa ini yang berpikiran jernih dan tidak terhasut (maaf) “permainan” Buni Yani yang mungkin dia sendiri tidak menyadari bahwa akhirnya akan jadi begini: kebenaran dan kebencian sulit dibedakan.

Nasi sudah menjadi bubur. Buni Yani sudah mengaku bersalah. Dalam semangat Jakarta damai, kita harus maafkan dia. Ahok pun harus memaafkan dia. Dalam kasus rekaman video di Kepulauan Seribu, Ahok tetap salah (mungkin lebih tepat tidak bijak), sebab mulutnya (maaf) ember berbicara sembarangan dan menyebut ayat suci penganut agama lain tidak pada tempatnya.

Para pengunjuk rasa sudah terlanjur menuntut Ahok diproses secara hukum, bahkan sangat mungkin menghendaki Ahok mundur. Jika itu yang dilakukannya ia juga harus berhadapan dengan hukum, sebab UU Pilkada mengatur seseorang yang telah ditetapkan sebagai calon gubernur tidak boleh mundur.

Kita layak memberikan apresiasi Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian yang dalam urusan yang satu ini “mengalah” dan akan memeriksa Ahok pada Senin (7 November) padahal menurut ketentuan, seorang calon kepala daerah tidak boleh diperiksa saat proses pilkada berlangsung.

Maaf buat yang tidak suka dengan Ahok, kita juga perlu memberikan apresiasi kepada Ahok yang siap diperiksa, bahkan sebelumnya telah datang ke Bareskrim untuk diperiksa dalam kasus yang menimpanya.

Kita pecinta damai berharap polisi bisa jujur, objektif dan transparan dalam menangani kasus tersebut. Jika memang Ahok dinyatakan bersalah, saya yakin dia siap menerimanya. Ahok pun dalam berbagai kesempatan mengatakan bahwa menjadi gubernur itu wujud pelayanan, bukan kekuasaan. Ia sering mengatakan kelak jika tidak terpilih, “saya akan menyelesaikan tugas dan tanggung jawab saya sebagai gubernur sampai dengan Oktober 2017.”

Sebaliknya jika polisi menyatakan Ahok tidak bersalah karena tidak ditemukan bukti yang kuat, maka hukum harus kita hormati. Kita harus terima dengan semangat perdamaian Jakarta. Kita tidak boleh memaksakan kehendak. Kita serahkan kepada warga Jakarta. Saya yakin Ahok akan berlapang dada jika mereka yang tidak suka kepadanya berkampanye: “Jangan pilih Ahok.”

Lalu bagaimana dengan Buni Yani? Sudahlah. Lupakan yang sudah-sudah. Maafkan dia, sebab sangat mungkin dia sebenarnya tidak tahu apa yang dilakukannya. Jujur, kalau saya jadi Buni Yani, saya mungkin tidak bisa tidur sepanjang hari. Saya yakin Tuhan pun akan mengampuninya. Salam damai.

Pukul 12.00 hingga pukul 13.00 tadi, puluhan ribu umat Islam bersembahyang. Mereka berkomunikasi dengan Allah yang Mahakasih lagi Maha Penyayang. Setelah itu mereka berbondong-bondong ke Istana Negara. Ada pula yang ke Balai Kota, kantor Gubernur DKI Jakarta Ahok yang dianggap menista agama.

Luar biasa. Mereka berbondong-bondong secara tertib dan damai. Semoga kedamaian ini tetap terjaga dan mereka tidak terprovokasi untuk bertindak anarkis.

Polisi sendiri, sebagaimana diungkapkan Kapolri Tito Karnavian, akan memeriksa Ahok tanpa intervensi siapa pun, termasuk dari para pengunjuk rasa. Kita percaya polisi dalam kasus ini akan objektif, sehingga apa pun hasil pemeriksaan yang dilakukan, tetap didasarkan dan patuh pada hukum, bukan berdasarkan pada rasa takut dan tertekan.

Pemeriksaan yang dilakukan polisi, apa pun hasilnya, pasti tidak memuaskan semua pihak. Kita harus bisa berdamai dengan diri kita sendiri.

Jakarta hari ini didominasi warna putih. Saya percaya mereka yang mengenakan kostum putih-putih itu pasti berhati putih, suci, sehingga selalu waspada terhadap penyusup yang siapa tahu berniat membuat kerusuhan dan menodai perjuangan mereka.

Siang tadi saat mereka bersembahyang di Masjid Istiqlal, rumah Tuhan yang lain, Gereja Khatedral tampak menjulang menjadi saksi betapa saudara-saudaranya begitu khusuk menyembah dan menyebut asma Allah.

Bendera merah putih juga berkibar-kibar di kerumunan massa. Betapa indahnya Bhineka Tunggal Ika. Harmoni Indonesia memang sungguh luar biasa.

Semoga demonstrasi damai, tidak anarkis. Karena saya melihat, ada gelagat demo sampai malam.

Artikel Terkait