Setelah mengubur diriku sendiri di samping kuburan istriku, aku tersadar dan menemukan diriku berada di atas panggung yang terbuat dari gundukan tanah. Di hadapanku berdiri rimbunan bunga-bunga yang berwarna-warni. Aku tidak tahu apa saja jenis dari rimbunan bunga-bunga yang bermacam-macam itu.

Aku hanya bisa mengira-ngira, aku mungkin tengah bermimpi berada di suatu tempat yang tidak pernah dikunjungi satu pun makhluk di dunia ini selain kumbang bunga. Ya, apalagi yang tidak bakal merusak himpunan bunga-bunga ini kalau bukan kumbang bunga?

Aku kemudian mengucek-ngucek mataku, memukul dan mencubit kulit sawo matangku berkali-kali. Memastikan aku belum mati lantas berada di suatu tempat yang bisa jadi itu adalah surga, sebab neraka digambarkan dalam buku sebagai tungku pemanggangan, bukan taman bunga berwarna-warni seperti ini. Aneh! gumamku dalam hati. Aku masih bisa merasakan sakit. Berarti aku belum mati. Tapi di belahan dunia bagian mana aku sekarang ini?

Aku bangkit dan menggerakkan kaki menuju arah yang tidak tentu. Ke mana pun aku pergi hanya ada hamparan bunga-bunga berwarna-warni. Nyaris tak ada desir angin. Udara di sini tenang-tenang saja. Aku menengadah ke langit, entah kenapa ada perasaan kosong yang menyelimuti tiap denyut jantungku.

Langit di hadapanku serupa lubang raksasa yang memiliki satu titik lancip, seumpama pusaran angin puting beliung yang bertumpu pada sebuah lubang kecil di dalam tanah. Ada yang tidak beres! pikirku.

Dalam perjalananku yang semakin ke sini semakin aneh saja, aku tiba-tiba bertemu dengan setangkai bunga tulip. Bunga ini, yang entah bagaimana caranya, tiba-tiba bertanya padaku serupa penghuni kota pinggiran bertanya pada tourist-tourist yang lewat di halaman toko mereka.

"Hello, Mister!"

Aku berhenti sejenak. Suara itu lantas membuatku menoleh kiri dan kanan. Mencari asal muasal bunyi tidak asing itu.

"Hey, di sini!"

Aku masih dalam posisi seperti sebelumnya. Menoleh ke kiri dan ke kanan, siapa tahu ada orang-orang atau malaikat di sekitar sini. Sedang tanganku, seperti kebanyakan tangan para pejalan kaki di tengah gurun, bersejajar dengan dahi untuk mengurangi volume cahaya yang meloloskan diri ke pupil.

"Di bawah. Aku di bawahmu, kawan!"

Aku menoleh. Dan, astaga, bunga yang bisa bicara. Apakah aku benar-benar sudah berada di surga?

"Kau masih di dunia, Mister!" Tiba-tiba ia berbicara lagi, tapi kini ditambah dengan sedikit tawa ejekan.

Aku memukul-mukul dan mencubit lagi kulit sawo matangku. Aneh, memang. Aku masih belum percaya dengan apa yang baru saja kulihat. Sepucuk bunga tulip yang berbicara. Oh, tidak. Aku sudah gila!

"Kau tidak gila, Mister." Bunga itu tertawa terkekeh-kekeh, layaknya seorang manusia, tapi dalam bentuk sebatang tulip.

"Aku di mana sekarang?" 

Aku linglung. Di seluruh pandanganku hanya barisan bunga-bunga dan bunga-bunga, tak ada tanda-tanda kehidupan lain selain aku dan bunga-bunga. Bahkan ujung dunia. Batas cakrawala seperti barat dan timur kala senja atau fajar, bahkan tak terlihat lagi.

"Kau berada di dunia batas, Mister!" Bunga itu bergoyang-goyang sebentar, tertiup desir angin tipis, lantas kembali berbicara, "Kami sudah lama menunggu Anda, Mister."

Tiba-tiba aku terjebak pada pikiranku sendiri. Di mana aku sekarang? Apakah batas dunia itu? Kenapa mereka harus menungguku. Maksudku, bunga-bunga ini. Apakah Tuhan yang merencanakan semua ini?

"Bagaimana Mister? Anda bisa mengikutiku jika bersedia." Ia kembali bergoyang-goyang setelah mengatakan itu padaku.

Apa yang harus kujawab? Mereka kan hanya sekadar bunga-bunga. Tapi tidak bisa dipungkiri, yang dapat berbicara, apa pun itu, tetap saja perlu diwaspadai.

"Tidak usah bingung seperti itu, Mister. Dan tidak perlu curiga padaku. Aku hanya utusan.."

"Utusan?" Cepat-cepat aku memotong pembicaraan di bagian itu. "Maksudmu utusan dari mana?"

"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang," katanya nyaris lirih, serupa desir angin yang mengiris dedaunan. "Terlalu berbahaya di luar sini, Mister!"

"Berbahaya?" Ia hanya mengangguk mendengar keterkejutanku. Tunggu dulu, aku tidak bisa mempercayai tumbuhan ini begitu saja, bukan? Tempat ini begitu asing bagiku. Dan, belum ada jaminan bahwa tumbuhan ini bakal punya kebaikan-kebaikan seperti manusia. Meski tidak juga seburuk dan sejahat para penyihir dan penjagal. Tapi bagaimanapun aku tak bisa percaya begitu saja. Aku harus cari akal. Aku harus keluar dari tempat ini. Istriku baru saja sehari atau barangkali dua hari yang lalu meninggal ditangan orang yang aku percaya.

"Mister..?" Ia, bunga itu bergoyang lagi. Dari gerakannya terlihat sangat bahwa ia begitu lemah, bahkan dihadapan sapuan angin. "Kau tak perlu ragu padaku, Mister. Lihatlah, bahkan angin sepoi ini nyaris membuatku tumbang"

Aku berfikir lagi. Haruskah ku percayai ia sekarang. Bukankah terlalu cepat? Tapi.

"Baiklah!" Jawabku singkat, serta nyaring. Sekadar menggertaknya agar tidak macam-macam pada manusia yang tegas sepertiku. "Tapi setelah ini semua, tunjukan aku jalan keluar dari dunia ini. Dan, tolong jangan panggil aku mister, panggil saja Mas!"

Dan berjalanlah mereka berdua. Serupa dua pengembara dipadang pasir penuh ancaman.

Sementara diluar cerita ini, dibelahan dunia lain yang tidak perlu diceritakan secara detail disini. Segerombol anak-anak berkumpul diteras rumah milik Kakek Darman. Anak-anak ini datang bukan tanpa alasan, karena sebenarnya pada jam-jam seperti sekarang ini, mereka bakal menghabiskan waktu dengan bermain kelereng, atau gaple

Tapi tidak untuk hari ini, juga hari kemarin. Ada hutang yang harus segera mereka tagih pada Kakek Darman. Sesuatu yang barangkali lebih menarik dari permen lolypop dan beriris-iris terang bulan milik Mak Saodah. Cerita tentang taman bunga yang seringkali menculik manusia. Cerita tentang tipuan keindahan dunia yang selalu mengaburkan mata orang-orang tidak beriman.

Dan yang lebih penting. Cerita itu mengaitkan salah satu penduduk didesa mereka pada masa lalu. Sebagaimana penuturan Kakek Darman pada mereka setiap harinya.

***

Pada suatu ketika. Seorang lelaki paruh baya menemukan pintu masuk ke dalam taman bunga itu tanpa disengaja. Ia hanya seorang petani yang menghabiskan waktu demi waktu merawat tanah milik juragannya. Menanami tanah tersebut dengan berbagai macam kebutuhan pokok seperti umbi, padi, atau buahan-buahan.

Hingga suatu waktu, istri sang petani kita yang miskin tadi kemudian mengandung benih sang petani diperutnya. Lalu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, tentu saja ia bakal melewati fase ngidam sebagaimana perempuan pada umumnya. Yaang artinya, suaminya, sang petani kita tadi, bakal harus dan wajib memenuhi setiap keinginan istrinya. Apapun itu.

"Apapun itu ya kek?"

"Betul. Apapun itu!"

"Terus, terus, kek..?"

Jadi, kejadiannya tepat saat sang petani kita itu pulang dari pekerjaanya mencangkul sawah, dan menanam tunas-tunas pisang milik juragannya. Sang istri petani itu kemudian meminta sang petani untuk mencarikan bunga terindah yang pernah ada didunia. Awalnya sang petani kita itu berfikir dua kali terhadap permintaan istrinya. Sebab, tanah didesa kita ini dulunya gersang. Jangankan bunga, ilalang saja bosan berlama-lama didesa kita ini.

Nah, akhirnya sang petani kita itu menemukan solusinya. Entah kapan dan dimana letaknya, pada suatu waktu yang sudah ditentukan alam, ia menemukan jalan masuk kesana. Kedalam dunia taman bunga itu.

Tidak jelas juga apa dia melewati sebuah labirin dari belukar dan binatang buas. Ataukah memasuki sebuah gua dari lembah yang tidak pernah terjamah tangan manusia, lantas bisa berada disana. Intinya, ia telah menemukan tempat untuk memenuhi hasrat ngidam istrinya itu.

"Terus kek?"

"Sebentar, kakek minum kopi dulu!"

Dan ya. Seperti yang kita tahu bersama-sama. Ia tak pernah kembali lagi. Bahkan ketika istrinya kemudian meninggal dunia dalam kelaparan tiada tara. Kakek sendiri tidak mengerti, apakah lelaki itu tidak bisa pulang atau enggan dan tidak mau pulang lagi. Yang jelas, hingga hari ini, ia belum juga muncul didesa ini. Dan Pak Imam tidak bisa memastikan apakah laki-laki itu sudah tidak di dunia ini lagi atau sebenarnya masih hidup.

Anak-anak itu pada akhirnya bergidik sendiri dan berangsur pulang kerumah masing-masing dalam ketakutan-ketakutan masing-masingnya. Mereka kemudian jadi jarang bermain ditengah hutan, dan hampir sama sekali membenci bunga-bunga yang ditanami ibu-ibu mereka dihalaman atau pekarangan rumah mereka.

***

Hingga sampailah lelaki itu bersama tulip disisinya pada pintu sebuah istana. Aneh juga, ada istana semegah ini didalam hutan? Siapa yang membangunnya? Bunga-bunga?

"Jangan dulu berfikir yang macam-macam, Mas!" Bunga itu kembali bergoyang-goyang. Dan aku mulai berfikir kalau itu caranya berkomunikasi, entah membentuk gelombang suara dari gerakan tubuhnya sendiri atau apalah begitu. tapi yang jelas setiap kali ia berbicara, maka tubuhnya akan ikut bergoyang.

"Memangnya kenapa?"

"Ratu, meminta agar segera dipertemukan dengan Mister. Eh, maksudnya Mas!"

"Untuk apa?"

"Nanti saja. Pertanyaan itu sebaiknya disimpan untuk ratu saja, Mas"

Aku terkesiap. Pintu terbuka seketika. Seperti dalam film penyihir dan putri cantik. Seorang bidadari berada dibalik pintu menunggu dengan seutas senyum diwajahnya. Sementara aku yang terpana akan kecantikan itu tiba-tiba saja merunduk serupa hamba sahaya pada tuannya sambil memberikan tanganku dihadapannya serta memperkenalkan diri.

"Nama hamba, Darman, Ratu!"