Selama aku jadi presiden, seluruh mata bangsa Indonesia akan melihat dan memperhatikanku. Itu sebabnya aku berpakaian rapi dan memakai peci hitam, yang aku harapkan menjadi ciri atau identitas bangsa Indonesia. (Bung Karno)

Di wilayah Nusantara banyak orang-orang besar yang pemikiran dan tenaganya dicurahkan untuk melepaskan belenggu dari cengkeraman kuku penjajah bangsa asing, generasi saat ini sudah semestinya mengenal dan mengingatnya sebagai pahlawan sejati yang telah membawa Indonesia menuju kemerdekaan.

Salah satu orang besar yang dicatat dalam sejarah ialah Founding Fathers negeri ini, dia adalah Soekarno (Presiden Pertama Republik Indonesia) sering dipanggil dengan nama Bung Karno. Reputasinya diakui oleh dunia internasional sebagai tokoh paling berpengaruh dan pemimpin yang berjuang mempertahankan tanah air dari cengkeraman penjajah.

Bung Karno, sosok orator ulung cerdas dan piawai memainkan kata-kata; mampu menggerakkan pikiran siapa saja yang mendengarnya. Setiap untaian kata yang keluar dari desahan nafasnya bagaikan mutiara hikmah yang penuh filosofis dan mesin gairah yang siap bergerak maju ke depan dengan penuh semangat.

Pemikiran Bung Karno bisa dilihat dari teks pidatonya yang menggelegar, seperti yang disampaikannya pada saat Pidato Pertama tentang Pancasila pada 1 Juni 1945. Ketika itu Bung Karno menyampaikan bahwa,

Saudara-saudara! Apakah yang dinamakan merdeka? Tahun 1933 saya telah menulis satu risalah. Risalah yang bernama “Mencapai Indonesia Merdeka.” Maka di dalam risalah tahun 1933 itu, telah saya katakan, politieke onafhankelijheid, political independence, tak lain dan tak bukan ialah satu jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat. (Wawan Tunggul Alam, Kumpulan Pidato Bung Karno, 2001).

Kata ‘merdeka’ yang pernah disuarakan Bung Karno di hadapan rakyat Indonesia, hingga hari ini kata ‘merdeka’ ini masih menggelegar dan tersimpan di dalam hati sanubari rakyat Indonesia. Setiap ada momen yang membawa nama Indonesia di dunia internasional seperti olah raga maupun demo dari mahasiswa dan rakyat, kata-kata ‘merdeka’ tetap mengudara. Sekali merdeka tetap merdeka.

Bung Karno merupakan anak didik dari Cokroaminoto, guru bangsa ini punya tiga pengikut yang mempunyai pandangan berbeda; Soekarno dengan nasionalisme, di sosialisme ada Semaoen, dan Kartosuwiryo di bidang agama dan di kemudian hari ia sebagai proklamator Negara Islam Indonesia dengan Darul Islam (DI).

Nah, generasi saat ini; mengenal Bung Karno tentunya dengan mempelajari kisah hidup dan pemikirannya. Dari sekian banyak foto-foto peninggalan yang kita lihat tentang sosok Bung Karno, ciri khas dari Bung Karno ialah selalu memakai peci hitam yang dipadukan dengan pakaian yang rapi; baik di tanah air maupun di luar negeri Bung Karno tetap memakai peci hitam.

Apa sebenarnya makna peci hitam bagi Bung Karno? Apakah punya filosofis atau ada hal-hal yang lain? Atau pernahkah kita bertanya, kenapa Bung Karno identik dengan peci hitam?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya mendapat referensi dari penulis Roso Daras melalui bukunya dengan judul Bung Karno The Other Stories 2: Serpihan Sejarah yang Tercecer, Bandung: Imania, 2010.

Penulis buku ini mengatakan bahwa “Belum ada satu rujukan pun yang pernah saya jumpai terkait cara Bung Karno berpakaian, sejak 17 Agustus 1945 hingga maut menjemput, belum pernah sekali pun Bung Karno memakai pakaian daerah. Ini hanya statmen spekulatif, kata Roso Daras.”

Rujukan yang pernah dibaca Roso hanya berasal dari ajudan Bung Karno bernama Bambang Widjanarko. Selama menjadi ajudan, Bambang belum pernah melihat Bung Karno memakai pakaian adat daerah dan menjadi pertanyaan tersendiri. Satu kesempatan pada tahun 1964, Bambang mengajukan pertanyaan atas hal itu dan Bung Karno pun memberi penjelasan, seperti di bawah ini:

Sejak dulu sampai sekarang dan untuk seterusnya, yang sangat aku dambakan adalah kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Karena aku ditakdirkan menjadi pemimpin dan sekarang menjadi Presiden Indonesia, aku harus mengorbankan kesukuan Jawaku, untuk membuktikan kesungguhan keindonesiaanku itu. Baik resmi atau tidak resmi, siang maupun malam, aku ini tetap Presiden Indonesia, bukan presidennya orang Jawa saja. Selama aku jadi presiden, seluruh mata bangsa Indonesia akan melihat dan memperhatikanku, termasuk pakaian yang aku pakai. Itu sebabnya aku berpakaian rapi dan memakai peci hitam, yang aku harapkan menjadi ciri atau identitas bangsa Indonesia.

Peci hitam yang dipakai seperti Bung Karno benar-benar menjadi identitas bangsa Indonesia hari ini. Bagaimana tidak, apa pun suku dan agama yang dianut oleh rakyat Indonesia, mereka memakai peci hitam terlebih-lebih ketika acara formal di pemerintahan serta yang lebih hikmat lagi ialah ketika 17 Agustus datang, merah putih yang dikibarkan Paskibraka dilengkapi dengan pakaian rapi dan peci hitam.

Bung Karno menyadari bahwa Indonesia mempunyai ragam suku dan agama, dari setiap suku mempunyai pakaian daerah masing-masing dan setiap pemeluk agama juga mempunyai ciri khas pakaian tersendiri. Dari itu, sebagai pemimpin; ia harus menjadi simbol persatuan dan itu ditunjukkan Bung Karno dari cara berpakaian.

Pluralitas/keragaman yang dimiliki Indonesia merupakan suatu kekayaan bagi bangsa Indonesia, di Nusantara ada enam agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia, yaitu: Islam, Kristen (Protestan), Katolik, Hindu, Budha, dan Khong Hu Cu (Confosius). Penduduk hidup damai berdampingan di tengah kehidupan sosial.

Pluralitas agama di Indonesia memang sangat unik seperti yang ditulis oleh Amin Abdullah melalui bukunya Studi Agama: Normativitas atau Historitas? Amin menyebutkan bahwa posisi mayoritas  umat Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam hubungannya dengan pluralitas memang sangat unik.

Penganut agama Kristen-Protestan atau Kristen Katolik di benua Eropa maupun di Amerika mempunyai pengalaman keanekaragaman agama seperti di Indonesia. Hanya saja mereka menghayatinya dengan kesadaran kebudayaan Eropa atau Amerika yang sekuler, sedangkan di Indonesia dengan kesadaran keindonesiaan yang religius, demikian kata Amin Abdullah.

Bung Karno menanamkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa ada perbedaan, dengan keragaman suku dan agama Bung Karno ingin memperlihatkan kepada dunia luar bahwa dirinya adalah pemimpin bangsa, pemimpin seluruh rakyat Indonesia bukan pemimpin satu golongan saja.

Dari itu, simbol peci hitam yang dipakai Bung Karno adalah simbol persatuan dan kesatuan bangsa dan diharapkan sebagai ciri atau identitas bangsa Indonesia dan juga simbol semangat nasionalisme seluruh rakyat Indonesia.

Apa yang telah diperjuangkan Bung Karno di masa lalu maupun pejuang-pejuang bangsa lainnya dalam membangun persatuan dan kesatuan bangsa dapat kita teladani dan menjaga semangat nasionalisme dengan baik. Merdeka!