Resah karena belum menikah? Memang wajar sih.

Ah, cinta sejati selalu menarik untuk diperbincangkan.

Belakangan ini, banyak teman saya yang story WhatsApp atau Instagramnya selalu menyinggung tentang rumah tangga, jodoh, pernikahan, atau bahasan-bahasan yang mengarah ke arah situ. Mungkin maksudnya kode, ya? Kode ingin menikah atau kode ingin dilamar. Udah kayak anak pramuka aja mainnya kode-kodean.

Memang, pernikahan selalu saja menjadi perbincangan yang menarik untuk diulas, bukan? 

Beberapa teman kita pun menjawab fenomena yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan, apalagi setelah baru saja terjadi pernikahan seorang artis perempuan yang katanya tidak bisa masak mi dengan laki-laki yang baru menjalani taaruf dengannya selama dua bulan.

Ada banyak orang yang nyatanya menikah hanya sekadar memenuhi rasa “kebelet” dengan hanya bermodalkan cinta. Buktinya, angka perceraian yang dikeluarkan BKKBN sangat tinggi dikarenakan belum siapnya menikah. 

Hal ini pun berkaitan erat dengan sikap kedewasaan, faktor ekonomi, dan beberapa faktor lainnya seperti perselingkuhan dan lain-lain.

Mungkinkah pernikahan itu berlomba siapa cepat dia dapat? Coba diingat, betapa nama Bung Hatta yang masyhur ini ternyata belum menikah hingga beliau umur 45 tahun. Bahkan itu pun baru terjadi setelah kemerdekaan Indonesia terjadi.

Soekarno sempat resah ketika Bung Hatta melewati umur 40 tahun masih belum menikah walaupun Soekarno tahu pasti tabiat Bung Hatta seperti apa dan tentang ikrarnya yang tak ingin menikah sebelum kemerdekaan Indonesia terjadi. Karena Bung Hatta lebih mementingkan urusan negara dibandingkan urusan pribadi, bahkan soal pendamping hidup sekalipun.

Memang sosok Bung Hatta ini adalah pria pendiam dan sopan, sangat tertutup dalam urusan wanita. Bahkan sempat Bung Hatta dicomblangkan dengan wanita cantik Polandia oleh Soekarno. Tapi setelah selesai berkencan, wanita itu melapor kepada Soekarno bahwa Bung Hatta seperti pendeta saja karena pada saat berkencan, Bung Hatta memperlakukan wanita asal Polandia itu dengan lembut dan sangat sopan.

Pada akhirnya Bung Hatta pun menikah dengan Rahmi wanita asal bandung yang berbeda 24 tahun dengan Bung Hatta. Dan ini pun Soekarno yang melamarnya untuk Bung Hatta.

Mungkin sangat tidak elok membandingkan dulu dengan sekarang dan sekarang dengan dulu. Tapi bukankah sejarah dipelajari untuk dimaknai? 

Hati kita mungkin gelisah melihat banyak sekali pemuda-pemuda yang lembek hanya mengurusi tentang kekasih atau sekadar cinta tanpa visi, belum bisa merencanakan dan menunjukkan kontribusi besar untuk negaranya, yang beberapa memutuskan untuk melakukan pernikahan secepatnya di usia muda.

Saya jadi merasa malu atas apa yang dilakukan Bung Hatta ini sampai-sampai baru menikah pada usia 43 tahun demi memenuhi kontribusi besarnya dulu pada negara, memprioritaskan urusan bangsanya dibandingkan urusan pribadinya.

***

Kalau misalnya sudah berniat menikah, mantapkan dulu dalam hati, kenapa saya menikah? Untuk membangun keluarga kecil yang bahagia atau sedang berencana membangun fondasi yang bermanfaat untuk bangsa ini?

Menikah itu bukan hanya soal cinta saja, tapi juga visi. 

Lihatlah sosok Ridwan Kamil yang sekarang menjadi Gubernur Jawa Barat tidak lepas dari peran istrinya yaitu Atalia. Atalia adalah seorang aktif berkecimpung di sejumlah organisasi yang turut mendukung program Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar). 

Salah satunya menjadi Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jabar. Berbagai program kesejahteraan masyarakat pun ia luncurkan, antara lain Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-Cita (Sekoper Cinta) dan program Siaran Keliling (Sarling). 

Tak hanya itu, Atalia bersama TP PKK Jabar juga tengah berupaya mencari solusi permasalahan gizi buruk atau malnutrisi yang menjadi salah satu penyebab stunting. Beliau membangun Jawa Barat bersama suaminya bersama-sama. 

Bahkan Bandung pun, pada saat Ridwan Kamil dan Atalia menjadi sosok penting di sana, tampak Kota Bandung dapat meraih 267 penghargaan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kota ini menembus angka 80,13. Pertumbuhan ekonomi terjaga di angka 7,8 persen.

Pernikahan secepat kilat pun bukan masalah. Tapi silakan saja asalkan setelah membentuk keluarga bisa memberikan dampak ke lingkungan sekitar terutama untuk kenamaan besar bangsa Indonesia. Bukankah suatu masyarakat yang utuh dan besar itu dikumpulkan dari beberapa juta lingkaran keluarga di dalamnya?

Contoh pasangan yang menikah dalam usia muda tapi mereka membuktikan kesuksesan besar dengan membawa visi, seperti Ibnu Riyanto (CEO Trusmi Group) dan Sally Giovanny yang berhasil meraih rekor MURI sebagai pemilik toko batik terbesar dan terluas pada usia 23 tahun karena dia menikah setelah lulus SMA dan membangun sebuah visi besar.

Berpikir untuk bisa terus berkontribusi besar. Jangan sampai setelah menikah semangatnya makin loyo dan hanya sibuk hanya selalu mengurusi urusan kebutuhan hidup untuk keluarga saja.

Seringnya kita terlalu memikirkan apa kata orang. Nantinya malah akan berakibat pada banyaknya perceraian dan belum siap menikah karena faktor ekonomi dan kedewasaan yang masih belum matang. Karena menikah itu tanggung jawabnya besar sekali.

Memantaskan diri dan bersabar sambil berpikir keras tentang kontribusi besar apa yang akan dilakukan untuk negeri ini. Karena menikah itu harus dijadikan batu loncatan kontribusi besar apalagi sampai bisa mengharumkan nama bangsa seperti kebesaran cinta Habibie dan Ainun.

Tentang cinta dan jodoh, ingatlah apa yang dikatakan Tere Liye. "Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan.”

Cintailah seperti seseorang mencintai dirinya. Dan, yang paling penting adalah mencintai bangsa ini.

Tapi ketika menikah hanya sekadar memenuhi hasrat ingin saja, ya bagaimana juga itu?